Guru, Guru Milenial, Pendidikan

10 Hal yang Perlu Dilakukan Guru di Pekan Pertama Masuk Sekolah

Saat tulisan ini dibuat, bersamaan dengan momentum MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Beberapa sekolah malah sudah memulainya pekan sebelumnya. Daftar Isi hide...

Written by Bang Ridlo · 5 min read >

Saat tulisan ini dibuat, bersamaan dengan momentum MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Beberapa sekolah malah sudah memulainya pekan sebelumnya.

Jika tulisan kemarin berkaitan dengan bagaimana mengoptimalkan MLPS untuk branding sekolah, maka tulisan kali ini saya tujukan kepada teman-teman pendidik terutama yang tahun ini diamanahi sebagai walikelas baru.

Beberapa pengalaman melakukan supervisi kelas, hal krusial yang berkaitan dengan manajemen kelas seharusnya bisa dicegah dan diantisipasi saat momen MPLS ini. Sebab, jika dilakukan upaya perbaikan saat proses pembelajaran berlangsung, sifatnya bisa menjadi sementara saja. Sedangkan, akar atau penyebab utama cukup sulit diselesaikan.

Maka, agar tidak terjadi hal yang demikian saya merekomendasikan 10 hal ini perlu dipertimbangkan dilakukan di pekan pertama masuk sekolah:

1. Menyapa & Mengenal Siswa Anda

Tak kenal maka tak sayang, pepatah lama yang senantiasa menjadi ukuran bagaimana seseorang tidak akan ‘sayang’ jika tidak ‘kenal’ sebelumnya.

Saya meyakini, anak-anak adalah cermin dari pikiran, perasaan dan perilaku kita. Jadi, tingkah laku mereka, tindak-tanduk mereka, adalah pantulan dari apa yang kita pikirkan, rasakan dan lakukan terhadap mereka.

Mudahnya begini, jika di hari pertama atau pekan pertama masuk sekolah kita belum-belum sudah berperasaan, “Wah, sudah masuk sekolah! Baru saja liburan. Liburanku tidak terasa, eh tahu-tahu uda masuk!”. Perasaan kita yang seolah belum siap masuk sekolah dan menyambut mereka.

Tentu akan berbeda jika kita di hari pertama atau pekan pertama ini berusaha untuk menyapa mereka satu-persatu, menyebut namanya (sembari menghafalkannya), dan mengenal lebih dekat tentang mereka (apa yang disukai, apa film favorit mereka, tokoh inspiratif mereka, dll).

Sebagai walikelas (jika anda mengampunya sekarang), menurut saya WAJIB untuk menyapa satu-persatu, memberikan hak mereka disapa serta mengenal mereka sejak hari pertama masuk sekolah.

Tidak ada yang membahagiakan bagi murid, jika gurunya, walikelasnya memberi perhatian kepada mereka. Percayalah! Anda akan senantiasa dirindukan mereka jika anda melakukan ini.

2. Rancang Aktivitas dan Program yang Jelas

MPLS mungkin sudah dirancang dan didesain oleh sekolah melalui kebijakan pimpinan. Namun, tidak menutup kemungkinan sebagai guru kelas atau walikelas ataupun guru bidang studi untuk membuat serangkaian aktivitas yang membuat mereka lebih kenal dengan anda dan apa yang anda tawarkan kepada mereka (pengetahuan, keterampilan dll).

Bisa jadi dari pihak sekolah telah menentukan jadwal yang cukup padat kepada para murid. Anda pun tentu memiliki cara dan strategi untuk menuntaskan jadwal tersebut sekaligus memberikan pengalaman yang berbeda.

Saya biasanya, di awal tahun ajaran baru selain menjelaskan matrikulasi materi dan kegiatan 1 semester ke depan kepada anak-anak di kelas. Saya memastikan mereka tidak hanya mendapatkan kisi-kisi materi belaka. Tetapi juga, hal-hal menyenangkan apa yang bisa mereka peroleh dan dapatkan jika mengikuti program yang dirancang 1 semester ke depan dengan antusias dan aktif.

Sayapun merancang selama MLPS kegiatan menyenangkan, semi outbound atau aktivitas fisik yang memungkinkan mereka bersenang-senang (tentunya bisa anda sesuaikan dengan jenjangnya). Untuk anak kelas III dan IV biasanya saya bermain peran, menyanyi (saya membawa gitar), serta aktivitas bersama yang dilakukan dengan teman-teman satu kelas.

Hindari kekosongan waktu yang membuat mereka seolah tidak ada aktivitas yang jelas dan bermakna. Atau seolah mereka dibiarkan bermain-main tanpa ada skenario dari kita sebagai sutradara di kelas.

3. Perkenalkan Diri Anda

Jika anda guru kelas atau walikelas baru, ini saat yang tepat untuk mendekatkan anda kepada mereka dengan memperkenalkan diri anda semenarik mungkin.

Kesan pertama perkenalan anda akan menentukan bagaimana hubungan anda dan mereka terbangun di masa depan.

Jika kesan pertama yang mereka tangkap, anda adalah guru yang menyenangkan, sahabat yang baik, mentor yang cerdas sekaligus penyayang. Maka, saya bisa menggaransi setiap hari-hari anda di kelas akan menjadi menyenangkan.

Begitupun sebaliknya. Jika kesan yang mereka dapatkan kurang tepat. Anda dilabeli guru yang suka cemberut, pelit bahkan arogan. Jangan salahkan mereka jika mereka memantulkan perilaku tersebut sepanjang tahun.

Kenalkan diri anda sebagai sahabat mereka, guru mereka, teman curhat mereka, mentor mereka, bahkan menjadi peran-peran yang membuat mereka nyaman dengan anda. Tapi, ingat durasi anda tidak banyak. Perkenalan bisa dilakukan sembari anda menyapa dan tidak harus di waktu MPLS saja.

4. Bangun Komunitas

Salah satu tanda kelas mudah termanajemen dengan baik adalah komunitas yang terbangun. Artinya, dalam kelas kita muncul karakter sosial untuk saling menyayangi, saling menghormati, menghargai pendapat, mengedepankan kepentingan sekelas daripada kepentingan pribadi, toleransi dan lain-lain.

Cara paling mudah membangun komunitas untuk anak adalah dengan merancang aktivitas yang membuat mereka berkolaborasi dan bersinergi.

Contoh: Pagelaran Seni Berkelompok, Perlombaan Mini Games, Bermain Peran, atau aktivitas paling sederhana menceritakan pengalaman liburan dan mengajak anak satu kelas untuk memberikan tanggapan positif (apresiasi dan penghargaan), dan lain-lain.

Oh ya, komunitas ini juga berarti anda perlu membangun struktur kelas yang mendukung, seperti penentuan ketua kelas, wakil, bendahara dan lain-lain. Ajarkan dan pandu mereka untuk bermusyawarah dan bermufakat untuk menentukan pemimpin diantara mereka.

5. Tetapkan Peraturan Kelas, Konsekuensi & Prosedur

Kunci manajemen kelas yang optimal ada di penegakan peraturan dan prosedur yang dijalankan sesuai kesepakatan.

Maka, ajak mereka menentukan peraturan kelas sederhana (tidak perlu panjang dan banyak), cukup 4-6 aturan kelas yang mudah diingat dan dihafal.

Contoh: Menyayangi Teman, Bekerjasama, Jaga Kebersihan, dan lain-lain.

Kita akan bahas tentang ini lebih detil di tulisan lain ya..

Peraturan jika dilanggar perlu ada konsekuensi (bukan hukuman). Tetapkan dan sepakati bersama anak-anak apa konsekuensi untuk masing-masing aturan yang dilanggar. Berikut serta dengan bagaimana pelaksanaan aktivitas yang membutuhkan prosedur.

Khusus untuk prosedur (kelas kecil dan PAUD), anda perlu merancang sebelumnya dari langkah pertama sampai langkah terakhir dilakukan.

Prosedur ini akan memudahkan anda memanajemen kelas lebih efektif dan efisien. Contoh: Prosedur Masuk Kelas, Prosedur Ijin Ke belakang, Prosedur Mengumpulkan Tugas, dll. Prosedur-prosedur ini setelah anda rancang, perlu anda simulasikan dan ubah jika memang ada langkah-langkah yang mempersulit mereka.

6. Berikan Kesempatan Bertanya Jawab

Seringkali kita hanya berfokus pada menu dan materi yang sudah ditetapkan sekolah saat MPLS. Namun melupakan bahwa mereka memiliki hak untuk bertanya dan memberikan pendapat.

Gunakan momen ini untuk melatihkan keterampilan bertanya dan menjawab. Sebab, boleh jadi ini menjadi bekal penting mereka saat berada di kelas nanti.

Aktivitas ini tidak harus berupa lempar pertanyaan dan kita yang menjawab. Bisa juga dengan model kartu dimana mereka menuliskan pertanyaan di setiap kartu yang diberikan. Lalu, anda memberikan jawaban atas kartu-kartu yang dikocok untuk di jawab terlebih dahulu.

Bisa juga mereka diperbolehkan mengajukan jawaban atas pertanyaan yang dibuat oleh temannya.

7. Buat Program Literasi (Budaya Membaca)

Jika anda sepakat bahwasanya literasi menjadi salah satu elemen penting pembelajaran abad 21, maka momen ini perlu anda pertimbangkan untuk dilakukan.

Anda bisa memulai dengan skenario dimana mereka sudah disiapkan untuk membawa buku masing-masing dari rumah (jika di kelas dan sekolah belum banyak koleksi bukunya). Lalu, ajak mereka untuk memulai membaca menyenangkan.

Saya biasanya mengawalinya dengan bertanya, “Mengapa kamu membawa buku ini? Apa yang menarik dari buku ini?”  dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat mereka menceritakan isi buku ini dengan antusias.

Setelah itu, mereka diberikan kesempatan membaca beberapa halaman dari buku tersebut. Lalu, mereka diberikan waktu untuk membuat rangkuman dalam bentuk mind mapping sederhana dengan pewarna.

Sesi terakhir mereka menceritakan mindmap yang mereka buat di depan kelas atau di depan kelompok (jika sudah dibagi-bagi kelompoknya).

8. Lakukan Pengamatan dan Penilaian.

Penilaian disini bukan tentang kecakapan atau penilaian kognitif, tetapi lebih kepada penilaian perilaku mereka, potensi mereka, bagaimana mereka berkomunikasi dengan teman barunya, kosakata apa yang mereka keluarkan semenjak liburan dan masuk sekolah ini, dan lain-lain.

Pengamatan dan penilaian ini akan sangat membantu anda untuk memetakan karakteristik mereka. Bisa dari gaya belajar mereka, kecerdasan majemuk, personality mereka dan lain-lain.

9. Ringankan Saraf Mereka

Yes, anda tidak salah baca. Saya yakin andapun menyetujuinya, jika momen masuk sekolah pasca liburan ini kita mengistilahkan mereka masih belum mood untuk belajar dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Mungkin asumsi kita dengan serangkaian kegiatan MPLS yang padat yang tidak berhubungan dengan materi pelajaran sudah cukup membuat mereka ‘santai’ dan tidak tegang. Padahal, boleh jadi MLPS kita dimata mereka sangat membosankan dan mereka berharap hari ini segera cepat selesai atau berharap ada jam kosong sehingga mereka bisa bermain dengan puas dengan teman yang sudah lama tidak mereka temui.

PR kita adalah menyajikan serangkaian kegiatan yang menyenangkan, mengendurkan saraf mereka, sembari pelan-pelan menyiapkan mental mereka untuk bersiap belajar. Transisi dari mode liburan ke mode siap belajar tentunya tidak bisa cepat dan langsung seperti membalikkan telapak tangan.

Saya biasanya menargetkan setidaknya saat mereka ditanya di akhir sesi sebelum pulang sekolah dengan pertanyaan, “Bagaimana kegiatan kita di hari ini? Menyenangkan??? Besok lagi yaaa???”

Jika raut wajah mereka berseri-seri dan antusias, maka saya ikut merasa bahagia dna yakin mereka akan siap belajar di pekan depan. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi, maka saya akan menayakan pada mereka, apa yang membuat hari ini membosankan dan apa yang harus dilakukan supaya besok lebih menyenangkan.

10. Bangun Komunikasi dan Keakraban dengan Walimurid

Jika walimurid anda aktif mengantar dan menjemput anak-anak di sekolah. Tips nomor 10 ini bisa anda lakukan. Sembari membagi tugas untuk guru kelas lain saat program MPLS ini berlangsung, berikan kesempatan untuk membangun komunikasi positif dengan walimurid yang datang.

Mengenal mereka, mendengarkan harapan mereka serta menanyakan tanggapan mereka terhadap kegiatan selama MPLS ini akan membuat anda mendapatkan sudut pandang baru dari mereka.

Boleh jadi kita meng-klaim program yang kita rancang di MPLS ini sudah menarik, menyenangkan dan bermanfaat. Tetapi, ternyata dari walimurid memiliki pandangan yang berbeda. Bisa jadi mereka juga memiliki ide yang tidak pernah anda pikirkan sebelumnya.

Manfaatkan momen keaktifan walimurid di awal tahun ajaran baru ini ini untuk bersama-sama membangun komitmen untuk terlibat aktif mendukung program sekolah dan iktu serta menjaganya sampai di rumah masing-masing.

Kegiatan parenting masing-masing kelas juga bisa anda pertimbangkan untuk memudahkan edukasi yang serempak dan terencana. Untuk konten dan skenario bisa anda diskusikan dengan sesama guru kelas atau kepada pimpinan sekolah anda.

Bagaimana menurut anda? Apakah 10 rekomendasi saya ini bisa memberikan dampak positif di kelas anda kawan? Semoga bermanfaat dan jika anda menemukan beberapa hal menarik selama melakukan ini mari kita diskusikan di panel komentar di bawah.

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published.