Ada satu momen yang hampir pasti terjadi di setiap raker sekolah. Anda mengusulkan program baru (baca: perubahan) yang menurut Anda jelas-jelas dibutuhkan. Lalu salah satu guru senior diam sebentar, lalu mereka berkata, “Program yang lama saja sebenarnya masih bisa jalan, kok.”
Reaksi pertama yang biasanya muncul di kepala kita, ya jujur saja: dia nggak mau berubah. Dia nyaman di zona amannya. Padahal kalau kita cek lebih dalam, jawabannya tidak sesederhana itu.
Nah, di artikel ini saya ingin mengajak Anda mengecek ulang asumsi itu, sebelum keburu menyimpulkan bahwa guru Anda “susah diatur” atau “anti perubahan.”
Resistensi Itu Bukan Tentang Menolak Tujuan
Ini yang sering keliru dipahami. Ketika seorang guru terlihat keberatan dengan program baru, kita cenderung membaca itu sebagai penolakan terhadap tujuannya. Padahal, dalam banyak kasus, yang ditolak bukan tujuannya, tapi ketidakpastian yang menyertainya.
Sebagian guru memang mengalami kesulitan beradaptasi karena merasa nyaman dengan praktik yang sudah dikenal, khawatir mengambil risiko, atau merasa kurang mendapat dukungan dan pelatihan untuk mengadopsi cara baru — tapi itu tidak berlaku untuk semua guru. Artinya, label “resisten” itu sering terlalu digeneralisasi. Ada guru yang benar-benar terbuka dengan ide baru, dan ada juga yang sebenarnya setuju dengan tujuannya, hanya saja belum yakin dengan caranya.
Oh ya, ini bukan cuma intuisi saya saja. John Kotter, profesor Harvard Business School yang risetnya soal manajemen perubahan sudah jadi rujukan selama puluhan tahun, menemukan bahwa lebih dari 70% inisiatif perubahan organisasi gagal, dan salah satu sebab utamanya adalah pemimpin meremehkan dinamika manusia di balik perubahan itu sendiri. Jadi kalau program baru di sekolah Anda jalan setengah hati, kemungkinan besar bukan karena gurunya bermasalah. Bisa jadi, jalan menuju perubahan itu disampaikan dg cara yg belum pas.
Tiga Hal yang Perlu Dicek Sebelum Menyimpulkan “Guru Nggak Mau Berubah”
Sebelum buru-buru memberi label, ada baiknya leader sekolah mengecek tiga hal ini dulu.
1. Apakah mereka benar-benar paham alasannya?
Sering kali program baru diumumkan dengan jelas soal apa yang harus dilakukan, tapi kurang jelas soal mengapa itu penting. Guru yang tidak memahami alasan di balik sebuah keputusan biasanya akan menjalankannya dengan setengah hati, bukan karena malas, tapi karena tidak melihat urgensinya.
2. Apakah mereka merasa mampu menjalankannya?
Ini jg sering terlewat. Seorang guru bisa saja setuju 100% dengan tujuan program, tapi diam-diam khawatir tidak punya kemampuan yang cukup untuk memenuhi standar baru. Kekhawatiran ini jarang disampaikan terbuka, karena terasa seperti mengakui kekurangan di depan rekan kerja.
3. Apakah dukungan yang dibutuhkan sudah tersedia?
Riset soal resistensi guru terhadap Kurikulum Merdeka menunjukkan pola yang cukup konsisten. Banyak guru menjadi skeptis terhadap kebijakan baru karena pengalaman sebelumnya: pelatihan yang terbatas, pedoman yang terlambat diterima, dan ketidaksesuaian antara teori dengan praktik di lapangan. Kalau pola ini berulang dari tahun ke tahun, jangan heran kalau guru mulai bersikap “lihat dulu, jangan buru-buru ikut” setiap kali ada program baru diperkenalkan.
Jadi sebelum menilai gurunya, coba tanya dulu ke diri sendiri: apakah ketiga hal di atas sudah benar-benar dipastikan?
Jadikan Resistensi Sebagai Data, Bukan Sinyal ‘Pembangkangan’
Cara pandang ini yang menurut saya paling humanis dan membantu, dan paling sering hilang dari diskusi-diskusi soal perubahan di sekolah: lihat resistensi sebagai informasi dan data, bukan sebagai tanda ‘pembangkangan’.
Ketika seorang guru terlihat keberatan, leader yang strategis akan bertanya: apa yang sebenarnya membuat ia keberatan? Apa yang belum ia pahami? Dukungan seperti apa yang ia butuhkan agar bisa bergerak dengan percaya diri?
Bukan berarti semua keberatan harus diterima, dan organisasi juga tidak perlu menunggu sampai semua orang sepakat 100%. Tapi, ketika orang merasa didengar dan dipahami alasannya, peluang keberhasilan perubahan biasanya jauh lebih besar dibanding ketika perubahan dipaksakan dari atas.
By the way, ini juga salah satu alasan kenapa raker tahunan jadi momen yang penting banget untuk dibahas dengan serius. Karena raker adalah salah satu dari sedikit forum di mana hal-hal seperti ini bisa diangkat terbuka, bukan dibahas diam-diam di ruang guru sehabis rapat.
Kebetulan, ini juga salah satu bagian yang saya bahas cukup dalam di Raker Strategis Blueprint — bagaimana memahami dan mengelola resistensi terhadap perubahan supaya keputusan yang lahir dari raker benar-benar bisa dijalankan, bukan cuma disepakati di atas kertas. Jika Anda penasaran, nanti saya ceritakan lebih lanjut di bagian akhir.
Jadi, Bagaimana Sebaiknya Leader Sekolah Bersikap?
Baiklah, mari kita rangkum jadi lebih praktis. Ketika ada guru yang terlihat menolak program baru, coba lakukan ini:
- Dengarkan dulu sebelum menilai. Tanyakan langsung apa yang membuat mereka ragu, jangan langsung berasumsi.
- Pisahkan antara menolak tujuan dan menolak ketidakpastian. Ini dua hal yang sangat berbeda dan butuh respons yang berbeda pula.
- Pastikan dukungan tersedia sebelum menuntut hasil. Pelatihan, pendampingan, dan waktu adaptasi bukan kemewahan, tapi bagian dari tanggung jawab leader.
- Jangan tunggu sampai semua orang 100% setuju. Keputusan tetap perlu dibuat, tapi dengan proses yang membuat orang merasa didengar.
Kedengarannya sederhana ya. Tapi justru karena sederhana, hal-hal seperti ini sering terlewat di tengah kesibukan menyiapkan agenda, data, dan logistik raker.
Penutup
Guru yang terlihat menolak program baru bukan selalu tanda bahaya. Kadang itu justru sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dijelaskan lebih baik, atau dukungan yang perlu disiapkan lebih matang. Tugas leader bukan memaksa semua orang setuju, tapi memastikan keberatan yang muncul didengar dan direspons dengan cara yang tepat.
Nah, kalau Anda merasa topik soal mengelola resistensi dan menjadikan raker sebagai forum yang benar-benar menghasilkan keputusan yang dijalankan ini relevan dengan tantangan di lembaga Anda, ini juga salah satu bagian inti dari Raker Strategis Blueprint — semacam sistem praktis yang saya susun supaya raker tahunan tidak berhenti di notulen, tapi benar-benar jadi mesin penggerak perubahan sekolah. Kalau nanti Anda butuh kerangka lengkapnya, tinggal cek lebih lanjut ya.

