Guru, Guru Milenial, Pendidikan

Saat Guru Mengajar dengan Penuh Antusias

Inspirasi ini saya dapatkan saat melakukan pendampingan pembelajaran (supervisi) di salah satu sekolah secara virtual. Daftar Isi hide Pendahuluan Fakta Inspirasi Kesimpulan...

Written by Bang Ridlo · 4 min read >

Inspirasi ini saya dapatkan saat melakukan pendampingan pembelajaran (supervisi) di salah satu sekolah secara virtual.

Beberapa kali melakukan pengamatan pembelajaran virtual, membuat saya bisa merasakan atmosfir yang dibangun oleh guru yang memiliki hasrat dan antusias yang tinggi ataupun sebaliknya.

Pendahuluan

Berbicara tentang mengajar, adalah salah satu topik yang tidak pernah habis untuk dikupas dan dibahas. Meskipun ada yang bilang teori pendidikan atau penelitian di bidang pendidikan adalah yang paling sering tertinggal dibandingkan dengan bidang yang lain jika berurusan dengan yang namanya inovasi.

Terlebih lagi dengan ketidakmenentuan sistem pendidikan serta turunannya dalam bentuk kebijakan yang masih mencari bentuk terbaiknya.

Kurikulum juga diubah sedemikian rupa dengan harapan bisa menyesuaikan kebutuhan sekaligus tantangan di setiap jamannya.

Seperti saat inipun, kurikulum khusus yang disiapkan oleh kemendikbud (sekarang kemendikbudristek) selama pembelajaran jarak jauh dilangsungkan. Harapannya adalah dengan kurikulum dan kebijakan yang cukup fleksibel bisa membantu meningkatkan percepatan transformasi pembelajaran ke arah new normal.

Fakta

Saat melakukan supervisi pembelajaran digital yang dilakukan oleh beberapa sekolah dan beruntungnya saya mendapatkan pengalaman melakukan supervisi beberapa guru mulai dari jenjang TK sampai dengan SMP.

Pengalaman menarik ini membuat saya merasakan upaya yang luar biasa telah dilakukan oleh para guru. Jika sebelum pandemi ini, para guru masih bisa beralasan bahwa faktor U (baca: usia) dan senioritas membuat mereka berpaling dari segala sesuatu yang berbau IT.

Sekarang, alasan tersebut sudah tidak lagi relevan. Sebab, semua keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam hal penguasaan IT mau tidak mau, suka tidak suka harus mulai dilakukan. Untuk para guru yang senior maupun yang masih fresh graduate.

Menariknya lagi, para guru yang senior ini (bahkan mendekati purna bakti) menampilkan usaha yang sangat perlu diapresiasi.

Inspirasi

Salah satunya adalah guru yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Usaha, tekad, penampilan, perangkat atau media yang ditampilkan oleh guru ini membuat saya sangat terinspirasi. Ibu Lies Sundari namanya. Seorang guru TK yang sudah lebih dari 30 tahun mendedikasikan diri untuk menjadi pengajar dan pendidik di jenjang TK.

Sekilas, jika anda bertemu dengan beliau tidak akan mengira jika beliau sudah hampir akan pensiun (tahun 2023). Sebab, pancaran mata, ekspresi beliau menunjukkan antusiasme yang menurut saya selama ini hanya dimiliki oleh para guru muda belia. Guru muda yang baru saja lulus dari universitas keguruan dan begitu bersemangat untuk segera mempraktikkan segala ilmu yang dipelajari di bangku kuliah.

Beberapa catatan inspirasi penting yang saya peroleh selama melakukan pengamatan pembelajaran dengan beliau sebagai berikut:

1. Niat Awal Menjadi Penentu

Niat seorang guru sejatinya akan ditangkap oleh para peserta didik. Niat awal datang di kelas sungguhan ataupun virtual bisa dirasakan oleh para siswa. Saat beliau saya tanya, setelah pensiun apa yang akan Ibu lakukan? Beliau dengan yakin menjawab akan mendedikasikan diri untuk mengajar di rumah, untuk anak-anak sekitar. Beliau menyebutnya dengan memberikan pelayanan.

Anda bisa membayangkan, setelah pensiun saja niat untuk memberikan pelayanan pendidikan tidak luntur dari jiwa beliau. Jika seorang guru mempunyai niat awal mendedikasikan diri untuk mendidik dan mengajar tentu akan berbeda dengan niat ‘hanya’ menggugurkan tugas yang tertulis di kontrak kerja atau SOP belaka.

Berbeda juga tentu dengan guru yang hanya berniat menghabiskan waktu serta menunggu datangnya tanggal di tiap bulannya untuk menerima gaji.

2. The Power of Enthusiasm

Salah satu inspirasi terbesar saya saat membersamai beliau adalah antusiasme yang sangat tinggi. Saya meyakini bahwa, seseorang dengan antusias yang tinggi dengan pekerjaan atau profesinya, menandakan orang tersebut begitu menikmati proses yang ada dalam pekerjaan ataupun profesi yang dijalani.

Antusias ini juga merupakan kumpulan bukti kebahagiaan yang terpancar saat menjalani pekerjaan atau profesi yang tidak bisa diukur serta merta dengan nilai (baca: gajian) di akhir bulan.

3. Media digital dan Media konvensional

Salah satu tantangan dalam menyajikan pembelajaran digital adalah media yang digunakan. Seringkali kita terjebak dengan hasrat membuat media pembelajaran yang menurut kita ‘canggih’ dan ‘kekinian’. Padahal, media pembelajaran terbaik dan paling efektif adalah media pembelajaran yang kontekstual.

Hal ini berarti, media yang digunakan bukan hanya tentang seberapa canggih perlengkapan serta aplikasi yang digunakan. Namun, seberapa konkrit media tersebut untuk bisa diajak interaksi oleh peserta didik.

Beliau selain menggunakan media berupa Google Slide juga menggunakan media kertas dan alat tempel untuk melakukan kegiatan menempel serta menghias. Ini yang menurut saya menjadi pengingat bagi kita para pendidik yang terjebak dengan penggunaan media digital dan sedikit melupakan media pembelajaran kontekstual dan kongkrit.

4. Apresiasi kepada orangtua

Salah satu yang menginspirasi saya dari pembelajaran Bu Lies ini adalah saat beliau menyampaikan terimakasih yang tulus atas perhatian dan keterlibatan orangtua selama pembelajaran virtual dilaksanakan. Menurut saya, ini cukup penting. Sebab, keterlibatan orangtua dalma urusan pembelajaran ini tidak mudah dilakukan. Apalagi di sela-sela kesibukan orangtua.

Setidaknya, usaha dari para orangtua ini mendapatkan apresiasi yang baik dari seorang guru. Orangtua mana yang tidak suka diberi apresiasi? Apalagi orangtua yang diberikan apresiasi atas peran aktif yang telah dilaksanakan.

5. Nasihat & Refleksi

Sebagai pendidik senior, yang notabene jika dikategorikan masuk dalam generasi baby boomers. Cara memberi nasehat dan mengajar refleksi anak-anak di kelas virtual ini patut menjadi contoh bagi kita para pendidik muda.

Sebelum mengakhiri pembelajaran, beliau menyempatkan memberikan nasihat kepada anak-anak agar setelah pembelajaran mengucapkan terimakasih kepada papa/mama yang telah mendampingi belajar. Beri pelukan dan ucapkan terimakasih yang tulus. Sebab, papa/mama telah membantu anak-anak menyiapkan perangkat dan segala kebutuhan sebelum kelas dimulai.

Saya merasakan begitu besar dampak dari nasihat ini. Sebab, kita bisa merasakan bahwa Bu Lies mengajarkan anak-anak untuk menghargai dan mengapresiasi peran orangtua dengan cara dan bahasa yang bisa bikin melting (baca: meleleh).

Pada akhir sesi pembelajaran, anak-anak juga diajak untuk merefleksikan pembelajaran yang dilakukan. Bertanya tentang bagaimana perasaan mereka? Apa kesan mereka terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan.

Setidaknya, kita juga diingatkan untuk memastikan bahwa pembelajaran kita bermakna bagi anak-anak. Salah satu tandanya adalah adanya emosi positif yang muncul selama dan setelah pembelajaran. Tentu saja ini membuat penyimpanan informasi begitu lekat dalam pikiran sebab ada balutan emosi di informasi yang ditanamkan selama pembelajaran.

Menariknya, saat beliau ditanya bagaimana menurut Ibu pembelajaran yang sudah dilakukan? Seberapa baik dan sempurna pembelajaran yang dilakukan?

Beliau menjawab dengan sangat merendah, bahwasanya pembelajaran tadi banyak sekali kekurangannya. Terutama media pembelajaran yang dipakai, ditambah dengan keterampilan IT yang masih rendah menurut beliau.

Saya hanya tersenyum dan membesarkan hati beliau bahwa, pembelajaran Bu Lies adalah salah satu pembelajaran virtual TERBAIK yang pernah saya amati. Pembelajaran yang benar-benar membuat anak-anak menikmati proses belajar yang di dalamnya lengkap dengan penguatan karakter.

Kesimpulan

Setelah melakukan proses pengamatan pembelajaran virtual yang dilakukan oleh Bu Lies, membuat saya merenungkan kembali hakikat seorang pengajar dan pendidik. Terutama dari sisi antusiasme yang terpancar. Sayapun bisa membayangkan, alangkah dahsyatnya jika para guru dan pendidik memiliki antusias yang sama besarnya seperti Bu Lies saat mengajar.

Antusias yang hanya bisa diperoleh dari gairah mengajar dan mendidik yang tulus dari hati, menikmati setiap prosesnya dan berbahagia atas setiap langkah upaya yang dilakukan.

Antusias ini juga mencerminkan semangat mandiri (self-motivated) yang sangat tinggi untuk tetap belajar, berkembang dan berjuang meningkatkan keterampilan dan kompetensi sebagai pendidik.

Semoga apa yang saya ceritakan ini bisa menjadi inspirasi dan manfaat untuk anda dan para pendidik yang lainnya. Agar sosok pendidik seperti Bu Lies ini semakin banyak di setiap generasi dan membuat masa depan Indonesia semakin cemerlang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021, Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar.

Jika anda merasa artikel ini bermanfaat dan layak untuk dibaca oleh teman-teman yang lain, klik tombol share di bawah ini sesuai dengan channel (media sosial) yang anda gunakan.

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Saat Guru Merasa Puas

Bang Ridlo in Guru, Guru Milenial
  ·   2 min read

Leave a Reply