Dampak Membuat ‘Pelanggan’ Kecewa

Hari ini waktunya belanja ke pasar, kata istri saya yang sedikit ‘memaksa’.

Disaat yang sama, saya lagi asik-asiknya mencorat-coret di whiteboard yang biasanya dibuat ngajarin anak-anak pas belajar.

Sudah hampir 2 tahunan saya membiasakan sarapan (non nasi). Menu yang paling sering adalah pisang rebus, telur rebus dan jagung rebus.

Sarapan yang menurut saya pas, tidak mengenyangkan, dan tidak bikin ngantuk.

Tapi, hari ini istri mengatakan sedang bosan dengan pisang. Ingin berganti buah yang lain.

Untungnya, di pasar di hari Senin ini penjual buah ada 4 yang bisa tinggal pilih.

Akhirnya pilihan menu pengganti pisang hari ini adalah alpukat.

Tapi tidak direbus.

Sesampainya di rumah, baru diketahui ternyata alpukat yang telah dibeli ada 2 buah yang mulai membusuk sebagian. Padahal, tadi si penjual bilang saya pilihkan yang matang dan paling baik.

Dari 5 buah, 2 buah alpukat yang hampir tidak bisa dimakan.


Jika diperhatikan penjual buah yang ini sebenarnya paling sepi diantara penjual yang lainnya. Maksudnya, sering saya mendapati ketiadaan pembeli tidak seperti penjual yang lainnya. Padahal bersebelahan, mungkin jaraknya hanya 6 meter.

Karena kecewanya istri saya, dia sudah menyimpulkan tidak akan pernah beli lagi disana. Kecewa. Merasa dibohongi oleh penjual.

Saya hanya mengamati dan mendengar ceritanya, sembari merefleksikan apa yang saya lihat sendiri kejadiannya.

Terlintas di benak saya tentang sekolah yang mungkin pernah melakukan hal yang dilakukan penjual buah alpukat tadi.

Karena ada 2 kemungkinan yang terjadi:

  • Penjual sengaja memberikan yang berkualitas rendah demi mendapatkan keuntungan
  • Penjual tidak sengaja (kurang teliti) dalam memberikan layanan

Keduanya memberikan dampak yang sama. Pembeli tidak ingin kembali.

Istri saya bukan tipe pengomel jika mendapati apa yang dia dapatkan tidak sesuai dengna keinginan, atau cenderung menyimpan kekecewaan.

Namun, jangan berharap ia kembali ke penjual tersebut.

Saya berasumsi dan merefleksikan ini jika situasi tersebut kita bawa ke ranah sekolah.

Sekolah yang kesulitan menarik perhatian walimurid baru, atau menambah jumlah murid baru boleh jadi melakukan 2 kesalahan yang mirip dengan penjual alpukat tadi:

  • Mengabaikan kualitas, merasa yang penting layanan sekolah sudah diberikan
  • Tidak melakukan perbaikan layanan secara berkesinambungan

2 kesalahan sederhana ini menurut saya potensi dampaknya sangat besar. Apalagi jika sudah mengecewakan walimurid yang ada.

Suara sumbang tentang buruknya layanan sekolah yang diperoleh oleh walimurid tidak bisa kita anggap sepele, sebab tidak jarang dari 1 suara kekecewaan yang tidak di atasi dengan baik, melahirkan puluhan dan ratusan persepsi kekecewaan berikutnya.

Efek domino yang membentuk persepsi masyarakat sekitar sekolah. Sekolah ini pelayanannya buruk.

Tidak jarang, suara kekecewaan itu tidak disampaikan langsung ke sekolah. Suara itu sayup-sayup terdengar di luar, semakin lama semakin besar dan membentuk persepsi baru.

Persepsi yang justru berlawanan dengan semangat para pendiri sekolah yang ingin berkontribusi kepada masyarakat.

Maka, pelayanan sekolah menjadi urgensi yang tidak bisa kita abaikan tanpa upaya maksimal. Apapun kondisi sekolah kita yang masih dilihat kurang fasilitasnya, justru tidak akan menjadi soal jika pelayanan yang kita berikan tulus dan ekselen.

Sudut pandang lain sebagai seorang guru yang boleh jadi terbiasa untuk ‘sekedar’ mengajar di kelas, tanpa melakukan perbaikan setelah mendapati proses belajarnya ‘biasa saja’ dan cenderung ‘tidak menggairahkan’ murid.

Lama-lama, murid kita akan kehilangan minat dan antusias di kelas. Sebab, kita terbiasa tidak begitu memperdulikan kualitas ‘cara ngajar’ kita di kelas.

Semoga pekan ini kita bisa memperbaiki performa diri daripada pekan sebelumnya. Aaamiiin..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top