Seperti Apa Pembelajaran yang Menyenangkan?

Semenjak saya menerbitkan artikel yang berjudul Anak-anak Tidak Termotivasi Selama PJJ, Mengapa?, cukup banyak tanggapan yang masuk ke saya, baik dalam bentuk pertanyaan maupun sanggahan.

Tulisan tersebut memang belum usai, sebab ada pertanyaan yang masih belum terjawab meskipun saya sedikit memberikan trigger untuk pembaca juga melakukan investigasi mandiri serta riset di kelas masing-masing (jika anda guru di kelas).

Jika saya ditanya, “Seperti apa contoh pembelajaran yang menarik?”, jika konteksnya adalah pembelajaran jarak jauh atau juga bisa pembelajaran era new normal. Maka, akan muncul di benak saya juga, pertanyaan lanjutan, “Memangnya, anak-anak di kelas anda suka pembelajaran yang seperti apa?”

Banyak sekali teori dan penelitian terkait dengan penyelenggaraan pembelajaran digital, ataupun separuh digital separuh konvensional atau yang lebih dikenal dengan hybrid learning atau blended learning.

Nah, menurut pendapat saya pribadi, seperti apapun teori dan penelitian yang berkembang di luar sana, kita lah yang seharusnya lebih tahu, pembelajaran yang menarik untuk anak-anak yang ada di kelas kita.

Mengapa?

Kita yang paling mengenali modalitas belajar mereka, berapa banyak yang modalitas belajarnya visual, auditori maupun kinestetik. Kitapun yang paling paham tentang kecerdasan majemuk yang dimiliki mereka. Kitapun yang paling kenal tentang dunia yang sedang mereka gandrungi, mulai dari lagu kesukaan, film, acara TV, aplikasi, media sosial dan tentu saja bahasa-bahasa gaul mereka.

Lalu?

Jika kita sudah tahu modalitas mereka, kecerdasan majemuk mereka, dunia mereka, maka metodologi pembelajaran yang beraneka ragam beserta dengan perangkat yang dibutuhkan tinggal disesuaikan dengan karakteristik mereka. Sebab, menurut pengalaman saya selama melakukan supervisi klinis pembelajaran sejak tahun 2016 silam. Saat seorang pendidik sudah kenal betul dengan anak-anak, maka metode sederhana pun menjadi sangat efektif dan membuat pembelajaran menjadi sangat berkesan.

Buktinya?

Coba anda bertanya kepada diri sendiri (jika anda seorang guru atau pendidik), sejauh mana anda memahami modalitas belajar anak-anak atau peserta didik anda? Tahukah anda berapa prosentase anak-anak dengan modalitas visual, auditori ataupun kinestetik di kelas anda?

Setidaknya dengan anda memahami modalitas belajar anak-anak, anda akan mengetahui cara berkomunikasi yang tepat (sesuai modalitas belajar mereka), media pembelajaran yang efektif dan efisien untuk mereka, serta skenario pembelajaran bermakna yang bisa kita desain.

Ini baru menggunakan pendekatan pemahaman akan modalitas belajar mereka. Belum lagi jika kita menambahkan tentang kecerdasan majemuk, kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (ESQ), dan lain-lain.

Bagaimana jika kita tidak tahu?

Seperti halnya seseorang yang sedang mencoba belajar mengemudi tanpa mengenali perangkat dan kendaraan yang digunakan. Apakah kira-kira orang tersebut akan bisa mengendarai kendaraan tersebut? Bisa iya bisa tidak. Waktu untuk menjadi mahir pun jadi sulit untuk diukur. Sebab akan banyak sekali peluang untuk mencoba, lalu gagal, mencoba lagi lalu gagal, mencoba lagi sampai berhasil dilakukan. Trial and error.

Lalu, bagaimana bisa anda mengharapkan anak-anak menjadi termotivasi, menikmati pembelajaran yang disajikan, menikmati video pembelajaran yang anda buat 3 hari 3 malam dengan mengorbankan waktu istirahat? Sementara kita, belum memahami betul tentang mereka??

Contoh Sederhana

Saat saya mengisi kegiatan untuk anak-anak seusia SMP yang saya ceritakan di artikel sebelumnya, dengan membaca hasil survei sebelum kegiatan (isinya tentang hal-hal yang mereka sedang gandrungi dan perasaan mereka). Saya mencoba menggunakan ice breaker sederhana. Seperti ini kira-kira:

  1. Saya memilih salah satu peserta zoom yang bersedia memerankan (melakukan gerakan) dengan kata kunci yang saya kirim dengan personal chat Zoom.
  2. Anak-anak lain menebak kata kunci tersebut
  3. Peserta yang memerankan diberikan kesempatan mencoba memeragakan 3x (tapi akhirnya beberapa kali) karena peserta tersebut masih agak-agak kaku dalam memerankan.
  4. Peserta lain menebak dengan menuliskan jawabannya di kolom chat

Apa yang terjadi? Kelas Zoom yang awalnya masih damai, aman, sentosa dan cenderung pasif menjadi sangat bergairah. Hampir semua peserta ikut berpartisipasi untuk berlomba-lomba menjawab tantangan tersebut.

Suasana semakin cair saat saya menggunakan istilah atau kata-kata yang sedang trending seperti: main bareng (mabar), #fyp. Serta beberapa kali menyinggung nama tokoh anime yang sebagian besar mereka kenal (Eren dalam Attack of Titan), menggunakan bahasa Jepang untuk menyapa mereka (diambil dari youtuber yang mereka gandrungi Jerome Polin) dan lain-lain.

Jika dibawa pada konteks pembelajaran, kita mengenal satu pertemuan dalam pembelajaran terdapat 3 bagian. Pembuka (apersepsi), kegiatan inti dan penutup. Saat apersepsi (pembuka), menjadi saat-saat krusial di pembelajaran. Sebab, menurut saya jika apersepsi ini gagal maka seluruh rangkaian proses pembelajaran kemungkinan besar tidak akan berjalan sesuai rencana, atau bahkan peserta didik kehilangan makna (pembelajaran tidak bermakna).

Dalam apersepsi setidaknya ada beberapa hal yang harus tercapai oleh guru, seperti:

  1. Mampu menghiptnotis peserta didik untuk fokus pada tujuan pembelajaran
  2. Mampu membuat kelas menjadi bergairah untuk belajar (termotivasi untuk mencapai tujuan pembelajaran)
  3. Menemukan BIG WHY, mengapa mereka perlu mempelajari materi ini? Atau apa manfaatnya jika memahami materi ini?
  4. Menemukan relevansi materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari
  5. Mampu membuat peserta didik antusias sekaligus penasaran akan materi yang akan diarungi bersama-sama

Anda bisa melihat bahwa tahap apersepsi yang tampak sederhana, tetapi cukup menantang bukan?

Selama saya melakukan supervisipun tercatat, guru-guru yang mampu menuntaskan apersepsi di atas menunjukkan kelas yang antusias dan menyenangkan. Peserta didik yang aktif mengikuti arahan dari guru, skenario pembelajaran yang efektif, penutupan yang berkesan sehingga pembelajaran menjadi sangat bermakna.

Lalu, bagaimana dengan aspek lainnya? Akan kita bahas di artikel berikutnya.

Bagaimana dengan kelas anda kawan? Bagaimana apersepsi anda di kelas virtual anda? Sudahkah mampu membuat mereka mengubah posisi duduknya menjadi lebih condong ke depan, membuat kedua mata mereka berbinar-binar dan senyum yang merekah? Apa yang sudah kita upayakan untuk menciptakan atmosfir yang mereka rindukan seperti di kelas konvesional?

Mari kita diskusikan di panel komentar di bawah. Semoga bermanfaat kawan.

1 thought on “Seperti Apa Pembelajaran yang Menyenangkan?”

Leave a Reply

Item added to cart.
0 items - Rp0

Sudah tahu template Ramadhan Keren ini?

%d bloggers like this: