Guru, Guru Milenial, Harian

Mengatasi Kesedihan dengan Hidup dalam Ruang Waktu yang Terbatas

Setiap orang pasti mengalami fase sedih. Bersedih dengan sebab beraneka ragam, bahkan tanpa sebab yang jelas. Anda tentu pernah mengalaminya juga bukan?...

Written by Bang Ridlo · 1 min read >

Setiap orang pasti mengalami fase sedih. Bersedih dengan sebab beraneka ragam, bahkan tanpa sebab yang jelas. Anda tentu pernah mengalaminya juga bukan?

Seperti kisah seorang prajurit yang mengalami penyakit berupa usus besar yang melintang tidak karuan, yang disebabkan oleh rasa sakit dan sedih berkepanjangan. Prajurit ini mendapatkan tugas untuk menyiapkan, mengatur dan menyimpan catatan semua orang yang gugur dan hilang selama pertempuran.

Ia juga harus membantu menggali dari kuburan jenazah para serdadu, baik dari sekutu maupun musuh. Serta mengumpulkan dan mengawasi harta benda para serdadu yang harus dikirimkan kepada saudara atau keluarga terdekat mereka.

Ia selalu diliputi rasa sedih dan khawatir jika tidak bisa menyelesaikan tugas-tugasnya, tidak bisa berkumpul lagi dengan keluarganya serta emosi kesedihan yang selalu berkecamuk selama perang berlangsung.

Kemudian, seorang dokter tentara memberikan nasihat kepadanya. Setelah memeriksa kondisi fisik saya, ia mengatakan bahwa yang saya derita adalah gangguan mental.

Ia berkata bahwa, “Hidup ini seperti jam pasir. Bagian atas jam pasir ini terdapat ribuan butir pasir. Satu demi satu butir demi butir pasir tersebut bergerak secara pelan dan teratur melewati bagian leher yang sempit di tengah. Kau dan saya dan siapapun juga sama halnya seperti jam pasir tersebut. Saat bangun pagi, kita dihadapkan pada setumpuk tugasyang harus kita selesaikan di hari itu. Tugas yang berjumlah ratusan ribu harus kita selesaikan dengan tenang satu demi satu, bergantian secara teratur dan pelan-ppelan, seperti butiran pasir. Jika kita tidak berbuat demikian, kita akan merusak struktur tubuh atau mental kita

glass vintage table technology
Photo by JD on Pexels.com

Setelah mendengar nasihat tersebut, prajurit ini kemudian mulai pelan-pelan mempraktikkannya. “Setiap satu saat, satu butir pasir lewat..setiap satu saat, satu tugas diselesaikan“.

Kita, seringkali tergoda untuk memikirkan dan melakukan beberapa tugas sekaligus dan bersamaan. Kebiasaan ini jika diteruskan, akan berakibat fatal pada kesehatan fisik dan mental. Tidak jarang dalam bentuk kesedihan dan stres berlebihan.

Maka, jika anda ingin bahagia, mulailah hidup di saat ini, diruang waktu terbatas. Selesaikan tugas dan pekerjaan satu-demi-satu dan menikmati proses tersebut dengan tenang.

Jika anda mengalami kesedihan berkepanjangan karena hal ini, maka coba tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Apakah saya cenderung mengesampingkan hidup hari ini lalu bersedih hati dan merasa khawatir akan hari esok?
  2. Apakah kadang-kadang saya merasa hidup hari ini pedih karena menyesalkan hal-hal yang terjadi kemarin, padahal semua telah selesai?
  3. Apakah setiap kali bangun di pagi hari, saya mempunyai niat dan tekad untuk “memanfaatkan hari“, berniat untuk bekerja dan hidup sebaik-baiknya dalam waktu 24 jam?
  4. Apakah saya bisa lebih memanfaatkan hidup ini dengan cara hidup dalam ruang waktu yang terbatas?
  5. Kapan hal ini mulai saya kerjakan? Minggu depan? Besok? Hari ini?

Tutuplah gerbang besi masa lampau dan masa mendatang. Hiduplah dalam ruang waktu yang terbatas.

Dale Carnegie

Selama berbahagia kawan..

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Kacang Ijo dan Integritas

Bang Ridlo in Harian
  ·   2 min read

Saat Guru Merasa Puas

Bang Ridlo in Guru, Guru Milenial
  ·   2 min read

Leave a Reply