Teknologi AI adalah Keniscayaan, Lalu?

Bang Ridlo

Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Artinya, pasti terjadi dan tidak bisa dicegah dengan cara bagaimanapun, kecuali dengan cara ekstrim (mungkin).

Seperti saat dulu saat saya masih berkuliah ada kebijakan larangan menggunakan komputer untuk membuat laporan hasil eksperimen di laboratorium yang disebabkan oleh rasa khawatir dan antisipasi atas peluang kecurangan yang mungkin bisa dilakukan oleh mahasiswa.

Dalam dunia pendidikan khususnya sekolah, ini juga masih menjadi polemik dalam hal penerapan teknologi dalam pembelajaran.

Sebab konsekuensinya adalah siswa membawa perangkat canggih, gawai atau tablet atau sekolah yang menyediakan fasilitas tersebut.

Ketakutan dan kekhawatiran akan konten yang siswa belum boleh mengonsumsinya bisa mendapatkan dengan mudah, atau bahaya lain yang siap mengancam.

Saat pandemi tahun lalu, saya menemukan konten yang sangat menarik, edukatif dan sangat menghibur yang dikembangkan oleh Google. Konten ini disebut dengan Interland dalam Bahasa Indonesia disebut “Tangkas Berinternet”.

Anda bisa menikmatinya bersama anak-anak di tautan berikut:

https://beinternetawesome.withgoogle.com/id_id/interland

Prinsip-prinsip keamanan berinternet, apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan saat berinternet sangat menarik dijelaskan dalam bentuk sebuah game perjalanan ini.

Jadi, intinya bekal pemahaman dalam berinternet menjadi penting untuk dimiliki oleh anak-anak, terutama saat mereka mulai mengenal gawai dan isi di dalamnya.

Lalu bagaimana dengan sikap Guru?

Saya memahami bahwa ini sangat perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi masing-masing sekolah, lingkungan masyarakat, dan faktor lainnya.

Tetapi intinya adalah kemajuan teknologi ini apapun bentuknya nanti, kita sebagai pendidik mestinya bisa membekali anak-anak dengan kemampuan berpikir dan mindset memanfaatkan sebaik mungkin dan sebijaksana mungkin.

Jadi, kemampuan berpikir kritis dan kreatif ini menjadi bekal yang mestinya kita berikan kepada anak-anak, sehingga mereka bisa mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi saat teknologi berkembang sedemikian cepat.

Dalam perspektif lainnya, para pendidik juga perlu memanfaatkan teknologi yang ada untuk mendukung pembelajaran di kelas, meningkatkan kualitas pembelajaran, membantu meringankan pekerjaan administratif dan lain-lain.

Dulu, saya termasuk guru yang agak “males” dengan urusan peradministrasian. Sampai pada suatu waktu saya diwawancarai oleh salah satu HRD Sekolah beliau bertanya, apa yang tidak disukai saat mengajar. Sontak saya bilang saya tidak menyukai urusan administrasi dan turunannya. Saya lebih suka mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak.

Memang pada akhirnya saya kemudian menyadari bahwa urusan administrasi yang saya hindari ini adalah konsekuensi logis atas pilihan karir sebagai pendidik yang tidak bisa saya hindari.

Saya perlu melatih diri saya agar memahami bahwa administrasi ini adalah bagian dari pekerjaan yang saya cintai selain mengajar di kelas. Saya mesti meyakini bahwa administrasi yang terasa membosankan ini jika dibuat dengan sepenuh hati dan penuh keikhlasan juga akan membawa dampak yang sangat baik dalam proses pembelajaran di kelas.

Saat ini, dimana kemajuan teknologi sudah sangat luar biasa. Pekerjaan administrasi sudah bisa sebagian diserahkan pada kecerdasan buatan (AI). Mungkin jika saat saya masih menjadi guru dan teknologi AI sudah lahir, saya akan lebih menikmati proses pembuatan administrasi ini.

Mulai dari membedah kurikulum, memetakan kompetensi, mengulas indikator dan menyusun tujuan pembelajaran, membedah materi esensial, merancang RPP, sampai pada penilaian.

Semua ini bisa dibantu oleh teknologi AI sekarang. Saya sudah mencobanya dan hasil percobaan ini saya simpulkan dalam sebuah panduan yang saya beri nama “ChatGPT Mastery for Teachers”.

Lalu atas dasar dorongan beberapa teman, saya berencana mengadakan sosialisasi panduan ini dalam bentuk kelas online atau mini workshop. Jika anda tertarik, bisa mempelajarinya disini

Nah, bagaimana menurut Anda, apakah kita sebagai pendidik bisa memanfaatkan teknologi ini menjadi pengguna teknologi yang handal, bukan sekedar pengguna yang terjebak “ketagihan”?

0

Share on:

Leave a Comment