Sekeping Rahasia Hidup Bahagia dari Ujian Kesabaran

Bang Ridlo

Tulisan ini dibuat setelah beberapa kali merasakan pengalaman yang beraneka ragam saat saya mendampingi ayah mertua di rumah sakit.

Mulai saat cuci darah rutinan 2 kali seminggu, sampai opname dan akhirnya kembali ke rumah.

Dari berbagai pengalaman tersebut, kali ini saya ingin fokus pada bagaimana layanan antar jemput taksi online yang sempat beberapa kali saya alami.

Ada driver mobil yang sangat responsif, saat melihat saya agak bersusah-payah untuk menuntun ayah mertua dari kursi roda untuk memasuki mobil yang dikemudikannya.

Ada juga driver mobil yang ‘stay cool’, sembari sesekali melirik saya mencoba membuka pintu sembari memapah ayah mertua saya.

Ada juga driver mobil yang justru menghardik dan melemparkan komplain karena titik jemput tidak pas, meskipun sudah saya jelaskan di chat, bahwa titik jemput yang benar adalah Gedung Hemodialisa Sidoarjo yang tidak terdeteksi di peta si aplikasi.

Khusus untuk driver ke 3 sempet membuat saya berkeinginan untuk memberi mauidhotul khasanah kepadanya, sebab saya merasa sudah menyampaikan di chat, sekaligus memberi arahan jalan yang benar. Campur aduk antara perasaan kesal, bertanya-tanya serta berusaha untuk tenang dan sabar menjelaskan.

Saya sempat berkata dalam chat, “Pak, mohon maaf..Ini menjemput orang yg sedang sakit dan kesusahan. Mohon bisa dimaklumi. Jika memang Bapak keberatan silakan di-cancel saja..”. Sembari menahan perasaan nano-nano dalam dada dan menahan untuk tidak berkata-kata lebih lagi, dan hampir terbersit menyumpahinya..astaghfirullah..

Bisa anda bayangkan bagaimana rasanya?

Baiklah, tidak perlu anda rasakan karena cukup saya saja yang merasakan pengalaman tersebut.

Apakah kemudian saya melakukan generalisir atas pengalaman tersebut terhadap semua driver? Nyatanya, ada banyak driver yang masya Allah sekali perhatian dan layanannya.

Namun, setelah saya pikir-pikir kembali dan mengingat pengalaman dengan driver ke 3 tadi. Menurut saya, ini salah saya sendiri. Saya memilh untuk berpikir bahwa driver ke 3 ini HARUSNYA bisa sesuai dengan ekspektasi saya. Driver yang empati, ramah, santun dan lain-lain.

Saya lupa, jika perilaku orang lain (driver) ada di LUAR KENDALI saya. Wal hasil, membuat saya berperasaan demikian dan saya pun menjadi males bin kikir obrolan selama perjalanan tersebut. Saya memilih menutup kesempatan ngobrol.

Semakin saya berusaha mengendalikan apa yang ada di LUAR KENDALI saya, yakni sikap dan perilaku driver ke 3 tadi, semakin esmosi saya dibuatnya.

Namun, akhirnya saya mengerti bahwa berusaha mengendalikan hal tersebut justru membuat kita semakin esmosi dan perilaku kita jadi ikutan ke arah yang merugikan.

Sepertinya, jika kita ingin membuat hati kita lebih tentram dan damai. Maka, cukup kita MENGENDALIKAN APA YANG BISA KITA KENDALIKAN. Pikiran, perasaan dan perilaku kita. Cukup.

Bayangkan jika kejadian dengan driver ke 3 tersebut, saya memilih berpikiran,

Oh, mungkin driver ini dari jauh mengantarkan penumpang lain dan mendapatkan pengalaman dipermainkan oleh penumpang. Sehingga, beliau berkata demikian”

Oh, mungkin driver ini tadi sedang ada masalah berat, sehingga menumpahkan kekesalannya dg berkata demikian”

dan pikiran-pikiran lain yang lebih netral serta membuat saya berperasaan baik-baik saja. Tidak esmosi, apalagi nano-nano.

Seperti yang diajarkan oleh Mas Darmawan Aji di ecourse dan buku Mindful Life-nya, jika kita lebih bahagia, maka jangan berusaha mengendalikan apa-apa di luar kendali kita.

Perilaku tim kita, perilaku atasan kita, lingkungan di sekitar rumah kita, prasangka anggota keluarga lain, cuaca, dan lain-lain juga sebagian besar HAL DILUAR KENDALI KITA.

Bagaimana menurut anda, pernahkah anda berusaha mengendalikan sesuatu di luar kendali diri dan berakhir dongkol seperti saya?

1

Share on:

Leave a Comment