Branding, Branding Sekolah, Marketing, Marketing Sekolah

4 Hal yang Perlu Diperhatikan saat MPLS untuk Branding Sekolah

Tulisan ini tiba-tiba muncul di benak saya dan terinspirasi dari bebera cerita Whatsapp yang saya buka sembari mendengarkan podcast. Daftar Isi hide...

Written by Bang Ridlo · 3 min read >

Tulisan ini tiba-tiba muncul di benak saya dan terinspirasi dari bebera cerita Whatsapp yang saya buka sembari mendengarkan podcast.

Melihat beberapa status di beranda Facebook juga serupa, yakni menyiapkan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) sebagai penanda tahun ajaran baru yang kebanyakan dimulai hari ini.

Saya pun tergelitik untuk menyimak sejauh manak kegiatan MPLS ini bisa memberikan dampak pada aktivitas branding sekolah.

Branding sekolah merupakan sekumpulan aktivitas dan upaya untuk menanamkan persepsi unik dan menarik tentang layanan sekolah kita. Ia menjadi diferensiasi (pembeda) dan positioning (karakteristik unik) sekolah kita dengan sekolah lain.

Maka muncul pertanyaan di pikiran saya dan mungkin anda juga perlu menjawabnya,

“Kira-kira aktivitas apa di MPLS tahun ini yang bisa menceritakan nilai-nilai (yang menjadi pembeda dan unik) sekolah kita dan berhasil membangun persepsi di benak walimurid baru atau walimurid lama?”

Jawaban dari pertanyaan di atas menurut saya menjadi penting, jika anda ingin menciptakan ‘sesuatu‘ yang baru dan berhasil terkomunikasi dan diterima dengan baik oleh walimurid kita.

Motif lain di balik serangkaian aktivitas MPLS yang kita laksanakan tentu bukan hanya ‘memperkenalkan‘ sekolah kita kepada murid baru dan walimurid baru. Untuk walimurid lama, tentunya mereka juga tertarik tentang ‘apa yang baru‘ dari sekolah ini?

Jika, tidak ada yang baru dan menarik dari sekolah kita lalu kemudian mereka mendengar dari orang lain tentang ‘cerita menarik‘ dari sekolah lain, kira-kira apa yang terjadi menurut anda?

Dampaknya bisa ada dua, pertama tidak ada perubahan apapun pada persepsi wali murid lama. Artinya, seperti rutinitas tahun ajaran baru biasa seperti tahun-tahun lalu. Adapun walimurid baru, mencoba merasionalisasi persepsi yang mereka gambarkan saat mereka mendaftarkan putra/putri mereka di sekolah kita. Jika ekspektasi mereka terjawab bahkan layanan pendidikan yang anda sajikan di MPLS ini di atas ekspektasi mereka, maka aktivitas branding dan marketing yang nanti anda rencanakan bisa saya garansi akan lancar.

Kedua, boleh jadi saat mereka membandingkan aktivitas MPLS di sekolah kita dan sekolah lain dan mendapati sekolah lain memiliki ‘cerita yang lebih menarik‘, maka akan muncul pergeseran persepsi yang justru menurunkan citra sekolah kita dibandingkan dengan sekolah lain. Jika walimurid kita termasuk walimurid yang loyal, boleh jadi bergeser sedikit. Tetapi tidak terlalu kelihatan. Sedangkan bagi walimurid yang ‘biasa saja‘ boleh jadi malah mengelu-elukan sekolah lain di pembicaraan antar walimurid.

Menurut kacamata pakar branding dan marketing, ini adalah awal sinyal bahaya.

Dimana kita gagal membangun persepsi tentang brand sekolah kita saat momen spesial seperti MPLS ini. Oleh karena itu, ada beberapa tips dan ajuan ide dari saya yang bisa anda pertimbangkan selama masa MPLS ini agar memberi dampak positif untuk brand sekolah anda.

1. Buat Aktivitas yang Berhubungan dengan Value (Nilai) yang Sekolah/Lembaga Miliki.

Mudahnya, coba periksa jadwal MPLS anda. Apakah sudah ada aktivitas kegiatan yang memungkinkan nilai-nilai sekolah atau lembaga terkomunikasi dengan baik kepada murid dan walimurid? Jika sudah ada, seperti apa bentuknya? Apakah sudah cukup membuat mereka memahami  nilai-nilai yang sekolah anut?

Nilai-nilai ini juga berhubungan dengan diferensiasi dan positioning sekolah. Contoh: Kita mengatasnamakan sekolah kita sekolah calon pemimpin dan enterpreneur, apakah sudah ada aktivitas yang berhubungan dengan membangun karakter kepemimpinan dan enterpreneur dalam jadwal MPLS kita?

2. Bangun dan Perkuat Engagement Sekolah dengan Walimurid

Percayalah bahwa tidak ada yang lebih memudahkan kita memasarkan sekolah kita jika semua walimurid kita puas dan terlayani dengan baik.

Walimurid yang bahagia dan puas, akan dengan serta merta tanpa pamrih ikut mempublikasikan kepuasan mereka kepada siapapun yang mereka temui.

Ini adalah strategi yang manjur dan tidak lekang oleh waktu. Kita menyebutnya marketing dari mulut ke mulut.

Maka, di masa MPLS ini berikan porsi kegiatan dan aktivitas yang memungkinkan terbangun hubungan yang positif antara sekolah dan walimurid, terutama walimurid baru.

Setidaknya, anda perlu menyampaikan pada panitia MPLS, kira-kira aktivitas apa yang membuat walimurid baru dan lama mendapatkan pengalaman baru di sekolah kita?

Kegiatan yang paling umum biasanya dilakukan sekolah adalah pertemuan antara walikelas dan walimuridnya. Selain memperkenalkan walikelas yang menjadi penanggung jawab kelas, sekaligus membangun kedekatan.

Edukasi parenting juga perlu menjadi pertimbangan untuk dilakukan. Sebab, hampir semua sekolah besar dan sukses di dalamnya terdapat walimurid yang proaktif, walimurid yang peduli dengan pendidikan anak-anaknya dan mau terlibat untuk ikut menyukseskan program yang dirancang sekolah.

3. Buatlah Aktivitas MPLS yang Berkesan bagi Murid

Seringkali aktivitas MPLS hanya berkutat pada hal-hal yang tampak dan berbau prosedural di kelas ataupun di sekolah. Peraturan demi peraturan dijabarkan sedemikian rupa.

Sayangnya, kemudian sedikit melupakan bahwa mereka (murid baru dan lama), adalah anak-anak yang baru datang setelah mengalami berbagai macam cerita (semasa liburan).

Ekspektasi mereka beraneka ragam berikutserta dengan kesiapan mereka masuk ke sekolah di hari pertama ini.

Anda bisa bayangkan jika aktivitas MPLS yang mereka ikut mulai hari ini hanya berkutat pada pengenalan fasilitas dan peraturan-peraturan yang jumlahnya seolah tidak terhitung, beserta konsekuensinya pula jika aturan tersebut dilanggar.

Bayangkan juga jika pada MPLS tahun ini, membuat mereka begitu ingin segera memulai kelas dan bertemu dengan walikelas barunya. Mereka begitu antusias untuk mengikuti serangkaian aktivitas yang dirancang setiap guru di masing-masing pembelajaran.

“Apa yang baru dari sekolah kita?”, Begitu pertanyaan dari murid lama.

“Apa sih yang menarik dari sekolah ini? Apa bedanya dengan sekolahku dulu?”, Begitu pula pertanyaan dari murid baru.

4. Optimalkan Bentuk Publikasi MPLS

Biasanya setelah MPLS menjelang usai, para murid berfoto dengan walimuridnya di depan kelas, di depan halaman sekolah atau di spot-spot yang menarik.

Pertanyaannya, foto selfie ataupun swafoto tersebut apakah berdampak pada persepsi oranglain yang melihatnya?

Kita perlu melakukan dokumentasi foto dan video yang benar-benar menceritakan sisi menarik dari MPLS sekolah kita. Lalu, dengan dokumentasi tersebut muncul persepsi-persepsi unik dari orang lain yang menemukannya di media sosial, terlebih lagi saking menariknya kegiatan MPLS kita bisa diliput oleh media. Kita menyebutnya viral.

Maka, hindari publikasi hanya semata-mata foto selfi. Alih-alih mempublikasi foto-foto selfi, perlu kita rancang dan sepakati foto dan video yang benar-benar “bercerita” tentang sisi menarik dan uniknya MPLS di sekolah kita di media sosial dan website sekolah.

Bagaimana menurut anda? Sudahkan ke 4 hal ini menjadi pertimbangan anda di momen MPLS tahun ini? Adakah hal lain yang mungkin perlu saya tambahkan di tulisan ini?

Semoga bermanfaat..

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published.