Guru, Guru Milenial, Pendidikan

7 Tips Mengajar dengan Zoom atau Google Meet

Saat pembelajaran jarak jauh menjadi kebijakan lanjutan di awal tahun pembelajaran ini, kita kembali mengikis harapan untuk bisa bertatap muka langsung dengan...

Written by Bang Ridlo · 4 min read >

Saat pembelajaran jarak jauh menjadi kebijakan lanjutan di awal tahun pembelajaran ini, kita kembali mengikis harapan untuk bisa bertatap muka langsung dengan anak-anak di kelas. Pun orangtua yang sedari semester sebelumnya berharap anak mereka bisa segera masuk kelas, kini juga terpaksa harus lebih bersabar.

Pembelajaran daring yang terasa kita ‘paksakan’ dalam tanda kutip ini membuat kita sebagai pendidik, mau tidak mau, suka tidak suka mempelajari pelbagai peralatan dan software IT untuk menunjang pembelajaran jarak jauh.

Salah satunya adalah penggunaan Zoom atau Google Meet, terkadang juga menggunakan video call serta aplikasi atau software yang memungkinkan mengisi kekosongan tatap muka yang dilakukan secara virtual.

Jika anda menggunakan aplikasi Zoom atau Google Meet atau sejenisnya, maka anda perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

1. Siapkan Peraturan & Prosedur yang Jelas

Seperti halnya kelas konvensional pada umumnya. Untuk menciptakan suasana yang kondusif di kelas virtual kita. Maka wajib kita susun dan sepakati peraturan kelas virtual bersama anak-anak.

Tidak perlu banyak aturan, yang terpenting aturan mencakup hal-hal fundamental agar suasana kondusif. Kita akan bahas lebih detil tentang aturan kelas virtual di tulisan berikutnya.

Contoh aturan kelas:

  • Tertib
  • Bersih
  • Peduli Teman
  • Antusias

Peraturan yang jelas, sulit untuk ditegakkan jika tidak dilengkapi dengan prosedur yang jelas pula. Prosedur dibuat untuk aktivitas yang berpeluang membuat kelas menjadi berantakan.

Contoh:

Prosedur Bertanya

  1. Peserta didik menggunakan fasilitas raise hand saat akan bertanya
  2. Guru mempersilakan dengan menyebut nama peserta didik yang ingin bertanya
  3. Peserta didik mengaktifkan microphone, kemudian menyampaikan pertanyaan
  4. Peserta didik lain ikut menyimak pertanyaan yang disampaikan temannya
  5. Guru mendengar dengan seksama dan memberikan timbal-balik atas pertanyaan (menegaskan pertanyaan)
  6. Peserta didik menonaktifkan microphone kembali
  7. Guru menjawab pertanyaan peserta didik

Sekali lagi, prosedur dibuat untuk membuat aturan tegak. Contoh prosedur bertanya di atas untuk menegakkan peraturan “Tertib”. Boleh anda jadi anda memerlukan prosedur lain untuk menunjang pembelajaran virtual bersajalan optimal. Seperti: Prosedur Menjawab Pertanyaan, Prosedur saat Breakout Room, Prosedur Menggunakan fitur Annotate, dll.

2. Desain Pembelajaran

Seperti halnya pembelajaran konvensional yang sudah kita lakukan sebagai rutinitas, pembelajaran daring dan menggunakan aplikasi tatap muka virtual memerlukan perencanaan yang matang.

Oleh karena itu RPP yang kita rancang, seharusnya sudah mencakup bagaimana pemanfaaatan dari aplikasi Zoom atau Google Meet, sekaligus menuntaskan tujuan pembelajaran yang ingin kita capai bersama anak-anak.

Kita tentu tidak hanya menggunakan satu platform, boleh jadi kita juga mengombinasikan beberapa platform sekaligus memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

Pastikan kita juga tidak salah dalam memilih materi ataupun indikator yang ingin kita tuntaskan dengan aplikasi tatap muka virtual. Sebab, tentu akan menyulitkan kita sendiri atau peserta didik, jika materi yang kita pilih justru tidak tuntas di kelas virtual.

3. Mengoptimalkan Fitur di Zoom ataupun Google Meet

Jika anda menggunakan Zoom Pro, fitur seperti: Breakout room, Polling, Streaming di Facebook dan Youtube, berbagai reaction lucu, Rekaman Otomatis, serta fitur lain perlu kita manfaatkan untuk menambah pengalaman belajar peserta didik.

Sebab, tentu mereka akan cepat bosan dan lelah jika kita hanya berbicara, presentasi slide di depan kamera dan peserta didik hanya duduk diam mendengarkan.

Mereka perlu kita stimulus dengan pelbagai aktivitas dengan fitur-fitur tersebut.

Google Meet yang berbasis Google Workspace for Education juga terdapat fitur serupa, meskipun tidak sekaya fitur di Zoom Pro.

Jika anda masih menggunakan Zoom Basic yang terbatas penggunaan 40 menit, anda bisa menggunakan penyedia upgrade Zoom Basic ke Zoom Pro ditautan berikut.

4. Penampilan Ekspresif

Tahukah anda, apa yang menyebabkan mereka lebih menikmati menonton video para youtuber dibandingkan melihat anda di Zoom atau Google Meet?

Jika kita di kelas konvensional akan kehilangan gairah dan atusiasme mereka saat kita perpenampilan sekaligus pembawaan yang datar-datar saja, tidak ekspresif, jarang tersenyum. Sama seperti di tatap muka virtual.

Pembawaan kita menentukan seberapa antusias mereka mengikuti.

Bahkan, saat saya mengikuti webinar dari para public speaker yang sering tampil di televisi atau media elektronik. Mereka menyampaikan, bahwa jika di depan kamera ekspresi kita harus 2 sampai 3 kali lebih dahsyat dibandingkan dengan penampilan langsung (tanpa kamera).

Mengapa? Hal ini disebabkan tingkat atensi atau perhatian anak di ruang virtual, jauh lebih singkat daripada tatap muka langsung. Ditambah lagi distraksi yang kapan saja muncul dan tidak bisa kita kondisikan seperti di kelas tatap muka langsung.

Kita tidak mungkin menghalau lalu lalang orang yang ada di depan peserta didik kita yang ada di rumah. Kitapun tidak bisa menghalau jika ada sesuatu yang tiba-tiba menarik pandangan peserta didik dan mengalihkannya dari kamera Zoom atau Google Meet.

Cara kita tersenyum, menyapa mereka, menyebut nama, memberikan apresiasi, serta bertanya kepada mereka jika tanpa dilakukan dengan ekspresi, maka mereka akan kehilangan minat. Jika sudah kehilangan minat, maka atensi mereka jauh menurun dan akhirnya membuat mereka memilih untuk melakukan aktivitas lain yang lebih menarik.

5. Beri Jeda di Tiap Aktivitas

Saat kita menyajikan pembelajaran di kelas offline atau konvensional, terkadang kita memberikan jeda dalam bentuk kesempatan bicara, ice breaker atau energizer.

Begitupula di kelas virtual. Kita harus memberikan jeda pada setiap segmen. Pengalaman beberapa kali mengisi sesi anak-anak, saya mendapati setidaknya setiap 10-15 menit ada jeda.

Jika tidak, maka selalu saja ada kesempatan mereka untuk sibuk sendiri, bermain chat, atau kehilangan fokus.

Bentuk jeda bisa dalam bentuk aktivitas sederhana seperti tepuk tangan virtual, memberikan kesempatan bertanya, kesempatan berpendapat, kesempatan mencoba fitur di Zoom Pro atau Google Meet, bahkan permainan sekedar menebak benda dari gambar yang disediakan.

Saya beberapa kali mencoba jeda dengan permainan menebak kata dari salah satu peserta didik yang memeragakan kata tersebut.

6. Zoom dan Google Meet adalah Media atau Alat Bantu

Media atau alat bantu berarti harusnya berfungsi menjadi pembantu kita dalam proses belajar-mengajar. Hal ini berarti, kita jangan sampai malah terlalu fokus pada media dan kehilangan tujuan pembelajaran yang esensial.

Jika memang Zoom dan Google Meet membantu kita, maka kita gunakan. Jika memang ada metode dan media lain yang lebih powerfull kita pertimbangkan untuk menggunakannya.

Selain media sebagai alat bantu, keterampilan kita menggunakan media ini juga menjadi salah satu faktor penting agar bisa ‘membantu’ bukan malah menyulitkan kita.

Oleh karena itu, kita sebagai pendidik perlu melatihkan keterampilan penggunaan media ini (Zoom dan Google Meet) agar saat pembelajaran virtual dimulai, kita sudah lihai dan lancar menggunakan media tersebut.

Bukan malah sebaliknya, kita menjadi serba salah, tidak fokus bahkan cenderung membuat pembelajaran menjadi kacau akibat penguasaan kita yang masih lemah.

7. Persiapkan Perangkat (Hardware & Software) yang Mumpuni

Agar pembelajaran virtual kita nyaman dan tidak ada kendala berarti, kita perlu menyiapkan perangkat yang memadai. Seperti laptop atau komputer, microphone/headset, speaker (jika dibutuhkan), webcam dan jaringan internet yang stabil.

Serta perangkat tambahan alternatif jika perangkat yang kita gunakan mengalami kendala.

Saya biasanya menyiapkan 1 PC, 1 Laptop, 1 HP, 2 headset, 1 speaker serta 2 SIMCARD yang siap dipakai jika dibutuhkan saat akan melaksanakan kelas virtual (pelatihan atau pendampingan).

Hal ini untuk meminimalisir hambatan yang mungkin terjadi diluar prediksi kita. Selain itu, agar kita bisa mengakomodir peserta didik yang memiliki perangkat dan internet terbatas, kita juga perlu mempertimbangkan agar kelas virtual ini bisa di-streaming (disiarkan) melalui Youtube atau Facebook.

Harapannya agar peserta didik yang tidak berkesempatan hadir langsung bisa mengikuti sesi rekaman yang kita streaming-kan di media sosial. Fitur streaming ini bisa kita lakukan jika Zoom Basic kita sudah kita upgrade menjadi Zoom Pro.

Nah, demikian tujuh tips mengajar dengan menggunakan Zoom ataupun Google Meet. Jika anda menggunakan aplikasi lain, bisa menyesuaikan dengan tips di atas.

Semoga bermanfaat dan jika anda memiliki tips lain, boleh juga di bagikan di kolom komentar di bawah agar artikel ini bisa semakin bermanfaat bagi pendidik lainnya.

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Saat Guru Merasa Puas

Bang Ridlo in Guru, Guru Milenial
  ·   2 min read

Leave a Reply