Marketing, Marketing Sekolah

4 Kekurangan Brosur Sebagai Media Marketing Sekolah

Salah satu aktivitas marketing adalah menyiapkan perangkat atau alat marketing. Mulai dari media cetak, elektronik, media internet (website dan media sosial) perlu...

Written by Bang Ridlo · 2 min read >

Salah satu aktivitas marketing adalah menyiapkan perangkat atau alat marketing. Mulai dari media cetak, elektronik, media internet (website dan media sosial) perlu disiapkan sedemikian rupa dalam strategi marketing sekolah.

Hampir setiap sebelum tahun ajaran baru dimulai, banyak sekolah menyiapkan perlengkapan standar menyambut periode tersebut seperti: spanduk, poster, dan brosur.

Untuk saat ini kita akan fokus membahas tentang brosur. Hampir semua sekolah memiliki alat promosi ini, entah bentuknya lipat 3, lipat 2, atau satu lembar saja.

Mungkin sebagian besar anda juga sempat terlintas pertanyaan, seberapa efektif brosur di era sekarang ini? Saya pun juga masih penasaran dengan pertanyaan ini, kemudian bertanya kepada beberapa pimpinan sekolah dan jawabannya pun bervariasi, namun hampir separuh lebih menjawab brosur masih cukup membantu proses pemasaran sekolah.

Menurut data dari Bentley University, sebanyak 79% turis suka mengambil brosur, 85% orang yang membaca brosur belajar tentang bisnis baru, dan 61% orang membeli produk begitu mereka melihatnya di brosur.

Jadi, sebenarnya brosur yang dicetak masih memiliki dampak yang signifikan pada strategi pemasaran sekolah jika dirancang dan di desain dengan baik dan menarik. Sayangnya, tidak semua brosur sekolah di desain dengan menarik dan justru seringkali tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Oleh karena itu, saya mencoba menuliskan 4 daftar kekurangan brosur yang perlu anda pertimbangkan yaitu:

1. Jangkauan Terbatas

Jika kita mencetak brosur dalam jumlah tidak banyak. Bisakah anda perkirakan sejauh mana brosur ini tersebar? Jika sekolah anda merupakan sekolah yang berada di level kota/kabupaten dengan sasaran penduduk seluruh kota atau kabupaten. Maka pertanyaannya, sejauh mana brosur kita bisa tersebar ke semua kecamatan atau kecamatan yang menjadi target kita?

Apalagi jika budget cetak brosur tidak banyak, maka ruang jangkauan untuk brosur tersebut semakin terbatas. Maka, jika sasaran atau target sekolah anda lintas kota/kabupaten atau provinsi, maka brosur yang tercetak ini perlu mendapatkan ruang distribusi yang banyak. Untuk mengatasi itu, maka anggaran untuk mencetak brosur perlu mendapatkan perhatian serius.

2. Resiko Menjadi Usang

Brosur yang disebar lalu kemudian kita asumsikan disimpan oleh yang menerima brosur, akan memiliki beberapa peluang. Disimpan dengan rapi, jika memang sekolah kita menjadi sekolah incaran mereka, maka sewaktu-waktu brosur ini bisa dibaca berkali-kali. Atau sebaliknya, saat merasa brosur kita tidak menarik, apalagi jika dibandingkan dengan brosur sekolah lain lalu berakhir di tempat pembuangan.

Jika pun disimpan, informasi yang tertera di brosur tersebut tidak lebih dari periode waktu tertentu sebab tentu ada perubahan informasi.

3. Proses Ribet

Untuk menghasilkan brosur yang berkualitas dan menarik, dibutuhkan keterampilan khusus. Mulai dari brainstoring ide visual, menyusun teks dan gambar lalu menyamakan dengan brand sekolah/lembaga serta memastikan pesan dalam brosur tertangkap dengan baik.

Tidak semua sekolah memiliki tim SDM yang mumpuni di bidang desain brosur ini. Pada akhirnya proses desain yang benar-benar profesional harus kita serahkan pada agency desain (jika memang menginginkan hasil maksimal).

4. Ruang Teks Terbatas

Beberapa layout standar brosur yang menarik lebih fokus pada aspek visual selain teks. Jika terlalu banyak teks biasanya brosur akan terkesan penuh dan membuat pembaca enggan menuntaskan membaca (kecuali jika pembaca brosur tersebut benar-benar membutuhkan informasi) yang ada di brosur tersebut.

Jika teks yang dimasukkan ke brosur tidak banyak, maka tantangan besar berikutnya untuk memastikan informasi yang dibaca dan diterima oleh penerima brosur perlu kita selesaikan. Bagaimana mengemas brosur yang tidak banyak teks, tetapi tetap menarik dan membuat mereka mendaftar ke sekolah kita.

Nah, dari 4 kekurangan di atas kita perlu mencari solusi agar bisa memaksimalkan potensi dari brosur yang kita sebar. Jika kekurangan tersebut tidak bisa kita kendalikan dan atasi, maka kita perlu mencari alternatif yang lebih efektif dan efisien untuk mengomunikasikan nilai yang kita tawarkan kepada target market.

Boleh jadi, brosur yang tercetak dikonversi menjadi brosur digital dengan format dan layout tertentu untuk mempermudah keterbacaan atau justru mengubah brosur tersebut menjadi bagian dari website yang berisi penawaran (landing page) yang menarik.

Tentu saja, konversi brosur ke bentuk digital lain ini perlu dikuatkan dengan data tentang perilaku yang kita targetkan, apakah dengan mengubah brosur membuat mereka semakin tertarik atau justru sebaliknya.

Kita mungkin akan membahas lebih lanjut di edisi berikutnya tentang ini. Bagaimana menurut anda? Apakah brosur masih relevan untuk sekolah anda? Atau anda memiliki alat lain yang lebih powerfull? Mari berbagi di kolom komentar!

Written by Bang Ridlo
Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk! Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published.