Muara Kepemimpinan: Self-Leadership

Bang Ridlo

Begitu banyaknya teori dan praktik kepemimpinan, Om Lars ini mengajukan konsep Self-Leadership. Secara umum tentang ajakan, sebelum kita memimpin banyak orang, mari kita coba melatih memimpin diri sendiri.

Konsep yang sangat sederhana, dan pastinya kita sebenarnya telah melakukannya selama ini bukan?

Seperti halnya parenting dalam pengasuhan, kepemimpinan memiliki konsep serupa. Dimana, kita sebagai pemimpin menjadi ‘pengasuh’ dari orang-orang yang kita pimpin.

Om Lars, mengawali dengan ajakan untuk merefleksikan pemimpin terbaik yang pernah memimpin kita sampai hari ini. Pastinya, sebagian dari kita memiliki ingatan tentang sosok pemimpin yang terbaik.

Masalah Klasik Dalam Leadership

Setiap pemimpin, menurutnya memiliki tantangan atau masalah yang jika dirumuskan seperti ini:

Leadership Problem = TLT x People x Power

TLT adalah singkatan dari too little time (waktu yang terlalu sedikit). Boleh jadi sebagian dari kita sebagai pemimpin menghadapi situasi seperti ini. Dimana waktu yang tersedia terbatas, namun begitu banyak hal yang harus kita lakukan dan putuskan di waktu yang terbatas tersebut. Saat kita mencoba melemparkan tugas tersebut ke tim, mereka justru saling melempar satu sama lain tanpa henti.

Masalah kedua dari kepemimpinan adalah tentang people. Mengelola orang atau manusia. Tim kita pasti memiliki berbagai latar belakang dan jenis pengalaman serta karakteristik. Tantangan mengelola orang-orang dengan pelbagai jenis ini adalah tantangan seorang pemimpin.

Masalah ketiga dari kepemimpinan adalah tentang power. Om Lars mencontohkan salah satu riset yang dilakukan oleh University of Barkeley dimana mereka membagi 3 kelompok mahasiswa, 2 kelompok diarahkan mengerjakan tugas selama 2 jam dan 1 kelompok lain secara acak menjadi supervisor.

Sembari mengamati proses masing-masing kelompok, peneliti ini kemudian membagikan kue kering kepada peserta maupun supervisor.

Hasilnya, para supervisor menghabiskan lebih banyak kue dibanding peserta dan meninggalkan remahan kue kering lebih banyak di atas meja.

Penelitan ini menunjukkan saat seseorang diberikan power  dalam bentuk peran sebagai supervisor memiliki kecenderungan untuk menang lebih banyak dan cenderung abai (kurang empati).

Masalah tersebut adalah masalah klasik kepemimpinan jaman dulu sampai sekarang.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Om Lars mengajak audiens untuk kembali merefleksikan salah satu tokoh bernama Marcus Aurelius (tokoh utama filosofi teras dan sekaligus kaisar romawi saat itu) yang boleh dibilang sebagai pemimpin yang tercerahkan (bijaksana-termasuk 5 Raja terbaik Romawi dalam hal kepemimpinan).

Kebahagiaanmu dalam hidup tergantung dari kualitas pemikiranmu. Berperilakulah yang luhur, gunakan waktumu degan baik serta bersikaplah bahagia. Maka, engkau akan jatuh dari pohon kehidupan seperti buah yang matang.

Marcus Aurelius

Menurut Om Lars, Marcus Aurelius menjadi pemimpin hebat karena fokus pada kualitas pemimpin diri (Self-Leadership). Memimpin seseorang, sebelum memimpin banyak orang.

Terdapat 3 area yang bisa kita latihkan saat kita ingin meningkatkan kualitas Self-Leadership:

1) Self-Awareness

Kesadaran akan diri sendiri. Menyadari kekuatan dan kekurangan diri.

Cara melatihkan ini adalah dengan menanyakan pada diri sendiri, dari skala 1-10 seburuk apa cara kita memimpin hari ini? Dan bagaimana mengurangi angka tersebut?

Cara ini diharapkan membuat kita menyadari kekurangan-kekurangan diri dan mengatasi kekurangan tersebut setiap harinya. Sebab, kadangkala saat kita bertanya pada tim, kita tidak mendapatkan feedback yang cukup.

2) Self-Reflection

Mirip seperti self-awareness, untuk self-reflection ini kita dalam tiap hari setidaknya memberikan porsi 5 menit untuk merefleksikan apa yang sudah kita lakukan sebagai pemimpin.

Apa saja yang kita lakukan untuk menuju pemimpin terbaik dan bagaimana strategi kita mengatasi tantangan hari ini?

3) Self-Regulation.

Setelah kita menyadari diri dan melakukan refleksi tiap harinya, suatu saat mungkin kita dihadapkan pada pilihan situasi yang kadang membuat kita sebagai pemimpin merasa kewalahan karena saking banyaknya.

Saat dihadapkan pada 1 kondisi misalnya. Lalu, menanyakan pada diri dari skala 1-10 seberapa penting dan urgent situasi ini dan sejauh mana ini berhubungan dengan visi kita pribadi. Jika memang ia berada di angka 10, maka kita bia all-out untuk menyelesaikannya.

Self-regulation ini melatihkan diri kita untuk mengetahui prioritas yang esensial bagi pribadi kita. Mengetahui aktivitas mana yang esensial dibandingkan aktivitas lain yang tampak penting namun tidak berhubungan dengan visi kita.

Pesan penutup dari Om Lars adalah saat kita ingin pemimpin diri sendiri hendaknya menginvestasikan waktu kita sebagian untuk melatihkan self-awareness, self-reflection dan self-regulation.

Bayangkan jika calon pemimpin masa depan telah melatihkan ini bertahun-tahun dan akhirnya ia menjad pemimpin banyak orang yang sesungguhnya.

People want to lead others. But, why not start by leading yourself?

Setelah menyimak video dari Om Lars ini, saya membayangkan bagaimana jika di sebuah institusi pendidikan juga melatihkan tentang Self-Leadership ini.

Mulai dari Self-Awareness dimana para siswa dilatih untuk menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta melatihkan keterampilan berpikir mereka, lalu Self-Reflection mereka dilatih untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari dan sejauh mana pencapaian terhadap apa yang mereka inginkan (target belajar)

Self-Regulation dimana saat mereka terbiasa dan dilatih untuk memilih dan memilah aktivitas yang benar-benar bermanfaat serta mendekatkan mereka pada cita-cita di masa depan.

Anda bisa membayangkan jika dalam kurun waktu 3-10 tahun mereka terlatihkan dengan 3 hal ini maka kita mungkin tidak akan kesulitan menemuan calon pemimpin terbaik di masa depan dari para siswa kita ini. Bagaiamana menurut anda pendidik?

0

Share on:

Leave a Comment