Ketekunan yang Membutakan: Saat Kita Terlalu Sibuk untuk Bertanya

Ada masa dalam hidup saya ketika sibuk terasa seperti tanda keberhasilan. Setiap hari saya datang paling pagi, mengajar penuh semangat, menyiapkan materi, menulis modul, bahkan mengikuti pelatihan di luar jam kerja. Setiap malam saya menutup hari dengan rasa puas, melihat daftar tugas yang hampir semuanya selesai. Saya percaya kerja keras seperti ini adalah satu-satunya cara untuk maju.

Namun, di balik semua kesibukan itu, ada keganjilan yang sulit saya akui. Saya tahu saya sedang bergerak, tapi tidak tahu ke mana. Saya mengejar sesuatu, tapi kehilangan arah dan makna. Semua yang saya lakukan terasa penting, tapi tak lagi membuat saya hidup.

Ketika Tekun Tapi Salah Arah

Beberapa tahun kemudian, saya membaca buku Mendaki Tangga yang Salah karya Eric Barker. Salah satu kalimat di sana membuat saya berhenti lama di halaman itu:

“Kadang, orang yang paling keras kepala justru tidak mencapai apa-apa, bukan karena mereka kurang gigih, tapi karena mereka keras kepala di jalan yang salah.”

Kalimat itu sederhana tapi mengguncang. Saya tiba-tiba sadar, mungkin dulu saya juga begitu—tekun, tapi salah arah.

Sejak kecil kita diajari untuk tekun dan tidak menyerah. Nasihat itu baik, tapi menjadi berbahaya saat kita tidak lagi tahu untuk apa kita tekun. Orang yang tekun bisa terjebak lebih dalam karena ia terus maju, bahkan ketika jalan yang ia tempuh sudah salah. Dan semakin banyak energi yang sudah kita keluarkan, semakin sulit untuk berhenti, karena kita merasa rugi kalau mundur.

Saya pernah ada di posisi itu.

Saya sibuk menjadi guru yang rajin, tapi kehilangan arah sebagai manusia.

Saya bangga karena tak kenal lelah, padahal mungkin yang saya butuh bukan tenaga tambahan, tapi keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah saya masih berada di jalur yang benar?


Kesadaran itu akhirnya saya tuangkan dalam 7 Insights Mendaki Tangga yang Salah, kumpulan refleksi pribadi setelah membaca buku Om Eric Barker berkali-kali. Setiap kali saya membuka ulang halamannya, selalu ada pemahaman baru—tentang keanehan yang bisa jadi kekuatan, kebaikan yang perlu batas, hingga ketekunan yang butuh arah yang jelas. Jika kamu pernah merasa sibuk tapi hampa, mungkin kamu juga sedang perlu berhenti sejenak, menata ulang arah, dan membaca ulang dirimu sendiri.

Om Eric Barker juga menulis bahwa berhenti di waktu yang tepat bukan kelemahan, melainkan kebijaksanaan. Dulu saya tidak percaya itu. Saya takut kehilangan momentum, takut dianggap gagal, takut kehilangan identitas sebagai “guru yang kuat.”

Tapi setelah melalui banyak kelelahan batin, saya tahu: tidak semua langkah ke depan berarti kemajuan. Kadang, langkah terbaik justru satu langkah ke samping, untuk melihat arah dengan lebih jernih.

Menemukan Arah dan Arti Ketekunan

Pelajaran ini menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya mulai berani melambat dan menolak hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai hidup yang saya yakini. Saya juga berhenti mengukur keberhasilan dari banyaknya aktivitas, melainkan dari seberapa bermakna aktivitas itu bagi diri saya dan orang lain. Sejak itu, saya tidak lagi sibuk untuk sekadar sibuk.

Saya tidak lagi takut melambat, karena saya tahu melambat bukan berarti berhenti. Saya justru takut berjalan cepat tanpa arah, sibuk tapi tidak sadar, tekun tapi tidak hidup. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tapi siapa yang paling tahu tembok mana yang pantas dijadikan sandaran.

Sekarang saya percaya, ketekunan sejati bukan diukur dari seberapa lama kita bertahan, tapi dari seberapa jujur kita menjaga arah. Bekerja keras tetap penting, tapi ia hanya berarti kalau dijalankan dengan kesadaran. Karena kerja keras tanpa arah hanyalah bentuk lain dari pelarian, dan pelarian yang dibungkus rapi sering kali tampak seperti ketekunan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top