Branding, Branding Sekolah

Bagaimana Sekolah Bertahan di Masa Pandemi (Sudut Pandang Branding Sekolah)

Bahasan ini terinspirasi dari obrolan saya dengan ibu mertua yang saat ini diamahkan menjadi pengawas TK di salah satu kecamatan di Sidoarjo....

Written by Bang Ridlo · 1 min read >
yellow petaled flower in white mug

Bahasan ini terinspirasi dari obrolan saya dengan ibu mertua yang saat ini diamahkan menjadi pengawas TK di salah satu kecamatan di Sidoarjo.

Obrolan yang saya sendiri awalnya darimana. Tetapi, yang paling saya ingat adalah saat saya bertanya bagaimana kondisi sekolah (khususnya PAUD) di masa pandemi begini.

Saya sendiri berasumsi, betapa besar tantangan yang dihadapi teman-teman yang ada di jenjang PAUD. Pemasukan tidak besar, walimurid yang mulai ‘menyerah’ dan memilih tidak melanjutkan pembelajaran di sekolah, fasilitas yang kurang memadai dan lain-lain.

Ibu mertua saya pun, membenarkan sebagian asumsi saya. Sebab, tidak sedikit PAUD yang akhirnya tutup (tidak beroperasi) karena ketiadaan biaya operasional dan jumlah minimum peserta didik yang diampu.

Tetapi ada hal menarik yang disampaikan beliau, bahwa ada satu sekolah (PAUD) yang memang struggle (baca: berjuang dengan gigih) dalam transformasi pembelajaran era new normal. Namun, untuk pemenuhan PPDB sudah teratasi dan bahkan telah selesai dengan meninggalkan sejumlah calon peserta didik yang tidak kebagian.

Artinya, rasio kuota dan pendaftar cukup tinggi.

Nah, apa rahasianya?

Ini salah satu bagian penting dari branding sekolah (menurut saya pribadi). Yakni, masyarakat sekitar melihat, merasakan dan memahami betul struggle-nya para guru PAUD yang ada di sekolah tersebut saat melaksanakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Beliau juga menyampaikan bahwa, guru-guru di sekolah ini yang paling bersemangat saat diberikan penguatan dan pendampingan bagaimana menyelenggarakan PJJ untuk PAUD.

Mereka masuk jajaran peserta yang paling antusias dalam mengerjakan projek, tugas, ataupun RTL (Rencana Tindak Lanjut) pasca pendampingan dari pengawas.

Tidak sedikit pula yang rela meluangkan waktunya di akhir pekan untuk datang kerumah dan mendiskusikan inovasi-inovasi pembelajaran.

Atmosfir positif ini, ditangkap oleh walimurid yang ada.

Walimurid yang puas, tentu menyebarkan kabar berita positif ini ke lingkaran terdekat mereka. Belum lagi jika ada walimurid yang punya jaringan. Kabar berita ini, tentu sudah menyeruak ke penjuru jaringannya.

Apa yang terjadi?

Seperti yang kita tahu, orang Indonesia ini paling cepat menyebarkan berita dari pintu ke pintu, dari mulut ke mulut dengan kecepatan yang tidak bisa diprediksi.

Masyarakat sekitarpun menangkap citra positif yang terbangun dari aktivitas dan ketulusan para guru tersebut dalam menyelenggarakan layanan pendidikan.

Ingat, bahwa branding sekolah bertujuan menciptakan dan membangun citra di benak walimurid dan masyarakat. (baca di artikel berikut)

Jika dirumuskan sederhana, citra positif (brand sekolah) terbangun sedemikian rupa dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan oleh orang-orang yang ada di sekolah.

Usaha tidak akan menghianati hasil.

Jadi, jika anda ingin membangun brand sekolah di masa krisis seperti ini, bangunlah budaya optimis, antusias dan inovasi di sekolah. Sebab, hanya dari kualitas layanan pendidikan yang terbangun dengan baik, akan menjadi citra (brand) sekolah yang akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas pormosi (marketing) sekolah.

Budaya positif, berdampak positif pada brand sekolah. Begitupun sebaliknya.

Jadi, budaya apa yang sedang terbangun di sekolah kita?

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Leave a Reply