Marketing Funnel AIDA untuk Marketing Sekolah & Kelemahannya

Bang Ridlo

Jika bicara tentang strategi digital marketing secara umum, maka anda akan mengenal istilah funnel atau jika dialihbahasakan sebagai corong.

Corong ini merupakan gambaran dari perjalanan customer kita mulai dari mengenal produk atau layanan kita sampai dengan memutuskan untuk membeli.

Seperti halnya cara kerja corong, marketing funnel ini ‘menyaring’ calon customer (leads) sampai pada akhirnya tersaring menjadi customer kita.

Secara umum funneling sederhana yang digunakan kebanyakan para marketer sebagai berikut:

Sumber: https://stratoserve.com/

Bagaimana marketing funnel AIDA dalam marketing sekolah?

Tahapan AIDA

Awareness

Pada tahap ini calon customer (dalam hal ini adalah calon walimurid dan murid) ‘menyadari’ keberadaan dari sekolah kita.

Menyadari keberadaan ini adalah konsekuensi dari seringnya kita ‘muncul’ dan dikenali oleh calon customer atau target yang kita bidik.

Untuk menguji seberapa sadar mereka terhadap keberadaan sekolah kita adalah dengan bertanya pada masyarakat sekitar sekolah kita.

  • Apakah mereka tahu keberadaan sekolah kita?
  • Apakah mereka tahu seperti apa sekolah kita?
  • Apakah mereka tahu apa kelebihan dan keunggulan sekolah kita?

dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menguji seberapa kenal dan tahu mereka tentang sekolah kita.

Jika kita menggunakan pendekatan digital atau internet, maka saat target market melakukan pencarian dengan kata kunci nama sekolah kita di mesin pencari (contoh: Google), apakah mereka mendapatkan informasi yang jelas tentang sekolah kita?

Jika mereka melakukan pencarian di media sosial (contoh: facebook dan instagram), apakah mereka dengan mudah menemukan akun sekolah kita?

Interest

Pada tahap ini calon customer kita mulai tertarik dengan informasi tentang sekolah kita.

Mereka mulai mencari-cari brosur, membaca dengan cermat isi dari flyer maupun detil di pamflet, atau mereka mulai bertanya pada orang-orang yang menurut mereka lebih mengetahui tentang sekolah kita.

Decision

Pada tahap ini calon customer kita yang telah tertarik kemudian semakin tertarik dan ingin mengetahui cara mendaftarkan putra/i mereka dan semakin sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Jika kita menggunakan pendekatan digital, maka dalam tahap ini mereka boleh jadi menjadi follower di akun-akun media sosial kita. Mereka juga menjadi pembaca di website sekolah.

Atau bahkan mereka sudah melakukan kunjungan ke sekolah kita untuk melihat secara langsung program dan fasilitas yang ditawarkan di media promosi kita.

Action

Pada tahap ini mereka kemudian mengambil keputusan untuk mendaftarkan diri di panitia PPDB, mengisi formulir dan menyelesaikan setiap administrasi yang telah kita tentukan di SOP.

Teknis pada tahap ini tergantung dari SOP yang anda gunakan, apakah semua berbasis online sehingga semua pendaftaran dan pembayaran bisa dilakukan secara online.

Atau anda mengharuskan mereka untuk datang ke sekolah, mengisi formulir dan langsung menyelesaikan administrasi di sekolah sampai tuntas.

Jika anda juga memperhatikan funneling dalam bentuk corong ini dari atas besar kemudian mengecil. Ini adalah asosiasi dari jumlah dari leads pada masing-masing tahap dimulai dari Awareness sampai dengan Action yang semakin sedikit.

Kelemahan Marketing Funnel AIDA

Jika anda perhatikan marketing funnel AIDA berhenti pada tahap ACTION. Ini artinya tidak ada aktivitas ataupun strategi yang digunakan setelah calon walimurid kita memutuskan untuk mendaftar di sekolah kita.

Padahal, banyak sekali terjadi kasus seperti:

  • Setelah mengisi formulir pendaftaran, tidak datang saat seleksi (jika ada tahap seleksi)
  • Setelah mengisi formulir pendaftaran, tidak bersegera menyelesaikan administrasi (pembayaran dan pemberkasan)
  • Atau malah setelah daftar kemudian menjadi walimurid, tetapi memilih pindah ke sekolah lain dan justru merekomendasikan sekolah lain kepada jejaring mereka.

Selain kasus di atas, yang seringkali terjadi juga adalah aktivitas marketing seolah-olah berhenti setelah terjadinya ACTION.

Padahal, di era yang serba cepat berubah. Keputusan target market kita juga ikut cepat berubah.

Mereka mendapatkan berbagai informasi perbandingan dan lain-lain, yang akhirnya mempengaruhi keputusan mereka.

Pola AIDA di atas juga memberikan kesan satu arah dimana kita yang lebih aktif daripada target market dan bertumpu pada segala aktivitas marketing kita saja tanpa melibatkan target market secara langsung.

Ada juga yang mengatakan bahwa marketing funnel untuk promosi atau marketing sekolah membuat kita membuat target market menjadi objek, menjadi sasaran aktivitas marketing.

Oleh karena itu, beberapa marketer kemudian mengembangkan marketing funnel menjadi inbound marketing. Jika ingin tahu lebih detil tentang inbound marketing, anda bisa kunjungi tautan di tombol di bawah ini:

Lalu pertanyaannya, bagaimana mengatasi kelemahan tersebut? Apakah dengan mengatasi kelemahan tersebut bisa meningkatkan efektivitas strategi dari marketing funnel ini?

Kita akan diskusikan di artikel berikutnya!

0

Share on:

Leave a Comment