Membuat Pelajar Menjadi Kasmaran Belajar

Pertama kali saya mendengar konsep ‘kasmaran’ belajar saat saya sedang mengikuti salah satu sesi webinar dengan beberapa guru besar pendidikan yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi penggiat pendidikan.

Saya pun tidak ingat persis waktunya kapan, namun catatan tentang konsep ini masih tersimpan rapi di buku doodle note, saya menyebutnya.

Konsep ini, lahir dari salah seorang profesor yang menceritakan pengalaman beliau yang meniti karir akademik. Mulai dari bangku sekolah dasar, menengah, atas, sampai dengan gelar guru besar Matematika yang berhasil diperoleh.

Uniknya, beliau selalu menyampaikan bahwa proses belajar sepanjang itu, bagi sebagian pendengar, sayapun juga sedikit berkerut kening membayangkan mulai kecil sampai usia berkepala 50 masih saja berkutat dengan ‘Matematika’.

Membayangkannya saja, saya sudah ‘agak pusing’, apalagi menjalankannya.

Senada dengan apa yang saya rasakan, Prof. Iwan menyampaikan bahwa, faktanya banyak sekali pelajar belum menemukan sesuatu yang disebut ‘kasmaran belajar‘. Seperti halnya kasmaran oleh sepasang kekasih, dimana selalu diantara keduanya memendam rindu teramat dalam saat berpisah dan menikmati pertemuannya seolah dunia ini milik mereka berdua sedangkan yang lainnya hanyalah menumpang.

Kasmaran belajar ini terbentuk oleh paradigma belajar yang mengasyikkan, menyenangkan, menggairahkan, dan begitu dirindukan saat kehilangan kesempatan untuk belajar.

Kasmaran belajar ini pula yang mendorong seseorang, bisa bertahan akan proses panjang, bertahan untuk mengatasi hambatan-hambatan belajar yang tidak sedikit serta ketahanan akan perjalanan mengarungi samudera pengetahuan yang tidak terbatas.

Kunci Penting Kasmaran Belajar

Kunci penting kasmaran belajar ini tidak hanya terletak pada konsep diri dari pelajar itu sendiri. Namun, juga terdapat pada bagaimana seorang guru mengorkestrasi setiap pembelajarannya sehingga menjadikan pelajar menjadi ‘kasmaran’ dengan ilmu pengetahuan dan segala macam proses yang menyertainya saat belajar.

Metodologi seorang guru dalam proses pembelajaran di kelas, membuat pelajar berpeluang menjadi ‘kasmaran’ atau malah sebaliknya. Membenci proses belajar. Tidak heran, anak-anak kita tidak menemukan kenikmatan dalam belajar, kenikmatan saat memahami ilmu pengetahuan.

Faktor lain selain guru dan konsep diri dari pelajar yang mempengaruhi kasmaran belajar adalah peran orangtua.

Peran orangtua dalam hal ini cukup krusial. Meskipun dalam kasus tertentu, beberapa anak justru malah menjadi kasmaran belajar saat dihadapkan dengan orangtua yang keras dan otoriter serta prestice oriented (berorientasi pada prestasi akademik).

Peran orangtua yang akan sangat membantu anak-anak menemukan ‘kasmaran’ belajar adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan.

Siapa yang bisa betah belajar jika dihadapkan pada lingkungan yang penuh dengan ancaman, tekanan, omelan dan ditambah lagi dengan emosi-emosi negatif yang tidak berhenti didengungkan.

Orangtua yang berorientasi pada sebatas angka dan nilai, terjebak pada hasil rapor yang indah dilihat serta penuh dengan puja-puji walikelas, terlebih lagi tetangga sebelah.

Padahal, lingkungan belajar yang kondusif, motivasi, pendampingan, dan emosi-emosi positif yang seringkali ditanamkan kepada anak-anak, justru menjadi pemicu anak-anak menjadi pribadi yang kasmaran belajar.

Lalu, bagaimana peran kita untuk membuat anak-anak menemukan rasa ‘kasmaran’ belajar? Terlebih lagi dalam momentum belajar dari rumah?

Leave a Reply

Item added to cart.
0 items - Rp0

Sudah tahu template Ramadhan Keren ini?

%d bloggers like this: