Mengapa Nilai dan Kebiasaan di Pesantren Sering Tidak Terbawa Pulang ke Rumah

Ada fenomena yang hampir selalu muncul setiap kali siswa kembali setelah liburan panjang, salah satunya setelah Lebaran.

Bukan soal aturan yang dilanggar. Bukan soal HP yang belum dikumpulkan. Tapi ada sesuatu yang lebih halus dan lebih sulit ditunjuk: murid/santri yang pulang terasa seperti orang yang berbeda dari yang pergi dua minggu lalu. Cara bicaranya berubah. Sikapnya berubah. Seolah ada versi lain dari dirinya yang muncul selama liburan, dan versi itu tidak mau pergi begitu saja ketika pintu gerbang asrama sudah tertutup kembali.

Sebenarnya, ini bukan lemahnya karakter. Ini akibat dari satu kenyataan yang sering kita abaikan: murid/santri kita hidup di dua dunia yang sangat berbeda, dan keduanya menarik ke arah yang berlawanan.

Dua Dunia, Dua Set Aturan, Dua Versi Diri

Di asrama, ada struktur yang jelas. Ada waktu bangun, waktu makan, waktu belajar, waktu ibadah. Ada ekspektasi yang sama untuk semua orang. Ada teman sebaya yang melakukan hal yang sama di waktu yang sama. Identitas yang terbentuk di sini adalah: saya adalah bagian dari komunitas ini, dan komunitas ini punya cara hidupnya sendiri.

Di rumah, terutama saat Lebaran, strukturnya berbeda total. Waktu tidur mengikuti selera. Makan mengikuti jadwal acara keluarga. Tidak ada teman yang mengingatkan sholat. Orang tua, dengan niat terbaik, sering membiarkan segalanya karena merasa “Kasihan, sudah lama di asrama.” Identitas yang muncul di sini adalah versi yang lebih lama, lebih luwes, dan sering kali lebih bebas.

Dua identitas itu hidup berdampingan di dalam satu orang.

Albert Bandura, psikolog yang mengembangkan teori Social Cognitive Theory, menjelaskan bahwa perilaku seseorang tidak hanya ditentukan oleh dirinya sendiri, tapi oleh interaksi terus-menerus antara diri, lingkungan, dan perilaku itu sendiri. Ketiga hal ini saling mempengaruhi. Artinya, ketika lingkungannya berubah drastis seperti saat berpindah dari asrama ke rumah, perilaku dan bahkan cara seseorang memandang dirinya sendiri ikut bergeser.

Inilah yang membuat transisi pasca liburan selalu berat, bukan hanya soal kebiasaan yang hilang, tapi soal identitas yang harus berpindah dari satu versi ke versi yang lain.

Yang Terjadi di Rumah Lebih Kuat dari yang Kita Kira

Bayangkan seorang murid/santri yang sudah tiga bulan terbiasa sholat berjamaah di musala. Di asrama, itu bukan keputusan besar. Semua orang melakukannya. Lingkungannya menopang.

Tapi di rumah saat Lebaran, situasinya berbeda. Saudara-saudara yang datang berkunjung tidak sholat berjamaah. Orang tua sibuk menyiapkan hidangan. Adik-adik sibuk main gadget. Tidak ada yang mengingatkan, bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena memang tidak ada sistem yang mendukung kebiasaan itu di sana.

Dan ketika santri itu melewatkan satu waktu sholat berjamaah, lalu dua waktu, lalu hampir seluruh liburan, bukan berarti dia tidak mau. Bisa jadi dia tidak tahu bagaimana mempertahankan kebiasaan tanpa sistem yang menopangnya. Ini keterampilan yang berbeda, dan keterampilan itu tidak pernah dilatih secara eksplisit.

Di sini letak masalah sesungguhnya. Asrama membangun kebiasaan dengan sangat baik. Tapi sering tidak membekali santri dengan kemampuan untuk membawa kebiasaan itu keluar dari ekosistem asrama.

Ketika Dua Dunia Tidak Punya Jembatan

Yang memperparah situasi adalah ketika dua dunia itu tidak pernah benar-benar terhubung.

Orang tua sering tidak tahu apa yang sedang dibangun di asrama. Mereka menerima laporan nilai, sesekali menerima surat pemberitahuan, tapi tidak benar-benar tahu ritme harian yang sedang dibentuk dan mengapa itu penting. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang harus dijaga saat santri ada di rumah.

Di sisi lain, pembina di asrama sering tidak tahu kondisi rumah santri. Tidak tahu apakah keluarganya supportif atau tidak. Tidak tahu apakah ada tekanan atau konflik yang dibawa pulang dan belum selesai saat kembali ke asrama.

Dua dunia itu berjalan paralel tanpa pernah benar-benar berbicara satu sama lain.

Penelitian tentang keterlibatan orang tua di lingkungan pendidikan residensial konsisten menunjukkan satu hal: siswa yang orang tuanya terlibat secara aktif, bukan sekadar menerima informasi, menunjukkan stabilitas perilaku yang jauh lebih baik setelah kembali dari liburan. Keterlibatan aktif di sini bukan berarti orang tua menjadi “asrama di rumah.” Tapi cukup memahami tiga atau empat hal kecil yang bisa dijaga selama liburan.

Tiga Hal yang Bisa Membangun Jembatan Itu

Ini bukan solusi yang butuh program besar atau anggaran tambahan.

Satu: Sebelum liburan, sampaikan ke orang tua dalam bahasa yang sederhana.

Bukan surat resmi dengan kop lembaga. Tapi pesan singkat yang berbunyi seperti percakapan biasa. Isinya cukup tiga hal: satu kebiasaan yang sedang dibangun dan mohon dijaga, satu hal yang sebaiknya dihindari selama liburan, dan satu pertanyaan yang bisa ditanyakan orang tua ke anak untuk menjaga koneksi dengan kehidupan asramanya.

Orang tua yang menerima informasi konkret seperti itu jauh lebih mungkin membantu, bukan karena mereka lebih peduli daripada sebelumnya, tapi karena sekarang mereka tahu apa tepatnya yang perlu dilakukan.

Dua: Bantu santri mengenali dua versi dirinya sendiri sebelum pulang.

Ini bisa dilakukan dalam sesi singkat sebelum liburan, tidak perlu satu jam. Cukup satu pertanyaan refleksi: “Satu kebiasaan apa yang paling ingin kamu jaga saat di rumah, dan apa yang kira-kira akan mencoba mengganggu kebiasaan itu?”

Pertanyaan itu memaksa santri berpikir lebih realistis tentang tantangan yang akan dihadapi di rumah. Dan santri yang sudah memikirkan tantangannya lebih siap menghadapinya daripada yang pulang tanpa berpikir apapun.

Jika ingin membekali murid/santri, pembina, atau orang tua dengan kerangka yang lebih lengkap soal ini, topik menjembatani dua dunia ini dibahas lebih dalam di The Habit Gap.

Tiga: Di hari pertama kembali, tanyakan tentang rumah sebelum bicara tentang asrama.

Sebelum masuk ke jadwal dan aturan, luangkan waktu sebentar untuk mendengar. Apa yang terjadi selama di rumah? Bagaimana Lebarannya? Ada yang berat atau tidak?

Pertanyaan sederhana itu melakukan dua hal sekaligus: membantu pembina memahami kondisi siswa yang sebenarnya, dan mengirimkan sinyal bahwa asrama adalah tempat yang aman untuk menjadi diri sendiri, bukan tempat di mana bagian “rumah” dari diri mereka harus disembunyikan.

Dua Dunia Tidak Harus Jadi Musuh

Rumah dan asrama tidak perlu identik. Tidak perlu punya aturan yang sama atau ritme yang sama persis.

Tapi keduanya perlu berbicara satu sama lain. Dan jembatan antara keduanya tidak terbentuk sendiri. Ia perlu dibangun secara sadar, sebelum liburan dimulai, bukan setelah santri kembali dengan perilaku yang sudah berubah.

Santri/murid yang bisa berpindah antara dua dunia tanpa kehilangan dirinya adalah santri yang punya keterampilan paling penting untuk kehidupan jangka panjang: kemampuan mempertahankan nilai dan kebiasaan baik bahkan ketika lingkungannya tidak mendukung.

Keterampilan itu tidak terbentuk secara otomatis. Ia perlu dilatih, dibekali, dan didampingi. Dan itulah persis yang dibahas secara lengkap di The Habit Gap, panduan praktis yang dirancang khusus untuk pembina, musyrif, dan pemimpin boarding school serta pesantren yang ingin pendekatan mereka benar-benar bekerja, tidak hanya saat siswa ada di depan mata, tapi juga ketika mereka sedang jauh dari asrama.

Dapatkan The Habit Gap di sini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top