Saat Guru Merasa Puas

Tulisan ini terinspirasi saat saya melakukan pengamatan pembelajaran daring yang dilakukan beberapa sekolah.

Beberapa pengalaman dalam proses pengamatan ini begitu berkesan untuk saya dan saya berharap kesan ini bisa menjadi bahan refleksi kita bersama sebagai pendidik.

Selain bertemu dan melihat secara live bagaimana proses pembelajaran berlangsung, dengan mengamati ini saya mendapatkan gambaran profil pendidik maupun peserta didik dalam era pembelajaran new normal (saat pandemi).

Menariknya, diantara sekian banyak proses pengamatan dan diskusi saat feedback pasca pengamatan berlangsung. Saya menemukan satu hal yang perlu kita renungkan bersama, baik dari sudut pandang seorang pemimpin di lembaga pendidikan maupun sebagai pribadi pendidik yang sedang mengabdi.

Jika di tulisan sebelumnya saya mengulas salah satu guru favorit saya, kali ini sedikit unik sebab ada beberapa profil dan gaya pendidik yang cukup menarik untuk diulas.

Sebelumnya, saya ingin menyatakan bahwa ini hanya dari sudut pandang saya. Tentu anda boleh tidak setuju dan tidak harus menerimanya mentah-mentah. Jika anda merasa tidak sepakat, mari kita diskusi sambil menikmati kopi hitam atau secangkir teh hangat.

Simpulan Sementara

Mari kita lanjutkan. Jika boleh menyimpulkan sementara, seorang guru atau pendidik yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial (menurut UU Sisdiknas No 14 Tahun 2015) memiliki cakupan zona nyaman yang lebih luas dan fleksibel.

Hal ini saya buktikan dengan membandingkan pencapaian skor supervisi dengan pertanyaan sederhana, “Jika dibuat rentang angka 1-10, bagaimana penampilan anda hari ini?”, 10 adalah angka dimana pembelajaran yang dilakukan sempurna menurut anda.

Pendidik yang memiliki nilai rata-rata supervisi tinggi, 90% diantaranya memilih angka 5-7. Artinya, meskipun di atas kertas rata-rata pencapaian skor supervisi tinggi, tidak kemudian membuat mereka terlena dan sedikit mengakui bahwa mereka sudah baik, sangat baik bahkan tidak ada yang memilih angka 10.

Tafsiran Personal

Tafsiran ini menurut pendapat saya, para pendidik yang spesial ini memiliki hasrat yang tinggi untuk meningkatkan kompetensi diri dan kualitas pembelajaran (tidak mudah puas dan bangga). Bahkan diantara mereka menyatakan belum puas serta ingin memperbaikinya.

Uniknya, pertanyataan ini menjadi terbalik saat saya bertanya kepada kelompok guru yang sedang-sedang saja (mendapatkan skor rata-rata).

Mereka menjawab 7-10. Ya, ada yang dengan bangga dan yakin bahwa pencapaian penampilannya adalah sempurna (di angka 10). Meskipun, dalam lembat pengamatan saya mendapatkan hasil yang sedang-sedang saja bahkan terbalik.

Seorang guru dan pendidik yang memiliki zona nyaman yang luas serta fleksibel dan keinginan untuk berkembang lebih baik lagi cenderung memiliki kualitas pembelajaran yang lebih baik.

Apakah ini adalah sebuah ketetapan? Tentu tidak, sebab kita tahu bahwa manusia sangat dinamis dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang membuat apa yang dilihat belum tentu menjadi kebenaran.

Nah, lalu bagaimana dengan guru atau pendidik yang sudah merasa puas (alias berada dalam zona nyaman yang sempit) dan enggan memperbaiki diri?

Pertanyaan ini, tentu kita kembalikan kepada pribadi kita masing-masing. Berpuas diri apakah lantas membuat kita lengah dan enggan berubah lebih baik. Atau justru menjadikan kita lebih baik setiap harinya.

Pekerjaan besar bagi pemimpin sekolah yang harus memastikan bahwa orang-orang yang ada didalam sekolah memiliki jiwa untuk selalu ingin meningkatkan kualitas diri. Jika pendidik, maka kompetensi sebagai pendidik semakin lama semakin meningkat.

Dampak Zona Nyaman

Menurut Andy Molinsky, salah satu kontributor di Harvard Business Review saat kita tidak berada di luar zona nyaman, kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar apapun.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1908 oleh dua psikolog menunjukkan bahwa tetap dalam keadaan nyaman memastikan kinerja yang stabil (terdengar benar). Namun, untuk meningkatkan atau memaksimalkan tingkat kinerja, kita perlu berada dalam ruang “kecemasan optimal” yang bisa kita sebut dengan berada di luar zona nyaman. Di sinilah kita mendapat manfaat dari sedikit rasa takut atau kecemasan optimal (di luar zona nyaman).

Jadi hikmah yang saya dapatkan adalah,

Untuk menjadi seorang yang ahli dan diakui keahliannya (entah apapun bidangnya), kita harus memperluas zona nyaman dan menyiapkan diri untuk melihat peluang perbaikan diri.

Seperti ungkapan, jika buah merasa dirinya sudah matang maka bersiaplah akan datangnya waktu untuk busuknya. Kata si Steve Jobs, stay foolish, stay hungry.

Bagaimana menurut anda kawan?

Leave a Reply

Item added to cart.
0 items - Rp0

Sudah tahu template Idul Adha ini?

%d bloggers like this: