Apa itu branding sekolah?

 

Ada banyak sekali definisi branding, salah satu definisi branding menurut American Marketing Association adalah sebagai berikut:

“Sebuah merek adalah nama, istilah, desain, simbol, atau fitur lainnya yang mengidentifikasi barang atau jasa satu penjual sebagai berbeda dari penjual lain”

“Branding memberikan produk dan layanan dengan kekuatan merek” (Kotler & Keller, 2015)

Penjelasan lebih jauh, branding adalah proses memberi makna pada organisasi, perusahaan, produk atau layanan tertentu dengan menciptakan dan membentuk merek di benak konsumen.

Ini adalah strategi yang dirancang oleh organisasi untuk membantu orang mengidentifikasi dan merasakan merek mereka dengan cepat, dan memberi mereka alasan untuk memilih produk mereka daripada produk pesaing, dengan mengklarifikasi apa merek ini dan bukan.

Tujuannya adalah untuk menarik dan mempertahankan pelanggan setia dan pemangku kepentingan lainnya dengan memberikan produk atau jasa yang selalu selaras dengan apa yang dijanjikan merek (brand).

Lalu, bagaimana dengan branding sekolah?

Definisi Branding Sekolah

Jika kita definisi branding di atas, maka bisa simpulkan sementara branding sekolah adalah proses untuk menciptakan persepsi unik dan menarik di benak masyarakat khususnya walimurid yang menjadi nilai pembeda (diferensiasi) dengan sekolah lain serta bertujuan untuk mempertahankan loyalitas walimurid.

Tahapan Branding Sekolah

Mengambil contoh dari konsep branding dari Hermawan Kertajaya, branding sendiri merupakan proses atau perjalanan dari customer dalam hal ini walimurid.

Konsep ini dikenal dengan 5A Customer Path

Sumber gambar: binus.ac.id

1. Aware

Pada tahap ini, branding sekolah berkutat pada bagaimana cara menyebarluaskan informasi tentang sekolah sebanyak mungkin dan indikator keberhasilannya adalah masyarakat khususnya calon walimurid yang menjadi target kita menyadari keberadaan sekolah kita (brand sekolah).

Definisi lain mungkin yang anda kenal dengan istilah publikasi. Pada tahap ini channel (saluran) yang digunakanpun bervariatif, tergantung dari bagaimana karakteristik dari calon walimurid yang dibidik.

2. Appeal

Pada tahap ini target kita, calon walimurid telah mengetahui eksistensi sekolah kita dan mulai tertarik. Bisa setelah mereka menemukan brosur yang terunggah di media sosial, brosur yang disebar ataupun spanduk yang terpasang di tepi jalan.

3. Ask

Setelah target kita mengetahui sekaligus tertarik, mereka akan melakukan investigasi dengan bertanya lebih lanjut.

Oleh karena itu, penting sekali dimedia publikasi atau pemasaran terdapat nomor kontak atau cara untuk mendapatkan informasi lebih detil. Bisa dengan nomor kontak, nomor telp sekolah, email, website ataupun yang lainnya. Sekali lagi disesuaikan dengan karakteristik dari target.

4. Act

Pada tahap ini berarti calon walimurid kita telah melakukan pendaftaran ke sekolah kita. Tahap ini meskipun sudah bisa dikatakan pendekatan marketing kita telah berhasil. Namun, perjalanan customer belum selesai.

Mengapa? Karena buktinya, banyak sekali organisasi maupun perusahaan yang berakhir kolaps meskipun telah memiliki jumlah closing yang cukup banyak. Oleh karena itu, prinsip layanan prima menjadi pondasi yang harus dipenuhi oleh sekolah atau lembaga untuk mempertahankan tahap ini, dan harapannya bisa bergeser ke tahap berikutnya.

5. Advocate

Tahap ini menjadi jawaban, mengapa 4A saja tidak cukup untuk membuat sekolah maupun lembaga bisa mempertahankan walimurid. Mereka harus bisa kita ajak dan arahkan untuk menjadi advocate atau menjadi agen publikasi, yang bahasa kerennya endorser atau influencer kepada lingkaran terdekat walimurid kita.

Indikator keberhasilan dari tahap ini adalah seberapa banyak walimurid kita yang dengan ikhlas dan bahagia turut serta aktif dalam sosialiasi program, layanan maupun kegiatan publikasi lainnya. Semata-mata bukan untuk mendapatkan insentif tambahan, tetapi memang mereka benar-benar ingin menjadi bagian dari penyeru atas kepuasan yang mereka peroleh selama ini.

Jika tahap ini berhasil, maka tidak ada peluang kompetitor menjadi tidak berarti lagi.

Nah, jika kita mengulas kembali 5A di atas, maka kembali ke definisi awal tadi branding sekolah adalah sebuah proses panjang. Mulai dari Aware sampai Advocate. Branding sekolah tidak selesai pada Act, dimana PPDB terpenuhi, jumlah kelas yang disediakan penuh atau bahkan sudah menolak-nolak.

Jika kita gagal mengelola walimurid kita dan gagal menggesernya ke advocate, maka peluang mereka memilih brand sekolah lain sangat terbuka lebar.

Lalu, mulai dari mana branding sekolah ini dilakukan? Simak di artikel selanjutnya. Bagaimana pengalaman anda selama ini disekolah? Boleh kita diskusikan di panel komentar di bawah.

Semoga tulisan sederhana tentang branding sekolah ini bermanfaat.

Leave a Reply

Item added to cart.
0 items - Rp0
%d bloggers like this: