Guru, Guru Milenial, Pendidikan

Anak-anak Tidak Termotivasi Selama PJJ, Mengapa?

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk berbagi dengan salah satu sekolah tingkat pertama dengan peserta dari siswa kelas VII sampai kelas...

Written by Bang Ridlo · 2 min read >

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk berbagi dengan salah satu sekolah tingkat pertama dengan peserta dari siswa kelas VII sampai kelas IX.

Tajuk utama dari acara ini adalah meningkatkan kembali motivasi belajar yang menurun. Menurut rekan saya, yang salah seorang wakil kepala sekolah yang menghubungi saya mengatakan bahwa anak-anak sekarang sudah mulai tidak bersemangat dalam PJJ.

Contohnya, saat melakukan tatap muka virtual dengan Zoom tidak sedikit yang menunjukkan wajah di depan kamera dengan dalih internet tidak stabil, keterlambatan saat masuk Zoom yang semakin lama semakin banyak, serta penugasan yang berakhir tagihan-tagihan tanpa terlihat motivasi yang sesuai ekspektasi para gurunya.

Pertanyaan Mendasar

Setelah mendapat curhatan tersebut, sayapun bertanya balik, “Apakah anda sudah tahu penyebabnya, mengapa mereka berperilaku demikian?“.

Rekan saya ini berasumsi jika anak-anak jenuh dan mulai bosan. Lalu saya kembali bertanya, “Anda tahu apa yang membuat mereka jenuh dan bosan?

Hmm…belum tahu mas…“, sambil diberikan emoticon.

Oleh sebab itu, sebelum memutuskan konten apa yang saya delivery-kan, saya berinisiatif untuk membuat angket yang isinya menanyakan perihal PJJ atau BDR kepada guru, orangtua dan tentu saja siswanya.

Hasilnya, cukup menarik dan membuat saya sedikit tertegun.

Hasil Angket

Sebanyak 69.9% dari 146 siswa menyampaikan “SEDIH” saat PJJ ataupun BDR dan 30.1% mengatakan “SENANG”. Orangtuanpun tidak jauh berbeda, dimana sebanyak 57.4% menyampaikan “SEDIH” dan 42.6% mengatakan “SENANG”.

Selain itu, saat anak-anak diberikan pertanyaan, “Apa yang menyebabkan kalian memilih SEDIH?”. Mayoritas sebesar 54% mengatakan mereka merasa TERLALU BANYAK TUGAS yang diberikan kepada mereka. Sebesar 49% diantara mereka juga menjawab kangen bermain di sekolah. Serta, sebanyak 28% menjawab, pelajarannya tidak menyenangkan.

Nah, melihat data survei tersebut sayapun merancang kegiatan yang akan dilaksanakan dalam bentuk webinar akan banyak menggali penyebab dan menyelesaikan penyebab tersebut (jika memungkinkan).

Analisis Survei Sederhana

Dari hasil survei di atas, ternyata saat kegiatan dimulai dimana saya mengawali dengan pertanyaan, “Apa yang kamu rasakan selama PJJ atau BDR?” beserta dengan alasan atau penyebabnya.

Ditemukan 2 alasan terbesar mengapa mereka sedih, males, capek, lelah dan tidak bersemangat, yaitu:

  1. Merasa durasi untuk Zoom terlalu lama
  2. Tugas yang diberikan terlalu banyak

Saya pun mencoba mengonfirmasi, sebanyak apa tugas yang diberikan kepada mereka dan selama apa zoom itu dilaksanakan?

Setelah mengambil sampel dengan bertanya kepada anak-anak kelas VII, VIII dan kelas IX. Rata-rata mereka mengeluhkan durasi Zoom yang terlalu lama mulai dari pukul 07.00 sampai dhuhur. Belum lagi ada sesi Zoom untuk sore ataupun malam. Ditambah pula menyaksikan tayangan video di e-learning atau youtube yang dibagikan di LMS atau Grup WA.

Waktu yang sangat sedikit mereka dapatkan hanya untuk berebah dan bermain, selayaknya anak-anak pada umumnya. Tugas yang diberikanpun menyita waktu dan energi yang tidak sedikit.

Belum lagi, pembelajaran via Zoom yang diselenggarakan dilakukan menurut mereka masih kurang menarik dan menyenangkan, bahkan cenderung ke arah monoton.

Kesimpulan Awal

Kesimpulan sederhana dari pengamatan saya ini adalah, untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dibutuhkan desain pembelajaran yang spesial. Dimana rancangan pembelajaran ini mengakomodir kebutuhan mereka akan sosok gurunya yang tidak bisa hadir secara langsung.

Seringkali saya bertanya kepada guru-guru, apakah desain pembelajaran selama PJJ ini sudah menarik? Bukan menurut anda, tetapi menurut anak-anak? Apakah anda tahu, apa yang menarik menurut anak-anak? Sudahkah itu ditanyakan? Bagaimana dengan perasaan mereka? Sudahkah kita mengetahui bagaimana kesan mereka setelah menikmati desain pembelajaran kita yang didominasi menggunakan video hasil rekaman kita ditambah dengan tugas-tugasnya?

Seringnya, kita berorientasi pada media yang kita susun, fokus kepada kompetensi ala kadarnya yang kita miliki saat memproduksi konten belajar, dan merasa baper saat media pembelajaran tersebut tidak dilirik oleh anak-anak. Seolah-olah usaha kita tidak dibayar dengan semestinya.

Padahal, kita tahu bahwa yang dirindukan oleh anak-anak bukan hanya berupa video PPT disertai suara kita. Tetapi, bagaimana kita menyapa mereka di pagi hari, menyemangati mereka dengan yel-yel, menemani mereka saat mereka kesulitan, memotivasi mereka untuk menemukan konsep, memerikan apresiasi saat mereka menunjukkan perilaku baik dan lain-lain.

Lalu, seperti apa pembelajaran yang menarik dan memiliki dampak untuk mereka? Coba berkaca dan bertanya kepada sosok yang ada di depan cermin. Sudah sejauh mana, desain pembelajarannya mampu membuat anak-anak merindukan dan haus akan pengetahuan serta membuat mereka semakin mengenali dan dekat kepada-Nya.

Demikian insight menarik yang saya peroleh, semoga bisa membantu anda memahami anak-anak lebih baik lagi. Semoga bermanfaat dan bagaimana cerita di sekolah anda? Jika berkenan mari berbagi di kolom komentar di bawah.

NB: Jika anda tertarik dengan hasil survei di atas anda bisa menuju tautan berikut

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Saat Guru Merasa Puas

Bang Ridlo in Guru, Guru Milenial
  ·   2 min read

7 Replies to “Anak-anak Tidak Termotivasi Selama PJJ, Mengapa?”

  1. Coach.. jdi kra” contoh kgiatan pjj yang menarik utk anak apa ya coach… bleh donk coach kalau ad pmbhasannya..

Leave a Reply to diyana Cancel reply