Mengoptimalisasi Media Sosial Sekolah (Bagian 2)

Pada artikel sebelumnya (mengoptimalkan media sosial bagian pertama) telah kita diskusikan tentang dua langkah dalam mengoptimalkan media sosial sekolah yaitu: membentuk tim dan menyusun strategi.

Pada bagian kedua ini, kita akan melanjutkan langkah dalam mengoptimalkan media sosial sekolah yaitu:

3. Memproduksi Konten

Tantangan dalam memproduksi konten media sosial untuk sekolah adalah ketidaksiapan kompetensi SDM. Oleh karena itu pada langkah pertama, yakni membentuk tim sebaiknya sekolah atau lembaga telah mempersiapkan dengan benar, baik secara administrasi (SK, Jobdes, dll) serta secara non administrasi (program penguatan, pelatihan, workshop) atau kerjasama dengan pihak ketiga.

black woman using laptop at table
Photo by Katerina Holmes on Pexels.com

Pada tahap memproduksi konten ini, tim yang telah dibentuk diharapkan mampu memulai dengan perencanaan yang tersusun (sesuai strategi).

Beberapa hal yang bisa dilakukan  adalah dengan membuat perencaaan konten secara bulanan dalam bentuk kalender konten, dimana di setiap harinya telah ditetapkan tema, besaran konten sekaligus item apa saja yang dibutuhkan untuk membuat konten tersebut. Baik berupa gambar, video sekaligus caption atau deskripsi dari tiap konten.

Setelah penentuan kalender konten tersedia, maka selanjutnya adalah eksekusi produksi konten.

Secara umum, konten media sosial terbagi menjadi 3 jenis, teks, gambar atau foto dan video. Menurut beberapa pakar media sosial, karakteristik konten ini menyesuaikan dengan audiens yang menjadi sasaran dari media sosial sekolah. Idealnya ini terjawab saat penyusunan strategi media sosial sekolah.

Untuk teks, tentu saluran yang digunakan bisa di facebook profil, facebook fanpage, Linkedin, dan twitter ataupun Grup WA. Untuk gambar atau foto serta video bisa semua saluran media sosial (dengan ukuran yang disesuaikan, 1:1 ; 3:4; 16:9).

Setelah menentukan jenis konten, kemudian untuk pembuatan konten berupa gambar dan video, bergantung pada kompetensi atau keterampilan tim media sosial yang telah dibentuk (jika tidak melibatkan pihak ketiga).

Pembagian tugas atau pelibatan pembuatan konten bisa juga melibatkan para civitas akademik seperti pola berikut ini:

  • Penanggung jawab tema konten harian = ketua dan tim media
  • Pemasok konten (foto, video dan teks) = semua walikelas
  • Pembuat konten = staf desain grafis atau guru/staf lembaga yang memiliki keterampilan desain grafis
  • Admin = tim media

4. Evaluasi & Perbaikan

Setelah memproduksi konten dan menjaga konsistensi publikasi konten yang sudah disesuaikan dengan jadwal yang dibuat, maka tahap selanjutnya adalah mengevaluasi konten tersebut.

evaluasi media sosial
Photo by Scott Graham on Unsplash.com

Pola evaluasi ini bisa terbagi menjadi dua jenis:

  • Pertama, mengevaluasi ketercapaian perencaan pembuatan konten. Dalam hal ini, pimpinan tim media bertanggung jawab kepada pimpinan sekolah atau lembaga untuk mengukur kinerja produksi konten yang telah direncanakan.
  • Kedua, mengevaluasi ketercapaian target dari strategi yang dirancang. Key performance indicator (KPI’s) yang menjadi target acuan keberhasilan departemen media sosial atau tim media sosial sekolah menjadi ukuran keberhasilan konten yang dibuat. Seperti, peraihan jangkauan, interaksi dengan audiens, jumlah pertumbuhan pengikut dan lain-lain.

Hasil evaluasi ini (bisa mingguan atau bulanan) yang dilakukan, menjadi dasar perbaikan dan inovasi untuk strategi dan perencanaan berikutnya. Setidaknya, evaluasi dilakukan secara bulanan, agar kita mengetahui efektivitas media sosial terhadap citra sekolah dan lembaga yang terbangun.

Hasil evaluasi ini juga menjadi penentu perbaikan dari jenis konten ataupun karakteristik konten yang dibutuhkan oleh audiens sekaligus mendapatkan jumlah ketertarikan dan antusiasme yang besar dari audiens lama ataupun yang baru.

Nah, secara sederhananya optimalisasi media sosial sekolah yang dimulai dari pembuatan tim sampai dengan evaluasi akan membuat media sosial sekolah ataupun lembaga mampu memiliki dampak yang besar terhadap pertumbuhan citra (branding) sekolah ataupun ikut serta menyukseskan program marketing sekolah yang tidak bisa kita lepaskan dari optimalisasi media sosial sekolah.

Nanti akan kita bahas secara khusus, bagaimana media sosial juga menjadi salah satu strategi pendekatan dari marketing sekolah digital.

Bagaimana menurut anda, cara mengoptimalisasi media sosial sekolah ini? Sudahkan diterapkan di sekolah dan lembaga anda? Bagaimana dampaknya? Mari kita diskusikan di panel komentar.

Leave a Reply

Item added to cart.
0 items - Rp0
%d bloggers like this: