Pembelajaran Aktif, Siapa yang Aktif?

Bang Ridlo

Tulisan ini merupakan refleksi sekaligus summary dari diskusi di EDUTalks Episode 3 bertajuk pembelajaran aktif (Active Learning) yang baru terlaksana kemarin (17/01/23).

Salah satu tantangan besar para pendidik terutama pendidik pemula adalah bagaimana membuat kelas aktif (peserta didik berpartisipasi aktif). Sebab, jika kita sebagai pendidik di kelas gagal membuat kelas menjadi aktif, kita sendiri malah akan menjadi hyperactive. 😤

Tingkat partisipasi peserta didik di kelas kita menandakan bahwa pembelajaran kita langsungkan menarik dan bermakna bagi mereka.🤩

Sayangnya, ini tidak mudah. Apalagi untuk pendidik pemula yang belum banyak jam terbang. Terlebih lagi koleksi model pembelajaran ataupun metode pengajarannya masih belum banyak.

Ini seperti tampil di atas panggung, lalu pemirsanya tidak bisa diajak interaksi. Pasif. Ini bisa membuat kita awkward sekaligus bingung harus ngapain.😨

Pembelajaran Aktif

Beberapa sumber menyatakan bahwa pondasi dari pembelajaran aktif ini berdasarkan teori konstruktivisme, yang berarti pengetahuan dan ketrampilan itu ditemukan, dan dibentuk oleh peserta didik, bukan kita sebagai guru atau pendidiknya.

Ini berarti pengalaman di proses pembelajaran yang membentuk pengetahuan peserta. Bagaimana bisa terbentuk pengetahuan jika mereka sekedar mendengar dan melihat saja?🤔

Filosofi Pembelajaran Aktif

Melvin dalam bukunya 101 Strategi Belajar Aktif mengutip dan menggubah quotes dari Konfusius, ini menurut saya menjadi filosofi dari belajar aktif,

Yang saya dengar, saya lupa,

Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat,

Yang saya dengar, lihat, tanya, bahas, saya mulai memahami

Yang saya dengar, lihat, tanya, bahas, diskusi, terapkan, saya mulai mendapatkan pengetahuan dan keterampilan.

Yang saya ajarkan, saya kuasai.

Melvin L. Siberman

Jika anda perhatikan, membaca dengan seksama serta me-refleksikannya saya yakin sekali anda akan mulai memahami filosofi belajar aktif.

Kita tidak sedang akan berbicara dan membedah pelbagai strategi pembelajaran aktif secara teknis, namun anda tidak akan heran fenomena kelas yang kehilangan makna disebabkan karena kita hanya membuat mereka mendengar dan melihat saja.


Prinsip Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif masih menurut Melvin, didasari pada cara kerja otak manusia. Otak manusia bukanlah sekedar tempat menyimpan informasi atau merekam saja.

Otak manusia memproses informasi. Sebelum disimpan dalam memori jangka panjang atau diserupakan pengetahuan ataupun keterampilan.

Maka tidak heran, strategi pembelajaran aktif berprinsip mengaktifkan otak untuk bekerja.

Seperti halnya komputer yang digunakan untuk memproses perintah, sebelum komputer menyala ON, ia tidak akan berfungsi.

Otak kita pun demikian, jika belum ON, tentu ia juga tidak berfungsi semestinya selayaknya komputer.

Proses berfikir (logika, analisis, pemecahan masalah, dll) yang berada pada neo korteks. Neo korteks akan ON dan bekerja optimal jika otak reptilnya sudah dijinakkan dan otak limbik mendapatkan sensasi emosi yang positif.

Maka, jangan heran jika anak-anak seolah sulit sekali diajak berpikir, berpendapat, merenungi studi kasus, ataupun aktivitas berpikir lainnya meskipun sederhana.

Karena bisa jadi otak berpikir mereka belum ON. Masih dalam keadaan OFF atau mode SLEEP.

Tugas kita adalah membuat mereka ON, artinya siap diajak berpikir. (Baca artikel Brain Gym)

Selain menggunakan pendekatan teori triune otak, pembelajaran aktif didasarkan pada teori pembelajar sosial Bruber dan teori kebutuhan dari Maslow.

Menurut Maslow, manusia memiliki dua kebutuhan, yang pertama untuk tumbuh dan yang lainnya keamanan.

Saat dihadapkan pada kedua kebutuhan ini, manusia cenderung memilih keamanan. Setelah terpenuhinya rasa aman ini, pertumbuhan secara perlahan memungkinkan bisa terjadi.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk mendapatkan rasa aman adalah menjalin hubungan dengan oranglain dan menjadi bagian dari kelompok. Perasaan saling memiliki ini memungkinkan siswa menghadapi tantangan (belajar).

Hubungan timbal balik, yakni kebutuhan untuk merespon orang lain dan bekerjasama dengan oranglain mampu menjadi motivasi yang bisa digunakan oleh pendidik untuk menstimulasi kegiatan belajar.

Sehingga, konsep dari Maslow dan Bruner ini yang menjadikan pembelajaran aktif sering menggunakan metode kolaboratif.

Selain itu, modalitas belajar seperti visual, auditori dan kinestetik ini juga menjadi pertimbangan dalam proses pembelajaran aktif. Konsekuensinya, agar pembelajaran bisa berjalan aktif, maka kita sebagai pendidik perlu menggunakan gaya mengajar-belajar yang variatif (kombinasi dari VAK).

Kelihatan secara sepintas, pembelajaran aktif menuntut peserta didik begitu aktif dan partisipatif di kelas. Fakta menarik dibaliknya adalah, kita sebagai pendidik juga tidak kalah aktif dalam mempersiapkan berbagai metode sampai media pembelajaran untuk membuat pembelajaran aktif.

Jadi, pembelajaran aktif siapa yang aktif?

Bagaimana menurut anda kawan?

1

Share on:

Leave a Comment