5 Pelajaran Penting Excellent Service Pedagang Sayur

Bang Ridlo

Inspirasi ini saya peroleh saat mengobrol ringan dengan Pak Min, seorang pedagang sayur keliling komplek perumahan saya.

Inti dari diskusi ini adalah bagaimana excellent service sebagai seorang penyedia barang dan jasa kepada pelanggannya. Harapan saya ini bisa menjadi refleksi kita sebagai penyedia jasa pendidikan baik ditataran unit sekolah maupun di manajemen yayasan pendidikan.

Mungkin anda agak sedikit mengernyitkan dahi, seperti bukan apple to apple, atau komparasinya sangat berbeda.

Jika dilihat dari bentuk produk yang ditawarkan, tentu tidak apple to apple. Tapi, jika bicara lebih umum tentang ‘bagaimana memberikan layanan’ saya merasa ini masih sangat relevan.

Ada beberapa aspek yang bisa saya ambil dari bagaimana seorang Pak Min ini memberikan best experience kepada pelanggannya. Sehingga tercipta loyalitas yang sangat kuat diantaranya adalah:

1. Memberikan Produk Terbaik

Jika bicara tentang barang dagangan berupa sayur mayur beserta bumbu-bumbunya, tentu kita membayangkan bentuk sayur yang masih hijau dan segar, bersih, dan tentu saja kualitas lain yang menjadi pilihan utama kita. Begitupun di dagangan yang dibawa oleh Pak Min ini. Sayur mayur sebelumnya sudah diikat rapi, dan dipastikan masih segar.

Untuk lauk pauknya pun demikian, ikan-ikan yang ditawarkan sudah dibersikan dan dibungkus dengan plastik. Begitupun untuk buah seperti buah Duku yang mudah menghitam jika terlalu banyak dipegang. Semua sudah tersimpan dalam plastik rapi dan bersih.

Jika bicara layanan prima, ini berhubungan dengan aspek tangible (aspek yang tampak). Jika Pak Min saja, memastikan apa yang ditampilkan oleh produknya bersih dan rapi, bagaimana dengan sekolah kita?

Tampilan gedung, kebersihan kelas, kerapian setiap ruangan, serta raut wajah security sampai Ibu-ibu penjaga kantin menjadi aspek tangible yang perlu kita pastikan dalam keadaan indah dan menarik.

Ini bukan hanya tentang tampak mahal. Tetapi, tampak bersih rapi dan indah bukankah menjadi penilaian tersendiri walimurid atau orang yg berkunjung ke sekolah kita?

Saya paling hobi me-review toilet sekolah. Menurut pendapat pribadi saya, jika toilet sekolah saja bersih, kering, wangi, tersedia sabun dan lain-lain. Maka, asumsi saya, sekolah ini pasti menyajikan dan menawarkan layanan pendidikan yang bermutu. Meskipun ini hipotesis, hampir 95% hipotesa ini terbukti. Andapun boleh membuktikannya.

2. Memberikan Bonus Tidak Terduga.

Suatu saat, saat saya berbelanja dan membutuhkan laos dan sereh. Pak Min dengan entengnya menjawab,

“Ini tidak usah bayar Pak!”,

lalu saya tanya balik, “Lho, kenapa Pak?”,

“Tidak apa2 Pak, saya lagi seneng berbagi saja!” (sembari bercanda tertawa kecil).

Kejadian ini tidak jarang, alias sering sekali. Meskipun sederhana dan mungkin secara rupiah tidak terlalu besar. Kejutan-kejutan berupa hadiah kecil ini tentu bermakna untuk pelanggannya.

Anda tentu juga ingin menjadi langganan Pak Min kan, jika mendapatkan hadiah kejutan sederhana ini??

Nah, lalu pertanyaannya bagaimana dengan sekolah kita? Pernahkah kita memberikan hadiah kecil dan sederhana kepada walimurid yang sudah mempercayakan bertahun-tahun putra-putrinya kepada sekolah kita. Mereka memilih sekolah kita diantara sekolah-sekolah lain yang mungkin secara kualitas di atas kita?

Boleh jadi selama ini, kita agak ‘perhitungan’ alias ‘pelit’ dalam memberikan hadiah-hadiah kecil dan sederhana kepada mereka, sehingga mereka mudah kecewa dan mengirimkan surat komplain ke kepala sekolah.

3. Komunikasi yg Santun & Menyenangkan.

Cara Pak Min dalam membangun hubungan dengan penduduk baru seperti saya ini boleh jadi pelajaran sederhana dan penting.

Meskipun dari sisi usia beliau lebih senior, namun tidak canggung menggunakan bahasa jawa yang lebih halus meskipun tidak semua kalimat.

Sembari mengajak berkomunikasi, beliau menunjukkan rasa empati dengan sesekali bertanya tentang kesibukan serta mengapa saya jarang muncul dan beliau menunjukkan raut empatik saat saya menceritakan bahwa kemarin sedang dilanda demam.

Belum lagi jika sedang lewat di rumah (berhenti sejenak), sesekali melemparkan guyonan (bercandaan) yg sederhana tapi membuat jarak antara saya dna beliau menjadi berkurang.

Apakah di sekolah anda juga demikian? Meskipun walikelas baru, atau security baru atau kepala sekolah baru membangun komunikasi efektif dan mendekatkan orang yang kita ajak komunikasi?

Terlebih lagi berkomunikasi dengan walimurid. Apakah selama ini, kita berkomunkasi sebatas antara hubungan profesional walimurid dan walikelas? Atau terbangun komunikasi yang empatik?

Ataukah, selama pandemi ini kita semakin merasakan tuntutan walimurid semakin menjadi-jadi karena kita gagal membangun komunikasi yang empatik dengan mereka?

4. Profesional

Oke, jangan salah. Meskipun Pak Min menjajakan produknya, beliau juga melayani pre order. Ini semacam layanan, jika saya besok berencana untuk memasak rawon Iga misalnya, saya bisa menyampaikannya kepada Pak Min untuk disiapkan bahan-bahannya.

Daan voilaaa..Besok pagi bahan-bahan yang saya butuhkan sudah tergantung di depan pagar.

Sebelumnya saya usil bertanya, bagaimana jika banyak yang melakukan pemesanan seperti saya? Beliau lalu menjawab, “Dicatat disini Pak!”, sambil menunjukkan buku catatan titipan belanjaan.

Beberapa kali melakukan pre order dengan Pak Min, belum pernah saya merasa kecewa. Sebab, bahan-bahan pesanan saya selalu dalam keadaan prima (masih segar dan lengkap).

Nah, bagaimana di sekolah kita? Apakah kita sudah benar-benar serius untuk membuktikan janji kita kepada walimurid saat mereka hendak menitipkan putra-putrinya di awal tahun pelajaran? Apakah kita saat dikelas, benar-benar menunjukkan keprofesionalisme kita dengan perangkat pembelajaran yg lengkap, media yang dibuat sempurna serta desain proses pembelajaran yg optimal?

Apakah selama ini, kita sebagai pimpinan benar-benar menunjukkan kapasitas dan kapabilitas kita dalam memimpin sekolah ini seperti janji profesional kita kepada pimpinan kita?

Atau sebagian dari kita masih merasa, apa yang kita usahakan sekarang masih harus dibandingkan dengan nilai transferan yang masuk di rekening kita bulanan? Padahal kita telah meyakini bahwasanya ada Sang Maha Pemberi Rezeki yang tidak akan pernah gagal dalam membuktikan ke-Maha Adil-Nya.

5. Pendengar yg Baik.

Satu saat, Bapak Mertua saya ingin dimasakkan Kwetiau goreng. Saya pun berinisiatif untuk melakukan pre order kepada Pak Min agar besok bisa dibawakan Kwetiau 2 bungkus.

Beliau pada awalnya ragu, karena ternyata tidak pernah mendengar istilah Kwetiau, lalu saya pun menceritakan bentuk dan jenisnya. Sampai akhirnya saya merekomendasikan untuk Pak Min menyetok tiap hari Kwetiau ini.

Setelah beberapa saat dan bertemu dengan beliau, lalu saya bertanya, “Bagaimana Pak, Kwetiau-nya laku??”, “Alhamdulillah, ternyata laris manis Pak!”

Jika Pak Min saja, mendengar rekomendasi saya lalu kemudian mengujicobakan dan berhasil. Bagaimana dengan sekolah kita?

Sudahkah setiap ide, gagasan, suara dari walimurid kita menjadikan sekolah kita menjadi lebih baik lagi?

Adakah usulan-usulan guru-guru, pegawai, atau siswa-siswi kita tampung dan dilakukan demi kepuasan mereka sebagai bagian dari sekolah yang kita cintai ini?

Tidak mudah menjadi pendengar yang baik, sebab kita pun saat mendengar orang lain berbicara terlebih lagi memberikan ide, ego kita bermain disana. Pengalaman, usia, dan hal-hal lain yang menjadikan kita agak ‘budeg’ akan usulan mereka.

Merasa seolah-olah pengalaman kita selama ini, prestasi kita selama ini jauh lebih baik dari usulan-usulan mereka.

Padahal kita telah memahami bahwasanya organisasi yg mengalami kemunduran dan kehancuran, adalah organisasi yang miskin inovasi, menutup celah gagasan baru dan ide-ide baru dari lingaran dalam organisasi itu sendiri.

Nah, bagaimana menurut anda kawan? Apakah pelayanan dari Pak Min ini membuat anda terinspirasi untuk juga merefleksikan bagaimana layanan sekolah kita selama ini diberikan kepada walimurid kita?

Semoga apa yang saya temukan dalam Pak Min ini membawa manfaat dan kebaikan untuk kita dan lembaga yang kita cintai. Aaamiiin..

Oh ya, jika anda punya insight menarik seputar pendidikan, boleh juga berbagi melalui email: me@mridlo.com agar bisa saya terbitkan di blog ini dan memberikan inspirasi untuk teman-teman kita lainnya. Sampai jumpa!

0

Share on:

Leave a Comment