Diagram Fishbone dalam Kepemimpinan Sekolah

Bang Ridlo

Pernahkah anda mendengar tentang diagram fishbone atau diagram tulang ikan?

Diagram fishbone atau tulang ikan juga dikenal dengan nama diagram Ishikawa yang diambil dari orang yang mengenalkan pertama kali yakni Dr. Kaoru Ishikawa.

Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1968 dan diagram ini merupakan salah satu dari 7 alat yang diperkenalkan beliau sebagai alat bantu untuk melakukan QC (Quality Control).

Sejatinya, diagram fishbone atau tulang ikan ini digunakan pertama kali di sektor industri untuk menemukan biang atau akar penyebab dari permasalahan yang terjadi di pabrik atau industri.

Bentuk digram ini mirip tulang ikan, maka dikenal istilah diagram fishbone.

Mengapa Perlu Diagram Fishbone?

Diagram fishbone ini digunakan untuk mencari akar penyebab dari suatu permasalahan. Jika sudah ditemukan akar penyebabnya, maka harapannya adalah masalah tersebut teratasi dan tertangani dengan baik.

Sebab, seringkali masalah yang kerap muncul tidak bisa terselesaikan dengan optimal, atau bisa jadi terasi dalam jangka waktu tertentu kemudian muncul kembali.

Boleh jadi, solusi yang dilakukan hanya menyentuh ‘batang’ atau ‘cabang’ penyebabnya, belum menyentuh ‘akar’ penyebabnya.

Bagaimana Memulai Membuat Diagram Fishbone?

Untuk memulai membuat diagram fishbone ini kita perlu melakukan menyiapkan lembar kerja seperti kertas A2 atau karton (jika melakukan dengan banyak orang) lalu melakukan langkah sebagai berikut:

1. Pernyataan Masalah

Kita dan tim, perlu memilih permasalahan yang ingin kita cari akar penyebabnya secara jelas. Sebab, dari sekian banyak permasalahan tentu kita harus memilih mana yang perlu diprioritaskan berdasarkan dampak dan sumber daya yang kita miliki.

Pernyataan masalah ini kita letakkan pada ‘kepala ikan’, disebelah kanan atau kiri tidak masalah.

Lihat gambar berikut:

diagram fishbone

2. Buat Kategori Penyebab

Setelah menentukan masalah, langkah berikutnya adalah membuat tulang-tulang yang menjadi penyebab umumnya.

Ada beberapa pendekatan untuk menentukan kategori penyebabnya, Contoh: jika permasalahan tersebut berhubungan dengan marketing. Maka boleh jadi kategori penyebab umumnya adalah elemen dalam 7P (Marketing Mix) mulai dari people, price, place, process, product, promotion, dan physical evidence.

Jika tidak ada landasan teori ataupu pengetahuan sebelumnya, bisa juga penyebab secara umum yang terlintas dulu yang dijadikan kategori penyebab.

Contoh: Masalah yang sedang dihadapi adalah ketidakkedisiplinan siswa naik hingga 10%. Kategori penyebab yang mungkin bisa kita jadikan acuan adalah kebijakan sekolah, guru, siswa, orangtua, dan lingkunan.

Lihat gambar berikut:

diagram fishbone

3. Buat & Tuliskan Penyebab Turunan

Setelah kategori penyebab ditentukan, masing-masing kategori tersebut diturunkan menjadi penyebab-penyebabnya.

Contoh: Masalah yang sedang dihadapi adalah ketidakkedisiplinan siswa naik hingga 10%. Kategori penyebab yang mungkin bisa kita jadikan acuan adalah kebijakan sekolah, guru, siswa, orangtua, dan lingkunan.

Turunan dari kategori Kebijakan Sekolah seperti berikut:

  • Kebijakan aturan sekolah masih tidak jelas
  • Aturan sekolah terlalu banyak dan tidak mudah diingat
  • Kebijakan aturan sekolah tidak terkomunikasi kepada semua civitas sekolah

Lihat gambar berikut ini

diagram fishbone

4. Ajukan Pertanyaan “Mengapa”

Setiap menemukan sebab, uji penyebab tersebut dengan pertanyaan “Mengapa….”. Contoh:

  • Kebijakan aturan sekolah masih tidak jelas.
  • Mengapa tidak jelas? Karena terlalu banyak poinnya.
  • Mengapa terlalu banyak poinnya? Karena ingin membuat batasan yang jelas sejelas-jelasnya.
  • Sudah tahu semakin tidak jelas, mengapa perlu batasan-batasan jelas jika sederhana sudah jelas?

Ajukan pertanyaan “Mengapa” sampai kita kehabisan jawaban alias mentok. Pertanda bahwa penyebab tersebut boleh jadi adalah akar penyebab manakala kita sudah kehabisan jawaban.

5. Rekap Semua Penyebab & Tentukan Akar Penyebab

Setelah semua kategori penyebab secara umum diturunkan menjadi penyebab-penyebab yang lebih spesifik.

Kita perlu merekapitulasi penyebab tersebut dan melakukan analisis serta menemukan mana yang menjadi akar penyebabnya.

Catatan Penting Lainnya

Jika anda perhatikan digram fishbone ini seperti kita sedang melakukan brainstorming atau penggalian ide.

Ya benar, ini adalah metode penggalian ide bersama. Artinya, diagram ini akan menjadi sangat efektif jika dikerjakan bersama tim. Terutama tim yang memang menjadi pelaku atau pelaksana di lapangan.

Pembagian tim juga bisa dilakukan untuk masing-masing kategori penyebab sekaligus bagian dari tim tersebut mendiskusikan penyebab-penyebab tersebut.

Boleh jadi, saat sesi brainstorming berjalan, kita belum menemukan akar penyebabnya. Tidak mengapa jika masih ada waktu, kita perlu mengendapkan hasil brainstorming tersebut. Beberapa organisasi sengaja menempelkan diagram fishbone tersebut di lorong atau koridor sehingga banyak orang yang ikut memperhatikan dan diberikan kesempatan untuk menambah penyebab-penyebab lain yang belum dituliskan di diagram tersebut.

Bagaimana menurut anda? Apakah diagram fishbone ini akan membantu anda menemukan akar penyebab dari masalah yang seringkali muncul di sekolah? Mari kita diskusikan di panel komentar!

1

Share on:

Leave a Comment