Harian

Kacang Ijo dan Integritas

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian yang baru saya alami beberapa waktu yang lalu. Lebih tepatnya saat saya mendapatkan kesempatan untuk piket di...

Written by Bang Ridlo · 2 min read >

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian yang baru saya alami beberapa waktu yang lalu.

Lebih tepatnya saat saya mendapatkan kesempatan untuk piket di kantor alias WFO.

Saat itu, tiba-tiba ada keinginan untuk menikmati semangkok bubur kacang hijau langganan dekat kantor.

Sayangnya, saat itu warung yang biasanya bertirai banner tampak tidak ada aktivitas. Menandakan bahwa warung ini sendang tutup.

Mungkin sedang mudik eh pulang kampung penjualnya, gumam saya dalam hati.

Seingat saya ada warung kacang hijau lain yang agak jauh dari kantor namun masih bisa dicapai dengan memacu kuda besi dengan durasi perjalanan 3 menit.

Sesampainya disana, terdapat 2 pembeli yang sedang menikmati masing-masing sajiannya dan saya adalah pembeli ke 3.

Setelah menyampaikan pesanan saya, yakni 6 bungkus bubur kacang hijau sayapun menunggu dengan duduk manis.

Selang beberapa waktu, datanglah 2 orang dengan mobil memesan kacang hijau dengan makan di tempat dan 1 orang dengan pesanan dibawa pulang 1 bungkus.

Saat itu penjual masih meladeni pesanan saya, namun dengan datangnya 3 orang tambahan. Entah darimana idenya, penjual ini men-delay pesanan saya dan menyiapkan pesanan untuk 2 orang makan ditempat dan 1 bungkus untuk dibawa.

Awalnya saya bersikap biasa saja, sebab mungkin ini cara kerja penjualnya yang mendahulukan orang yang makan di tempat.

Sampai akhirnya, saat ada pembeli yang datang penjual mengatakan bahwa kacang hijaunya habis, tinggal ketan hitamnya saja.

Saya saat itu masih berpikir positif. Meskipun antrian saya di-pending dan didahului oleh pesanan lain. Tetapi, ternyata saat bungkus ke 4, penjualnya berkata, “Mas, ini kacang hijaunya gak cukup. Diganti ketan hitam saja ya?”

Saya yang saat itu sudah ngebet, hanya bisa mengiyakan dan pasrah. Sembari bertanya-tanya dalam hati, kalau tidak cukup kacang hijaunya kenapa pesanan saya yang antri paling duluan malah dapat dampaknya? Hmm..

__________

Dari dulu sekali saya bisa dikatakan termasuk golongan orang-orang yang selalu dapat jatah antri yang diserobot, mulai dari belanja pagi di pasar, masuk check-in gerbang penerbangan, beli nasi goreng, bakso dll.

Hampir dipastikan serobot antrian sudah menjadi pengalaman yang konsisten mampir ke saya.Awalnya, karena saya termasuk orang-orang yang sabar dan suka menabung. Masih memaafkan dan tidak memperpanjang perdebatan dengan membiarkan mereka menyerobot.

Paling cuman memberikan lirikan dan tatapan ketidakpahaman atas perilaku mereka dan berharap mereka serta merta meminta maaf dan memberikan penjelasan yang masuk akal.

Kali ini, kejadian serupa terjadi. Namun, kondisinya disengaja oleh penjualnya.

Saya tetap memilih untuk tidak menanyakannya dan meminta penjelasan. Tetapi, ada perasaan tidak nyaman dan membuat saya enggan untuk datang kembali ke warung ini.

Jika anda mengatakan saya ini bodoh dan terlalu lemah karena membiarkan kejadian serobot ini terjadi, saya terima dengan lapang dada. Toh, ini saya yang mengalami. Itung-itung latihan mental. Hehehehe

Bisa saja sih saya kemudian meminta pertanggung jawaban bapak penjual ini atas pesanan saya yang tidak sesuai. Tetapi, dalam hati saya cukup berpikir, memang bapak ini mendahulukan yang makan di tempat dan pesanan bungkus 1.

__________

Hikmah yang menurut saya cukup menarik untuk direnungkan bersama adalah, jangan-jangan kita sebenarnya pernah melakukan hal serupa kepada orang lain. Namun kita tidak merasa hal tersebut merugikan orang tersebut.

Kita menganggap hal tersebut hal yang remeh.

Contohnya, anda sedang membuat janji bertemu dengan seorang kolega anda di jam 10.00. Saat dalam perjalanan, anda mendapatkan ada panggilan dari pimpinan anda untuk menyelesaikan tagihan mendadak.

Jika diperhitungkan, maka anda akan sampai di lokasi tempat janjian dengan kolega anda tidak akan sampai. Pasti terlambat. Lima belas menitan, bisa lebih.

Dalam benak anda, “ah gak papa, terlambat sedikit. Kita ngobrol gak terlalu penting kok. Ini lebih penting rekues dari pak bos.”

Kolega anda yang semenjak jam 10 kurang 10 menit sudah duduk manis menunggu anda yang sampai pada pukul 10.45.Anda menjanjikan kepada istri anda, suami anda, orangtua anda, anak anda, atau rekan anda, tetapi dengan mudahnya anda mengesampingkan janji tersebut dengan dalih ada yang lebih penting dan urgen.

Sekecil apapun janji, komitmen anda merupakan bukti kualitas dari kepribadian anda.

Terlepas janji dan komitmen kepada oranglain ataupun kepada lembaga anda.Bahasa kerennya adalah integritas. Anda bisa membuktikan apa yang anda ucapkan, anda janjikan.

Tentu akan jadi bahaya laten jika ternyata, kebiasaan ini menjadi budaya di organisasi anda. Lembaga kita bisa-bisa menjadi lembaga yang di-cap tidak berintegritas.

Jika bicara personal, maka anda bisa terkenal dengan ketidakberintegritasan anda. Dan hal ini adalah tabungan yang buruk untuk dipertahankan dan dipanen kelak bukan?

Semoga kita diberikan kekuatan dan kemudahan untuk menjadi pribadi yang lebih berintegritas, membuktikan apa yang dikatakan dan dijanjikan.

Selamat memulai pekan ini kawan, semoga bermanfaat..

Tulisan ini dibagikan via email jika anda bergabung di Inspiring mONday, jika tertarik berpartisipasi silakan isi formulir ditautan berikut:

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Leave a Reply