Semangat di Awal Lalu Melempem Kemudian, Solusinya?

Bang Ridlo

Suatu Minggu pagi saya menemani istri saya untuk sekedar jalan-jalan dan njajan (baca: kulineran).

Selain mengajaknya melihat hal-hal berbeda diluar rutinitas harian di rumah, sekaligus mengamati perubahan sudut-sudut kota Sidoarjo yang mungkin luput dari pandangan sekilas.

Setelah puas dengan semangkuk Soto Kwali yang bening, menyegarkan dan lezat, perjalanan kami teruskan menuju semacam car free day, tetapi lebih banyak yang jual belu daripada olahraganya. hehe

Kali ini saya memilih menunggunya sembari mengamati para penjual melayani pembelinya sekaligus melihat-lihat barang yang mungkin menarik dan patut dibawa pulang.

Sampai akhirnya saya menemukan dimana beberapa penjual (yang kelihatan masih baru) begitu baik dalam melayani.

Mulai dari mentiapkan bungkusnya, gestur melayaninya, sampai dengan bagaimana cara berkomunikasi kepada pelangganya dan sampai pada memberikan kembalian setelah pembayaran.

Apa yang menarik?

Sembari mengamati, banyak pertanyaan yang muncul di pikiran saya, salah satunya adalah pertanyaan reflektif, “Kira-kira apakah semua penjual melakukan hal yang sama (pelayanan prima) tersebut?”, “Apakah ada perbedaan penjual lama dan baru dalam memberikan pelayanan kepada pelangganya?”, dan lain-lain.


Sebagian besar kita bermasalah dengan konsistensi. Seperti saat pertama kali masuk sekolah, berusaha berangkat lebih pagi, penuh motivasi, lalu selang beberapa waktu kemudian jadi terasa ‘biasa’ saja.

Seperti juga pertama kali menjadi penerima tamu, kita berusaha begitu maksimal dalam penyambutan mereka, memberikan layanan, sampai selesai dan tuntas. Namun, selang beberapa waktu kemudian pelayanan maksimal itu menjadi ‘biasa’ saja.

Masuk di kelas pun mungkin juga demikian, hari pertama masuk kita begitu antusias, penuh dengan energi, ide-ide metodologi mengajar mulai kita uji cobakan, memetakan kondisi mereka sebelum, saat dan sesudah proses belajar selesai. Namun, tidak jarang performa kita menurun.

Tidak mudah memang mempertahakan konsistensi, terlebih jika apa yang kita kerjakan berhubungan dengan interaksi dengan manusia yang memiliki akal, pikiran dan perasaan bervariasi.

Apakah menjadi masalah?

Ketidakkonsistenan kita sebagai manusia adalah hal yang fitrah atau umum terjadi. Sebab, kita sedari awal kita memang diciptakan bukan sesuatu yang ‘tetap’ atau ‘konsisten selamanya’. Kita adalah makhluk yang dinamis.

Lalu bagaimana menjaga konsistensi kita?

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang bisa begitu konsisten dibandingkan lainnya, diantaranya adalah:

1. Passion

Saya lebih memilih mengartikan passion adalah gairah atau kecenderungan terhadap suatu aktivitas yang berorientasi kebermanfaatan.

Seseorang dengan passion mengajar, akan memiliki energi berkali-kali lipat dibandingkan dengan seseorang yang hanya mengajar di kelas.

Selain perbedaan energi yang signifikan, rasa lelah, capek dan lain-lain yang dirasakan orang-orang pada umumnya, tidak begitu dirasakan oleh orang yang memiliki passion tersebut.

2. Sistem

Motivasi tinggi saja tidak cukup. Mengapa? Ditengah-tengah era serba cepat dan informatif ini, kita akan sangat sering ditantang oleh yang namanya distraksi.

Konsisten akan menjadi mustahil dilakukan jika kita lebih sering terdistraksi.

Maka, kita perlu menciptakan sistem yang memungkikan kita meminimalisir distraksi, baik distraksi dari diri sendiri maupun dari luar.

Sistem disini berarti kita tidak melakukan apa yang kita kerjakan secara spontan dan sporadis, atau berbasis mood.

Tetapi kita menciptakan pola kerja, bisa berdasarkan dimensi waktu dalam pembuatannya. Semisal, di awal bulan kita sudah memiliki 3 prioritas yang jelas. Setelah itu, dalam tiap pekan kita juga telah memiliki 1 prioritas yang sangat jelas untuk dicapai dan diselesaikan. Tiap harinyapun demikian, kita memiliki tujuan dan prioritas yang jelas.

Penggunaan alat, aplikasi atau media yang membuat pekerjaan kita semakin mudahpun bisa kita gunakan dalam membangun sistem seperti penggunaan teknologi AI, aplikasi manajemen produktivitas, dan lain-lain.

3. Evaluasi

Konsistensi adalah hasil dari perilaku berulang yang dimulai dari pembangunan kebiasaan. Kitapun juga perlu mengukur dalam periode waktu tertentu, harian, mingguan atau bulanan kita sejauh mana pencapaian kita terhadap prioritas yang telah kita tetapkan.

Jika meleset, apa yang perlu kita perbaiki? apakah ada yang salah dengan metode kita, ataukah target kita yang terlalu tinggi dan sumber daya kita yang kurang?

Evaluasi rutin yang kita lakukan, akan membuat setiap hari kita menemukan cara lebih baik, jalan yang lebih efisien, ataupun kita mengeliminasi hal-hal yang membuat kita menjadi tidak konsisten.

4. Menikmati Proses

Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitupun dengan konsistensi kita. Memang benar bahwa menjadi konsisten dan mendapatkan hasil maksimal adalah hal yang ingin kita capai, namun sebenarnya pada tahap proses yang membuat itu semua tercapai.

Kita perlu menikmati setiap proses yang kita lakukan, tidak perlu terlalu keras kepada diri sendiri. Jika memang sekali kita lalai, maafkan lalu lanjutkan. Jangan berhenti. Jika berhasil, berikan perayaan kecil untuk merayakan keberhasilan kita tersebut.

Menikmati proses juga berarti kita mengijinkan untuk terjatuh, berbuat kesalahan, namun belajar dari kesalahan tersebut. Tidak meratapinya terlalu lama dan mulai melanjutkan perjalanan prosesnya.

Bagaimana menurut anda? Apakah dengan 4 hal ini kita bisa menjadi pribadi yang lebih konsisten dan produktif?

Selamat memulai pekan ini kawan!

Ini adalah salah satu tulisan di Inspiring Monday, sudah gabung? Klik untuk bergabung

0

Share on:

Leave a Comment