Teknologi AI, Manfaat vs Bencana Untuk Pendidikan?

Bang Ridlo

Masih terlintas dalam pikiran saya beberapa waktu yang lalu tentang curhatan seorang dosen di beranda media sosial saya yang mengeluhkan tentang perilaku mahasiswanya yang sudah mulai “canggih” saat mengirimkan tugasnya.

Sayangnya “kecanggihan” tersebut digunakan tidak sebagaimana mestinya.

Jadi, si Mahasiswa ini menggunakan salah satu teknologi AI untuk membuatkan tugas makalahnya lalu mengumpulkannya ke Pak Dosen tersebut.

Naasnya, Pak Dosen ini tidak kalah “canggih”, beliau bisa menemukan celah dan mengetahui ini bukan garapan si Mahasiswa, namun hasil garapan teknologi AI.

Saya tidak mengikut kelanjutannya, jadi jangan tanya saya bagaimana nasibnya si Mahasiswa ini setelah ketahuan. Hehehe

Cerita ini bukan cerita baru, dan ini menjadi salah satu kekhawatiran para guru dan dosen, dimana anak-anak sekarang sudah “canggih” memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan belajar mereka.

Sayangnya, kecanggihan ini tidak pada tempatnya.

Seperti jaman dulu dimana saat jadi mahasiswa dulu ada kebijakan pembuatan laporan harus tulis tangan atau mesin ketik.

Pilihan yang sama sekali tidak menyenangkan untuk dipilih. 

Saat itu dilarang menggunakan komputer untuk pembuatan laporan. Alasan dari KoAs adalah seringnya mahasiswa hanya copas (copy-paste) laporan seniornya alias plagiarisme merajalela.

Dalih tersebut sempat saya sanggah bahwa harusnya KoAs lebih pintar dengan mencari celah untuk mengetahui modus tersebut, karena ada cara dan tekniknya untuk mengetahui laporan tersebut hasil copas atau karya sendiri.

Namun, sayangnya sanggahan tersebut mentah dan kebijakan laporan tulis tangan atau ketik manual tetap berjalan sampai saya lulus kuliah.

Teknologi AI saat ini pun sangat amat bisa dimanfaatkan oleh anak-anak untuk berlaku “curang”, entah mengerjakan tugas, ujian ataupun perkara lain yang bisa dilakukan.

Sebaliknya, jika kita perhatikan kemajuan teknologi ini mestinya membuat kita yakin bahwa manusia cukup brilian hingga mengembangkan teknologi macam ini.

Kecanggihan teknologi tersebut bukankah hasil karya cipta, rasa dan karsa manusia?

Teknologi pintar semacam AI atau robot memang akan mendisrupsi manusia dan pekerjaan manusia yang monoton dan cenderung statis. Hal ini bisa kita lihat di beberapa parkiran Mall besar, sudah menggunakan sistem tiket otomatis, bayar pakai e-money.

Sekarang, teknologi seperti ChatGPT memudahkan orang mencari, merangkum informasi, bahkan bisa diperintah untuk melakukan pembuatan aplikasi dasar.

Ini juga seperti jaman saya sekolah dimana guru melarang siswanya membawa dan menggunakan kalkulator. Alasannya adalah agar siswanya tidak manja, menggunakan kemampuan otaknya untuk menghitung angka-angka.

Ada juga guru yang mengijinkan menggunakan kalkulator dengan strategi memberikan soal yang njelimet, sulit dan kompleks, sengaja memang diperlukan kalkulator. Namun sejatinya sedang melatih cara berpikir logis dari siswanya.

Kalkulator digunakan sebagai alat bantu atas cara berpikir siswa.

Lalu, bagaimana menurut anda? Apakah teknologi AI sekarang ini membawa kabar baik untuk pendidikan atau malah membawa potensi bencana pada pendidikan?

0

Share on:

1 thought on “Teknologi AI, Manfaat vs Bencana Untuk Pendidikan?”

  1. Tulisan menarik, pendapat saya teknologi AI itu punya dua sisi yaitu positif dan negatif, jika dimanfaatkan untuk hal baik dan membantu untuk merancang suatu administrasi tetapi penggunanya tetap memodifikasi atau memperbaiki dan tetap menganalisis dari bantuan AI saya kira itu sifatnya positif, tetapi kalau untuk hal yang tidak baik itu sifatnya negatif. Tetapi kita perlu ketahui bahwa zaman sudah berubah kita harus mengikuti perkembangan zaman. Jadi menurut saya teknologi AI itu adalah hal yang baik jika digunakan untuk yang bermanfaat

    Reply

Leave a Comment