Guru, Guru Milenial, Pendidikan

Belajar Secara Mandiri Sulit Membuat Pelajar Memiliki Prilaku Mandiri Dalam Belajar

Membiarkan pembelajar belajar secara mandiri, ternyata bukan cara yang tepat untuk membuat mereka menjadi pembelajar mandiri. Daftar Isi hide Bagaimana meningkatkan self-efficacy...

Written by Bang Ridlo · 3 min read >

Membiarkan pembelajar belajar secara mandiri, ternyata bukan cara yang tepat untuk membuat mereka menjadi pembelajar mandiri.

Ya, ini kutipan dari judul asli artikel ilmiah yang saya baca di chapter ke 7 buku yang berjudul How Learning Happen.

Saya ingin membagikan insight menarik dari artikel ini, setidaknya bisa menjadi inspirasi anda saat di kelas fisik maupun kelas virtual.

Artikel ini bermuara pada penelitian Zimmerman (1989) yang beliau mengembangkan dan memgabungkan beberapa teori, terutama dari Bandura (1986) tentang Triadik Resiprokal yang menyatakan bahwa seseorang dipengaruhi oleh 3 aspek: personal (self), perilaku (behaviour) dan lingkungan (environment).

Zimmerman mendefinisikan pembelajaran mandiri (Self-Regulated Learning) merupakan tingkatan dari metakognisi, motivasi dan perilaku aktif peserta didik dalam proses pembelajaran mereka sendiri.

Jadi sederhananya ada 3 hal yang digaris bawahi oleh Zimmerman yakni metakognisi, motivasi dan perilaku aktif.

Metakognisi sederhananya adalah kesadaran dan pemahaman tentang proses berfikir seseorang. Artinya peserta didik dikatakan metakognisinya berfungsi jika ia benar-benar menyadari apa yang sedang ia pelajari, sampai mana pemahamannya dan apa yang perlu dilakukan agar pemahamannya semakin baik.

Bicara tentang motivasi, Zimmerman menyebutkan kata kuncinya ada pada Self-efficacy (keyakinan seseorang terhadap kemampuan mereka untuk memahami atau menguasai keterampilan).

Peserta didik yang memiliki Self-Efficacy yang tinggi memiliki 2 karakteristik utama: (1) mereka memiliki banyak strategi belajar dan (2) mereka memiliki kemampuan untuk memonitor diri sendiri terhadap apa yang ingin dicapai (outcome). Dengan kata lain, self-efficacy ini berhubungan langsung dengan apa yang perlu mereka lakukan untuk mengubah perilaku mereka (behaviour).

Bagaimana meningkatkan self-efficacy peserta didik?

Cara yang paling mudah untuk meningkatkan self efficacy peserta didik adalah dengan memberikan modelling (mendemonstrasikan dan menjelaskan strategi yang spesifik).

Selain itu, peserta didik perlu dilatih untuk membuat target atau capaian yang bisa diukur, tenggat waktu dan sesuai dengan tingkat kesulitannya (tetap menantang).

Bagaimana strategi implementasi Self-Regulated Learning ini?

Sebelum itu, setelah anda sampai pada kalimat ini, saya mengasumsikan anda telah cukup memahami bahwa untuk membuat peserta didik ini memiliki Self-Regulated yang tinggi, kita sebagai pendidik justru perlu membuat terobosan dan strategi khusus (menciptakan lingkungan yang mendukung).

Nah, untuk strategi ini bisa dilakukan beberapa langkah diantaranya:

  1. Latih peserta didik untuk mengukur pencapaian mereka. Untuk latihan ini anda perlu memerhatikan daftar 15 pertanyaan strategi self-regulated learning.
  2. Untuk membantu mereka, ajak mereka menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan skala 1-10. Mereka sampai di angka berapa di kelas anda.
  3. Selama mengajukan pertanyaan, beri rangsangan pertanyaan-pertanyaan lain yang relevan untuk memancing metakognisi mereka (sadar dan paham)
  4. Ajukan pertanyaan, apa yang bisa mereka lakukan (dalam bentuk aksi atau mengubah perilaku) agar tujuan pembelajaran (target) tercapai.
  5. Beri contoh (modelling) dan persuasi ataupun motivasi secara verbal agar mereka bisa mendapatkan ide atau gagasan untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi (mencapai target)

Strategi Self-Regulated Learning

NoStrategiDefinisi & Pertanyaan
1Self-evaluatingPeserta didik berinisiatif mengevaluasi kualitas perkembangan pekerjaan mereka. Contoh: “Aku perlu memeriksa hasil pekerjaanku, apakah sudah sesuai atau belum..”
2Organising & TransformingPeserta didik berinisitif untuk menyusun ulang materi pembelajaran (jika dibutuhkan) untuk meningkatkan pembelajaran. Contoh: “Aku akan membuat peta konsep untuk tugas rangkumanku”
3Goal Setting & PlanningPeserta didik membuat target belajar dan membuat rencana untuk mencapai target tersebut dengan spesifik. Contoh: “Pertama, aku akan mulai belajar 2 minggu sebelum ujian”
4Seeking InformationPeserta didik berinisiatif untuk mengupayakan pencarian sumber informasi (referensi) saat menyelesaikan tugas. Contoh: “Sebelum menulis artikel, aku akan ke perpustakaan dan mencari sebanyak mungkin referensi yg berhubungan dg artikelku nanti.”
5Keeping Records & MonitoringPerserta didik berinisiatif untuk merekam (mencatat) setiap kejadian atau hasil yang muncul. Contoh: “Aku mencatat hal-hal penting selama diskusi”, “Aku mendaftar beberapa istilah yang aku selalu salah menyebutkannya”
6Environmental StructuringPeserta didik berinisiatif untuk memilih atau menyusun pengaturan area belajarnya agar lebih mudah. Contoh: “Aku akan fokus di kamar belajar selama 60 menit, agar tidak ada yg menggangguku”, “Aku akan menjauhkan HP selama 45 menit, agar aku bisa lebih fokus”
7Self-ConsequatingPeserta didik berinsiatif untuk memberikan reward atau punishment untuk kesuksesan atau kegagalannya dalam belajar. Contoh: “Aku akan nonton Doraemon jika tugasku selesai dan mendapat nilai A”
8Rehearsing & MemorisingPeserta didik berinisiatf untuk mengingat-ingat apa yang telah ia pelajari dengan pengulangan-pengulangan (latihan). Contoh: “Aku akan menulis secara berulang rumus matematika ini sampai aku hafal”
9 -11Seeking Social AssistancePeserta didik berinisiatif mengumpulkan bantuan dari (9) teman, (10) guru dan (11) orang dewasa lain. Contoh: “Jika aku masih tidak paham tentang materi tadi pagi, aku akan bertanya kepada kakak”
12-14Reviewing RecordsPeserta didik berinisiatif membaca ulang (12), hasil ujian (13), buku tekstual untuk menyiapkan diri di ujian berikutnya. Contoh: “Sebelum ujian, aku akan mulai membaca ulang”
15OthersPerilaku pembelajaran yang diinisiasi oleh orang lain seperti guru dan orangtua dan semua respon verbal yg belum dipahami. Contoh: “Aku akan melakukan seperti yang guruku katakan”
Strategi Self-Regulated Learning (Diadaptasi dari Effney, Caroll & Barr, 2013)

Kesimpulan

Jadi, kesimpulannya untuk membuat peserta didik memiliki self-regulated yang tinggi, kita sebagai pendidik perlu menciptakan lingkungan yang mendukung serta memberikan porsi latihan yang berkala kepada peserta didik selain modeling dan motivasi persuasif.

Strategi ini bisa anda sesuaikan dengan tingkat pemahaman kognitif ataupun sosial-emosional mereka. Pada skala kecil setidaknya, mengajukan pertanyaan sederhana agar metakognisi mereka tumbuh dan mereka benar-benar menyadari apa yang sedang mereka pelajari, apa manfaat bagi mereka, sudah sampai mana pemahaman mereka serta apa yang perlu mereka lakukan untuk mencapai target pemahaman yang mereka raih.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat dan jika anda menemukan hal menarik setelah membaca dan mempraktikkan ini, boleh berbagi di kolom komentar di bawah.

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published.