Harian

Terimakasih yang Tulus Menularkan Energi

Ijinkan hari ini saya merefleksikan kejadian beberapa waktu yang lalu. Sesaat setelah saya membeli bensin di pom bensin setempat. Daftar Isi hide...

Written by Bang Ridlo · 1 min read >

Ijinkan hari ini saya merefleksikan kejadian beberapa waktu yang lalu. Sesaat setelah saya membeli bensin di pom bensin setempat.

Cerita

Cerita ini diawali dari rutinitas yang mengharuskan saya mengisi bensin di pom terdekat (dekat dengan rumah), sebab indikator jarumnya sudah pas di bawah yang paling bawah.

Meskipun sempat ada perasaan ketar-ketir (baca: perasaan cemas) sebab jalannya sepeda motor ini sudah seperti orang yang kehausan amat-sangat.

Beruntungnya, sepeda motor saya berhasil sampai di pom bensin masih dalam keadaan hidup (baca: tidak mogok). hehehehe

Setelah selesai mengisi bensin, secara reflek saya mengucapkan, 

Suwun mas…” 

yang berarti terimakasih dalam bahasa jawa.

Kemudian dibalas dengan, 

“Inggeh sami-sami mas..” 

Kali ini berbeda. Mengapa? Sebab ada perasaan yang entah saya kesulitan mendeskripsikannya. Seperti ada energi yang mengalir setelah mas2 petugas tadi menjawab ucapan terimakasih saya.

Sembari dalam perjalanan, saya pun mencoba menggali pengalaman, sembari menciptakan ruang imajiner untuk melacak apa yang saya rasakan.

Simpulan

Kesimpulan awal yang saya peroleh adalah, saat kita mengucapkan terimakasih dengan tulus, maka akan energi positif yang diberikan kembali oleh semesta yang bisa jadi medianya adalah orang yang kita beri ucapan ataupun yang lainnya.

Seperti rasa bersyukur kita akan kehidupan yang kita dapat, kenikmatan akan bernapas, makan, minum, kesehatan dan lain-lain.

Pertanyaannya, apakah selama ini kita mensyukurinya dengan penuh kesadaran, atau sekedar mengucapkan rasa syukur belaka?

Seperti saat tiba-tiba kita dalam perjalanan menemui kejadian kecelakaan di depan mata kita yang kita sendiri ‘hampir’ ikut menjadi korban. Namun Tuhan masih memberikan kita keselamatan.

Tentu bukan hanya ucapan syukur saja bukan? Tetapi, benar-benar merasa sangat bersyukur atas nikmat keselamatan yang diberikan kepada kita.

Refleksi Diri

Lantas, perlu kita merefleksikan diri kita apakah selama ini rasa syukur kita sudah seperti rasa syukur saat kita selamat dari kejadian naas diatas? 

Ya, kita seringkali lupa dan lalai atas segala macam kenikmatan dan kemudahan yang diperoleh dengan ‘sekedar’ mengucap syukur atau bahkan tidak merasa ‘bersyukur’ sama sekali.

Seolah-olah kita memang tidak perlu mensyukurinya sebab sudah tersedia dan menjadi rutinitas harian yang jadi ‘biasa saja’.

Seperti ungkapan, “Kesehatan itu mahal saat ia dicabut dari diri kita“. Kita akan mensyukurinya dan merindukan sehat saat sakit itu datang.

Kita juga akan merindukan adanya kemudahan, saat kesulitan itu datang dan lain-lain.

Nah, apa yang bisa anda syukuri di hari ini kawan? Kepada siapa saja anda mengucapkan terimakasih dengan tulus hari ini?

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Kacang Ijo dan Integritas

Bang Ridlo in Harian
  ·   2 min read

Leave a Reply