5 Hal yang Dilakukan Tim Marketing Sekolah saat KBM Sudah Berjalan

Bang Ridlo

Saat ini ditulis, kemungkinan sekolah sudah masuk pada bulan awal tahun ajaran baru. Mungkin juga tengah disibukkan dengan agenda rutin bulan Agustus.

Jika tim marketing sekolah yang telah bekerja keras semasa PPDB (sebelum masuk tahun ajaran baru), kini setelah masa tersebut selesai pertanyannya “Apa yang selanjutnya dilakukan oleh tim marketing sekolah?”

Saya mengasumsikan ada dua kondisi yang sekolah alami, pertama kondisi target PPDB terpenuhi. Kedua, PPDB dilakukan sepanjang tahun karena target tidak terpenuhi.

Skenario yang pertama dimana target PPDB terpenuhi apa yang dilakukan oleh tim marketing sekolah selanjutnya?

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, bahwa marketing sekolah TIDAK HANYA berkutat pada pencapaian PPDB atau PSB. Hal tersebut hanyalah sebagian dari konsekuensi. Mengapa demikian?

Jika kita menggunakan strategi Inbound Marketing (Flywheel Marketing) maka, saat ini adalah saatnya kita fokus kepada tahapan DELIGHT.

Tahap “Delight” dalam Flywheel Marketing pada penerapan untuk sekolah adalah tentang memastikan bahwa siswa, walimurid, dan stakeholder sekolah merasa puas dan terlibat dengan pelayanan pendidikan yang diberikan.

Maka ada beberapa hal yang bisa kita lakukan pada tahap DELIGHT seperti:

1. Pelayanan Prima

Ada yang bilang ini adalah inti dari marketing sekolah, sebab dari pelayanan prima inilah bukti kualitas layanan pendidikan yang diselenggarakan. Meskipun ini adalah tugas dari semua stakeholder sekolah, bukan hanya tim marketing sekolah.

Tugas utama dari tim marketing sekolah adalah memastikan seluruh channel yang digunakan untuk media komunikasi kepada walimurid ataupun masyarakat umum memberikan pengalaman atas pelayanan prima.

Sebab, inilah yang akan menjadi motor penggerak loyalis dari walimurid ataupun stakeholder lain yang serta merta menjadi bagian dari penggerak citra sekolah.

2. Mengembangkan Komunitas

Seringkali masalah yang timbul dalam pencapaian target PPDB ataupun peningkatan brand sekolah, adalah tidak adanya komunitas pendukung yang bisa digerakkan.

Jadi, ini adalah waktu yang tepat untuk memastikan komunitas yang sudah terbentuk, berjalan secara optimal. Jika sekolah kita belum memiliki komunitas walimurid, alumni ataupun masyarakat umum yang terbentuk, waktunya kita merancang dan menginisiasi terbentuknya komunitas tersebut.

Era serba teknologi memungkinkan kita mengembangkan komunitas yang berdaya meskipun menggunakan platform digital.

3. Konten Berkualitas

Saluran channel di media sosial, ataupun website resmi sekolah perlu senantiasa didukung oleh kontek-konten yang berkualitas.

Konten yang sengaja dirancang untuk membangun persepsi bahwa sekolah kita, benar-benar menyajikan dan memenuhi janji layanan pendidikan berkualitas serta menyelesaikan permasalahan walimurid yang resah.

Selain itu, konten yang menarik, fresh, up-to-date serta relateable dengan kehidupan dari audiens (target market) akan menjadi tabungan kekuatan saat dibutuhkan.

Tujuan utama selain membuat walimurid terpuaskan serta menjadi delight atas konten yang dirancang dan dipublikasikan oleh tim marketing atua humas sekolah, juga ini menjaga konsistensi publikasi terjaga.

Konten seputar kegiatan dan program unggulan sekolah, kegiatan harian siswa, pembelajaran di kelas atau di luar kelas, dalam betuk liputan atau dokumentasi perlu konsisten untuk dipublikasi.

Selain menjadi bukti yang tampak bagi walimurid sekaligus menjadi daya tarik bagi audiens lain yang mungkin menaruh ketertarikan.

4. Umpan Balik

Setelah pelayanan dan publikasi diberikan, kita perlu mendapatkan masukan dan umpan balik atas apa yang sudah diupayakan, salah satunya adalah survei kepuasan walimurid dan siswa.

Selain membuat kita menjadi lebih memahami apa yang menjadi keinginan terbesar dari walimurid, sekaligus mengukur keberhasilan kita dalam menyelenggarakan pelayanan prima di sekolah.

5. Kontinuitas Komunikasi

Manajemen konten edukasi di semua saluran, perlu perencanaan, pemetaan , produksi konten sampai dengan publikasi.

Komunikasi yang sudah terbangun lewat saluran tersebut perlu selalu kita pantau dengan evaluasi rutin.

Selain memudahkan kita meningkatkan interaksi, sekaligus bisa menjadi bahan menarik untuk perbaikan berkelanjutan.

Hubungan dengan walimurid dengan saluran yang umum seperti aplikasi Whatsapp juga bisa dioptimalkan.

Kelima hal di atas bisa dilakukan dan dioptimalkan sedemikian rupa dalam masa-masa seperti ini, dimana kegiatan belajar mengajar sudah aktif terlaksana.

Ingat, marketing sekolah bukan hanya aktif dan produktif saat mengejar target PPDB tetapi saat-saat seperti ini juga diperlukan aktivitas yang berdampak untuk menjaga agar customer yang sudah ter-engage dengan sekolah bisa menjadi DELIGHT (puas dan bahagia).

Target akhirnya adalah mereka menjadi orang yang pertama merekomendasikan layanan sekolah kita kepada oranglain.

Bagaimana menurut anda? Apakah kelima hal ini sudah dilakukan, atau tim marketing sekolah anda memiliki prioritas lain yang belum disebutkan? Mari kita diskusikan di panel komentar.

0

Share on:

Leave a Comment