Menciptakan Profesionalisme dari Media Sosial

Bang Ridlo
Latest posts by Bang Ridlo (see all)

Bagaimana memberikan kesan profesionalisme lembaga di era serba digital?

Mungkin anda pernah bertanya tentang hal ini. Jika aspek tampilan fisik menjadi salah satu dimensi dalam layanan yang prima. Bagaimana kita bisa menyajikan tampilan fisik dengan platform non fisik (digital)?

Ada 2 hal yang bisa kita lakukan untuk menciptakan persepsi profesionalisme lembaga dengan:

1. Profesinalisme Melalui Informasi & Konten Berkualitas

Sumber: kidsactivitiesblog.com

Informasi berkualitas ini berarti kita menyajikan informasi seputar sekolah, bak berupa kegiatan maupun aktivitas rutin di sekolah dengan menarik.

Seringkali kita hanya sekedar menceritakan kegiatan dari sudut pandang kita sebagai pembuat konten, namun pernahkah anda memposisikan diri sebagai pembaca awam yang kebetulan menemukan postingan di media sosial?

Sederhananya begini, saat kita ingin menceritakan dalam bentuk dokumentasi kegiatan sekolah, misal tentang aktivitas peserta didik selama bulan Ramadhan.

Jika kita hanya terpaku pada sudut padang tim dokumentasi belaka, kita hanya sekedar membuat postingan yang berisi foto-foto, video beserta keterangan sederhana tentang apa, siapa dan dimana kegiatan tersebut dilakukan.

Untuk meningkatkan kualitas dari konten yang kita buat tersebut, kita perlu mengajukan pertanyaan berikut:

  • Apa manfaat yang bisa diperoleh pembaca setelah membaca dan melihat postingan ini?
  • Informasi menarik apa yang bisa membuat pembaca terus membaca dan ‘penasaran’?

Dua pertanyaan ini akan membuat kita menyusun ulang kembali ‘cerita’ seperti apa yang ingin kita sajikan dalam konten tersebut.

Contoh: Kegiatan Ramadhan kali ini mengundang Ustadz Kareem yang membahas tentang bagaimana puasa seseorang ditolak oleh Allah SWT. Beliau menjelaskan dengan mengutip hadist Nabi yang menceritakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW suatu ketika mengaminkan sebanyak 3x seusai shalat Idul Fitri. Kemudian Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW atas tindakan beliau. Lalu, Nabi SAW menjawab, “Tadi sehabis shalat, datang malaikat Jibril kepadaku. Beliau berkata, ‘Ya Muhammad, saya mau berdoa kepada Allah SWT, maukah engkau mengamini?’ Aku jawab ‘Tentu ya Jibril’,”. Jadi ada 3 golongan umat yang Jibril mendoakan agar tidak diterima amal puasanya kemudian di-aminkan oleh Nabi. (1) Anak yang durhaka kepada orangtua, (2) Istri yang durhaka kepada suaminya (3) Muslim yang tak mau memaafkan saudaranya sesama muslim. Ustadz Kareem kemudian memberikan penutup berupa pesan kepada para jama’ah untuk memperhatikan doa Jibril tersebut dan berusaha agar tidak menjadi bagian dari golongan umat tersebut.

2. Profesionalisme Melalui Visual Berkualitas

Media sosial dibanjiri berbagai jenis konten. Jika dalam pelayanan prima aspek tampilan fisik menjadi dimensi seberapa berkualitas layanan yang kita berikan.

Maka, di era digital sekarang kita perlu memastikan beberapa aspek visual ini menjadi pertimbangan:

  • Foto Berkualitas dan ‘Bercerita’ Saat kita berusaha menyampaikan pesan, tentu perlu dikuatkan dengan foto dan video yang jelas, dalam hal ini berarti: gambarnya jelas, resolusinya bagus (tidak buram), komposisi warna dan foto atau video tersebut mengandung pesan yang tersirat ataupun tersurat.
  • Desain Feed yang Profesional Dalam era yang serba maya ini, untuk mengukur dan melihat seberapa profesional suatu organisasi bisa dilihat dari bagaimana mereka memperdulikan aspek tampilan. Artinya, desain di media sosial dalam bentuk feed, story, ataupun video pendek menimbulkan persepsi tersendiri. Jika dari sisi warna, tipografi, tata letak desain tersebut terasa janggal, tidak menarik bahkan salah mengirimkan pesan. Maka, persepsi yang terbangun juga demikian. Sekolah kita dipersepsikan sekolah yang ‘biasa’ saja, atau bahkan sekolah yang ‘kurang profesional’. Sebab, dari tampilan media sosial saja tidak ‘profesionall’, apalagi layanannya. Meskipun penilaian ini cukup subyektif, namun secara umum persepsi yang terbangun di benak orang-orang yang awam (belum tahu betul tentang sekolah kita) demikian adanya. Sekali lagi, dari tampilan media sosial, tingkat profesionalitasan lembaga kita dipersepsikan. Selain menguatkan pesan yang ingin disampaikan, persepsi sekolah kita memberikan perhatian serius dalam layanan pendidikan bisa dilihat dari seberapa profesional desainnya.

Sebagian besar orang menilai bahwa di media sosial dan beberapa platform lainnya memang digunakan untuk melakukan ‘pencitraan‘.

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut, sebab tidak bisa dipungkiri dunia media digital adalah sarana tercepat dan termudah untuk melakukan ‘pencitraan’.

Meskipun agak terasa kurang positif, namun dengan karakteristik media yang sedemikian rupa mesti bisa kita manfaatkan untuk membangun brand sekolah melalui citra yang dibangun secara sengaja (baca: profesional).

Tidak heran, masyarakat umum menilai lembaga profesional atau tidak juga menggunakan kacamata media sosial dan internet. Seperti seseorang yang menuliskan kata kunci, “apakah penjual X penipu?” di mesin pencari sebelum ia memutuskan untuk membeli produk X tersebut.

Sekaran pilihan ada di kita sebagai pengampu kebijakan di sekolah, apakah tetap menganggap media sosial dan teman-temannya hanyalah sarana pencitraan yang dilakukan orang-orang. Atau kita justru memenuhi konten di media sosial dengan konten positif dan bermanfaat sekaligus membangun citra sekolah atau lembaga kita?

Bagaimana menurut anda, apakah tampilan informasi dan visual sekolah kita di media sosial sudah cukup ‘profesional’ atau membutuhkan sentuhan profesional yang sebenarnya?

0

Share on:

Leave a Comment