Flexing, Sudut Pandang Lain yang Mungkin Anda Belum Tahu?

Bang Ridlo
Latest posts by Bang Ridlo (see all)

Ramai diberitakan baik di media sosial maupun media massa sebagian pejabat dan keluarga pejabat yang gemar memamerkan harta kekayaan dan gaya hidup yang terkesan mewah. Istilah yang digaungkan di kalangan netizen sekarang adalah “flexing”.

Definisi Flexing

Mengutip dari Harian Kompas, “Flexing” merupakan salah satu kata dari bahasa Inggris dari kata “Flex” yang berarti mengencangkan sesuatu, terutama bagian tubuh dalam penggunaan bahasa formal.

Sedangkan dalam bahasa gaul atau tidak formal, kata flexing digunakan untuk menampilkan sesuatu dengan sok-sok-an alias memamerkan sesuatu.

Saya tidak sedang membahas viralnya flexing di kalangan netizen. Tetapi saya ingin mengajak anda untuk melihat dari sudut pandang sedikit berbeda.

Fenomena flexing, saya akan memilih arti “memamerkan sesuatu”, sesungguhnya kita sendiri juga melakukannya bahkan kita juga difasilitasi sejak kecil.

Di sekolah juga kita diberikan kesempatan untuk “memamerkan” keahlian, kebisaan, prestasi dan lain-lain.

Sebagai pendidik kita tentu bisa merujuk pada teori kebutuhan dari Maslow, dimana kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Kita membutuhkan pengakuan dari sekitar. Sebagian besar yang kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Jika kita melihat dari sisi ini, tentu kita bisa memahami bahwa flexing dalam ukuran tertentu wajar dilakukan sebab ia adalah kebutuhan dasar manusia (menurut teori Maslow).

Menakar Flexing

flexing fenomena

Pertanyaan menariknya adalah, bagaimana menakar ukuran yang tepat untuk flexing?

Ukuran memamerkan bagi saya pribadi ini ukuran yang sangat subyektif, sebab masing-masing orang memiliki batasan tertentu.

Jika flexing terkait ibadah, kita sudah diingatkan oleh guru-guru kita dengan riya’ dan perkara ini dilarang sedemikian rupa sebab mampu membumihanguskan amal baik yang kita kerjakan.

Sebab, dikerjakan bukan karena Allah SWT tetapi karena ingin mendapat pujian, penghargaan orang lain.

Jika flexing terkait dengan perkara muamalah bagaimana?

Menakar Flexing

Menurut saya ada 2 hal yang mungkin bisa dijadikan ukuran,

Pertama, niat. Kita perlu menggali apa niat kita saat ingin menunjukkan sesuatu (flexing)? Ingin mendapat pujian? Ingin mendapatkan exposure? Ingin dapatkan pemberitaan?

Jadi ukuran pas tidaknya sesuai takaran niat kita.

Kedua, empati. Manusia memiliki bekal kemampuan yang disebut empati. Mampu memposisikan diri sebagai oarnglain dan merasakan apa yang oranglain rasakan.

Sekarang, saat kita akan melakukan flexing, kita tinggal menyalakan mode empati. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “bagaimana perasaan orang lain saat kita memamerkan ini?”, “apa yang kira-kira orang lain lihat dari kita saat memamerkan ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lain untuk menguji seberapa baik kita bisa memposisikan diri menjadi orang lain.

Memang perkara perasaan orang lain, adalah urusan orang lain.

Anonim

Tetapi kita sudah diajarkan untuk ber-empati kepada saudara kita sendiri. Sebab tidak semua orang diberikan nikmat yang kita peroleh.

Kita tidak sedang berusaha untuk mengendalikan perasaan orang lain, hanya berusaha untuk memposisikan di tempat yang paling membuat oranglain merasa nyaman.

Terlepas dari apapun itu, flexing dalam takaran tertentu ada sisi positif berupa peningkatan kepercayaan diri seperti saat anak-anak kita menunjukkan kelebihan, keahliannya dan mereka mendapatkan penguatan positif dari lingkungan termasuk kita.

Bagaimana menurut anda?

0

Share on:

Leave a Comment