kesalahan raker

7 Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Raker Sekolah

Hampir semua dari kita memahami bahwa raker adalah momen yang penting. Waktu disiapkan jauh-jauh hari, panitia dibentuk, materi dikumpulkan, bahkan tidak sedikit sekolah yang memilih mengadakan raker di luar kota agar peserta bisa lebih fokus berdiskusi. Artinya, dari sisi niat dan keseriusan, sebagian besar sekolah sebenarnya sudah memulai dengan baik.

Namun setelah beberapa tahun mendampingi raker di berbagai sekolah dan yayasan, saya sering menemukan sebuah ironi. Ketika saya kembali beberapa bulan kemudian, saat saya mengajukan pertanyaan, “Apa perubahan terbesar yang terjadi setelah raker kemarin?”

Jawabannya sering kali tidak sejelas ketika mereka menceritakan jalannya acara. Ada yang mengatakan programnya belum sempat berjalan, ada yang mengaku terlalu banyak target sehingga bingung harus memulai dari mana, bahkan ada yang tertawa kecil sambil berkata, “Rasanya tahun depan kita akan membahas hal yang sama lagi, Pak.”

Nah, dari situlah saya mulai kepikiran. Jangan-jangan persoalannya bukan karena sekolah tidak memiliki orang-orang yang hebat. Bukan juga karena para guru kurang bekerja keras. Boleh jadi ada cara berpikir yang perlu diperbaiki ketika kita menyelenggarakan raker.

Berikut tujuh kesalahan yang menurut saya paling sering terjadi. Saya juga pernah menemukannya ketika mendampingi sekolah, sehingga tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru sebaliknya, semoga bisa menjadi bahan refleksi bersama.

1. Menganggap Raker sebagai Agenda Tahunan, Bukan Momentum Menentukan Arah

Kesalahan pertama ini mungkin terdengar sepele, tetapi menurut saya justru menjadi akar dari berbagai masalah lainnya. Banyak sekolah memandang raker sebagai agenda yang memang harus dilaksanakan setiap awal tahun ajaran. Karena dianggap rutinitas, fokus utama akhirnya bergeser menjadi bagaimana acara berjalan lancar, bukan bagaimana forum tersebut menghasilkan keputusan yang benar-benar mengubah organisasi.

Akibatnya, ukuran keberhasilan raker sering kali menjadi sangat administratif. Peserta hadir lengkap, agenda selesai tepat waktu, notulen tersusun rapi, dokumentasi bagus, lalu semua orang pulang dengan perasaan lega karena satu agenda besar telah selesai dilaksanakan. Padahal, jika dipikir-pikir lagi, semua itu baru mengukur proses, belum menyentuh hasil.

Dalam buku Essentials of Organizational Behavior, Stephen P. Robbins menjelaskan bahwa, kepemimpinan transformasional berfokus pada kemampuan menyatukan orang pada sebuah visi dan tujuan bersama. Organisasi yang memiliki kesamaan arah cenderung menghasilkan kinerja yang lebih baik dibanding organisasi yang hanya sibuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Menurut saya, raker seharusnya menjadi ruang untuk membangun kesamaan arah tersebut, bukan sekadar menyusun daftar kegiatan tahunan.

Karena itu, pertanyaan pertama sebelum raker seharusnya bukan, “Agenda apa yang akan kita bahas?” melainkan, “Perubahan apa yang ingin kita capai setelah raker ini selesai?”

2. Terlalu Banyak Membahas Program, Terlalu Sedikit Membahas Solusi dari Akar Masalah

Saya pernah mengikuti sebuah raker yang dipenuhi berbagai usulan program. Hampir setiap unit datang membawa ide baru. Ada program peningkatan literasi, penguatan karakter, digitalisasi pembelajaran, branding sekolah, pengembangan SDM, hingga berbagai kegiatan insidental yang semuanya terdengar menarik.

Masalahnya, hampir tidak ada yang bertanya, “Sebenarnya masalah terbesar (akar masalah) sekolah kita saat ini apa?”

Nah, ini sering luput.

Kita begitu bersemangat membicarakan solusi sampai lupa mendefinisikan akar masalahnya terlebih dahulu. Akibatnya, program yang dibuat terasa seperti jawaban atas pertanyaan yang belum pernah disepakati bersama.

Jika penyebab rendahnya kepuasan orang tua adalah komunikasi yang kurang baik, menambah lima program baru belum tentu menyelesaikan masalah.

Jika penyebab turunnya kualitas pembelajaran adalah kemampuan guru dalam asesmen, membuat festival sekolah yang lebih meriah juga belum tentu memberikan dampak yang berarti.

Program yang baik selalu lahir dari pemahaman yang baik terhadap akar masalah. Bukan sebaliknya.

3. Terlalu Banyak Pendapat, Terlalu Sedikit Data

Saya cukup senang ketika peserta raker aktif berdiskusi. Forum akan terasa hidup ketika setiap orang berani menyampaikan pandangannya. Namun ada satu kalimat yang menurut saya perlu mulai dikurangi frekuensinya.

“Menurut saya…”

Kalimat itu tentu tidak salah. Pendapat tetap memiliki tempat dalam sebuah diskusi. Tetapi ketika keputusan strategis lebih banyak dibangun di atas persepsi daripada fakta, kualitas keputusan menjadi sangat bergantung pada siapa yang paling meyakinkan saat berbicara.

Padahal sekolah memiliki banyak data yang sebenarnya bisa digunakan sebagai dasar berpikir. Mulai dari hasil asesmen, tingkat kehadiran siswa, kepuasan orang tua, evaluasi program, kondisi keuangan, hingga data perkembangan guru. Sayangnya, data tersebut sering hanya menjadi lampiran presentasi, bukan bahan utama dalam pengambilan keputusan.

Stephen P. Robbins dalam Essentials of Organizational Behavior menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga mendorong proses berpikir yang rasional dan pemecahan masalah yang sistematis. Pendekatan seperti inilah yang menurut saya perlu mulai dibangun dalam forum raker.

Menariknya, ketika data mulai berbicara, perdebatan sering kali menjadi lebih sehat. Orang tidak lagi sibuk mempertahankan pendapat pribadi, tetapi bersama-sama mencari keputusan terbaik berdasarkan fakta yang tersedia.

4. Semua Program Ingin Menjadi Prioritas

Setiap unit tentu ingin programnya mendapatkan perhatian. Ini sangat wajar. Semua berangkat dari niat yang baik untuk memajukan lembaga. Namun persoalan muncul ketika seluruh program ingin diposisikan sebagai prioritas utama. Akhirnya, daftar program semakin panjang, target semakin banyak, sementara kapasitas organisasi tetap sama.

Guru menjadi kelelahan karena harus mengejar terlalu banyak agenda. Koordinator kesulitan melakukan pendampingan karena fokusnya terpecah. Kepala sekolah pun akhirnya lebih banyak memadamkan “kebakaran kecil” daripada memastikan perubahan besar benar-benar terjadi.

Dalam bukunya Good to Great, Jim Collins menunjukkan bahwa organisasi yang mampu bertahan dan berkembang bukanlah organisasi yang melakukan semuanya, melainkan organisasi yang memiliki disiplin untuk memilih sedikit hal yang paling penting. Mereka memahami bahwa mengatakan “ya” terhadap satu prioritas berarti harus berani mengatakan “belum” terhadap berbagai peluang lainnya.

Menurut saya, prinsip ini sangat relevan untuk sekolah. Sebab ukuran keberhasilan raker bukanlah banyaknya program yang berhasil ditulis di papan tulis, tetapi sedikitnya prioritas yang benar-benar mampu diwujudkan sepanjang tahun.

5. Menghindari Perbedaan Pendapat Demi Menjaga Suasana Tetap Nyaman

Saya pernah mendengar seorang kepala sekolah berkata, “Alhamdulillah, rakernya berjalan lancar. Tidak ada perdebatan sama sekali.”

Sekilas, kalimat itu terdengar sebagai kabar baik. Siapa, sih, yang ingin forum dipenuhi adu argumen? Namun semakin sering saya mendampingi proses diskusi di sekolah, semakin saya menyadari bahwa tidak adanya perbedaan pendapat belum tentu menjadi tanda bahwa keputusan yang diambil sudah berkualitas.

Boleh jadi semua peserta memang memiliki pandangan yang sama. Tetapi boleh juga ada peserta yang sebenarnya memiliki kekhawatiran, hanya saja memilih diam karena merasa tidak enak, sungkan kepada pimpinan, atau berpikir bahwa pendapatnya tidak akan mengubah keputusan.

Padahal organisasi yang sehat justru menyediakan ruang bagi perbedaan pandangan. Bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk menguji kualitas sebuah keputusan. Ide yang baik tidak perlu takut dipertanyakan. Sebaliknya, pertanyaan yang baik sering kali membuat sebuah ide menjadi jauh lebih matang.

Dalam dunia kepemimpinan, Stephen P. Robbins melalui bukunya Essentials of Organizational Behavior menjelaskan bahwa salah satu ciri kepemimpinan transformasional adalah kemampuan menstimulasi pemikiran anggotanya (intellectual stimulation). Pemimpin tidak sekadar meminta orang setuju, tetapi mendorong mereka berpikir, bertanya, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Nah, menurut saya, raker seharusnya menjadi ruang yang aman untuk melakukan itu. Forum ini bukan tempat mencari siapa yang benar, tetapi tempat mencari keputusan terbaik.

6. Tidak Ada Penanggung Jawab yang Benar-Benar Berani Mengambil Keputusan & Resiko

Jika saya boleh menyebut satu penyebab mengapa hasil raker sering berhenti di notulen, mungkin inilah jawabannya.

Keputusan sudah dibuat.

Program sudah disepakati.

Timeline sudah ditulis.

Tetapi ketika ditanya, “Siapa yang akan memastikan ini benar-benar berjalan?”, jawabannya sering kali masih kabur dan kemana-mana.

Kadang memang sudah ada nama PIC. Namun perannya hanya sebatas formalitas administrasi. Tidak ada mekanisme untuk mengecek progres, tidak ada forum tindak lanjut, bahkan tidak ada indikator yang jelas untuk mengetahui apakah sebuah program sedang berjalan sesuai rencana atau mulai keluar jalur.

Akibatnya, semua orang merasa sudah memiliki komitmen, tetapi pada saat yang sama tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa memiliki tanggung jawab penuh.

Anthony Muhammad dan Luis F. Cruz dalam buku Time for Change: Four Essential Skills for Transformational School and District Leaders mengingatkan, perubahan tidak cukup hanya dimulai dengan komunikasi yang baik. Pemimpin juga perlu membangun kapasitas, memberikan dukungan, dan melakukan monitoring secara konsisten. Tanpa tiga hal tersebut, perubahan biasanya hanya bertahan sebagai semangat sesaat.

Saya sangat setuju dengan pandangan tersebut. Dalam konteks sekolah, raker bukan hanya menghasilkan keputusan, tetapi juga harus menghasilkan kepemilikan. Ketika seseorang benar-benar merasa memiliki sebuah target, ia tidak akan menunggu diingatkan untuk mulai bergerak.

7. Menganggap Raker Berakhir Saat Acara Ditutup

Jika ada kesalahan yang paling sering tidak disadari, menurut saya inilah jawabannya.

Begitu sesi terakhir selesai, peserta berfoto bersama, saling bersalaman, menikmati makan siang, lalu kembali ke rutinitas masing-masing. Semua orang merasa raker telah selesai.

Padahal sesungguhnya, raker baru saja dimulai.

Perubahan tidak terjadi selama dua hari diskusi berlangsung. Perubahan terjadi pada sebelas bulan berikutnya, ketika keputusan-keputusan yang sudah dibuat mulai diuji oleh berbagai kenyataan di lapangan. Ada target yang meleset, ada hambatan yang tidak diperkirakan, ada prioritas baru yang tiba-tiba muncul. Di situlah kualitas kepemimpinan benar-benar diuji.

Sayangnya, banyak sekolah belum memiliki kebiasaan untuk kembali membuka hasil raker secara berkala. Dokumen yang disusun dengan penuh semangat perlahan tersimpan di dalam folder komputer. Notulen yang awalnya terasa sangat penting, beberapa bulan kemudian bahkan sulit ditemukan kembali.

Jika dipikir-pikir, ini cukup disayangkan. Kita rela meluangkan waktu berhari-hari untuk menyusun arah organisasi, tetapi hanya sedikit waktu yang kita sediakan untuk memastikan arah tersebut tetap dijaga sepanjang tahun.

Karena itu, menurut saya, keberhasilan raker tidak diukur pada hari terakhir acara. Keberhasilannya baru bisa dinilai ketika sekolah mampu mengatakan, “Keputusan yang kami buat enam bulan lalu masih menjadi panduan kami sampai hari ini.”

Itulah mengapa saya lebih senang menyebut raker sebagai sebuah siklus, bukan sebuah acara.

Penutup

Jika diperhatikan, tujuh kesalahan di atas sebenarnya memiliki akar yang sama. Kita terlalu sibuk menyempurnakan penyelenggaraan rakernya, tetapi kurang memberi perhatian pada sistem yang membuat keputusan tetap hidup setelah forum selesai.

Padahal tujuan raker bukan menghasilkan notulen yang rapi, bukan pula menyusun daftar program yang berderet-deret, berlembar-lembar. Tujuannya jauh lebih sederhana, sekaligus lebih menantang, yaitu membantu organisasi menentukan apa yang benar-benar penting untuk diperjuangkan dalam satu tahun ke depan.

Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa sekolah harus langsung mengubah semuanya sekaligus. Justru perubahan sering dimulai dari langkah yang kecil. Mungkin tahun ini sekolah mulai membawa data yang lebih baik ke ruang diskusi. Tahun depan mulai berani mengurangi jumlah prioritas. Tahun berikutnya mulai membangun kebiasaan melakukan review triwulanan. Sedikit demi sedikit, kualitas raker akan ikut berubah karena cara berpikir para pemimpinnya juga berubah.

Beberapa tahun terakhir saya banyak mencatat pola-pola seperti ini ketika mendampingi sekolah dan yayasan. Menariknya, tantangan yang muncul ternyata hampir selalu serupa meskipun ukuran sekolah, budaya organisasi, dan latar belakang pesertanya berbeda.

Dari berbagai pengalaman itulah saya mulai merangkum sejumlah refleksi, framework, checklist, dan alat bantu praktis yang kemudian berkembang menjadi Raker Strategis Blueprint™.

Harapan saya sederhana, semoga ia dapat menjadi teman berpikir bagi para kepala sekolah dan pengurus yayasan yang ingin menjadikan raker bukan sekadar agenda tahunan, tetapi benar-benar menjadi titik awal perubahan organisasi.

Sekolah tidak menjadi lebih baik hanya karena memiliki lebih banyak program. Sekolah bertumbuh ketika mampu memilih prioritas yang tepat, mengambil keputusan yang berani, dan menjalankannya secara konsisten hingga benar-benar memberi dampak bagi peserta didik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top