Karakter dari Cara Berkendara

Bang Ridlo
Latest posts by Bang Ridlo (see all)

Tulisan ini terinspirasi saat hujan melanda di daerah rumah saya dan sedikit memancing esmosi.

Mungkin anda juga pernah mengalaminya.

Saat di jalanan yang masih basah alias ada genangan air yang lumayan banyak dan tinggi dengan roda dua.

Saat sudah mengusahakan agar menurunkan kecepatan agar tidak membasahi diri sendiri dan pengendara lainnya.

Tiba-tiba, Wushhhhhhh datang dari kanan kendaraan yang tanpa ba bi bu menyongsong genangan itu dan membuat kita sukses basah. Meskipun tidak kuyup, tapi cukup sukses membuat celana, sepatu dan teman-temannya basah.

Jika airnya bersih dan jernih, masih tidak esmosi. Namun, jika airnya keruh, kotor dan bahkan lompatan airnya bisa sampai ke muka, siapa yang tidak esmosi?

Sesabar-sabarnya saya dan sepositif-positifnya saya, ada perasaan mengganggu dan kesal dengan kelakuan pengendara yang wussh tadi.

Bagaimana jika ini menimpa anda dan sekalian orang yang anda bonceng di belakang?


Setidaknya dari kejadian ini ada beberapa hal yang bisa membuat saya terinspirasi, minimal ada tulisan yang anda baca sekarang ini.

Lalu, sayapun merenung dan mendapatkan beberapa simpulan ini. Ternyata karakter seseorang bisa ketahuan dari cara berkendara.

1. Berempati & Penyabar

Pengendara yang berempati terlihat dari caranya mengemudi kendaraannya dengan hati-hati. Tidak harus pelan-pelan ya.

Maksud saya, dia sangat memperhatikan aspek keamanan dirinya dan oranglain. Dia memilih menurunkan kecepatan saat dirasa ada bahaya yang mengintai dirinya dan oranglain.

Dia memilih menepi, mengalah agak minggir saat ada kendaraan yang menyalip dari arah berlawanan.

Dia memilih mengurangi kecepatan dan berusaha agar tidak memunculkan ciptran-cipratan genangan air yang bisa mengenai oranglain.

Dia memilih memberikan kesempatan pada pengendara lain ataupun orang yang akan menyeberang di jalan atau perempatan.

2. Kurang Berempati, Cenderung Egois

Pengendara yang memacu kendaraan dengan batas maksimum, bahkan lebih.

Tidak terlalu peduli dengan pengendara lain yang ada di lajur lain yang berlawanan arah.

Dia memilih menyalip meskipun diarah berlawanan sudah ada kendaraan yang datang.

Dia memilih meningkatkan kecepatan laju saat melihat lampu di perempatan berwarna kuning menuju merah.

Dia memilih tidak menghiraukan pejalan kaki yang melambai-lambai saat menyebrang jalan raya.

Dia memilih ‘bodo amat’ dengan genangan lalu dengan kecepatan tinggi melewati genangan tersebut.

Dia memilih mengklakson keras-keras pengendara di depan, jika bisa sambil mengumpat jika mendapati macet yang tidak pernah ia duga.

Cara berkendara bisa anda pilih dan mencerminkan karakter dalam diri. Sebagian ataupun seluruhnya.

Cara saya berkendara yang juga kadang-kadang lalai dan kurang berempati, memilih memacu laju kendaraan lebih cepat seperti bercita-cita menjadi pembalap yang tidak kesampaian.

Saya meyakini sederhana, apapun cara berkendara yang anda pilih toh nanti juga kembali ke kita. Orang menyebutnya karma, kita menyebutnya “segala amal ada tanggung jawab dan konsekuensinya”.

Kita tinggal memilih sekarang, mau diberi konsekuensi positif atas usaha berkarakter baik saat berkendara, atau mendapatkan “hadiah” yang tidak kita duga karena kelakuan kita sendiri.

Selamat Berhari Senin, semoga pekan ini lebih baik daripada pekan kemarin.

Ini adalah konten yang terkirimkan lewat email untuk teman-teman yang terdaftar di InspiringmONday. Jika anda ingin mendapatkan konten serupa melalui email tiap hari Senin, silakan klik tombol di bawah

0

Share on:

Leave a Comment