deep learning

3 Prasyarat Sekolah Siap Menerapkan Deep Learning

Semenjak Pak Menteri mulai mengenalkan beberapa perubahan yang akan dilakukan, salah satunya adalah pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang akan mewarnai kurikulum nasional.

Beberapa pelatihan, workshop, webinar ataupun edukasi untuk mulai memberikan awareness kepada insan pendidik sudah tampak ramai.

Pembicaraan di media sosialpun juga tidak kalah ramai, mulai dari sorotan prinsip yang berakhiran -ful – (Mindful, Meaningful & Joyful) ataupun spekulasi mengenai perubahan lain yang akan mengikuti.

Tapi, pertanyaan besarnya adalah: bagaimana cara memulainya? Apa saja yang harus dipersiapkan agar proses belajar benar-benar bisa berjalan lebih dalam dan bermakna?

Pembelajaran mendalam bukan sekadar mengubah metode mengajar, tapi mengubah cara berpikir dan cara belajar di sekolah.

Mengutip Michael Fullan dan timnya dalam buku Deep Learning: Engage the World Change the World (2018), ada tiga hal utama yang harus dipenuhi agar sekolah bisa siap menjalankan deep learning: kapasitas SDM, struktur pendukung, dan mindset atau budaya sekolah. Mari kita bahas satu per satu dengan bahasa yang sederhana.

1. Kapasitas SDM (Sumber Daya Manusia)

a. Guru yang Siap

Guru adalah kunci utama. Tanpa guru yang paham dan siap mengubah cara mengajarnya, pembelajaran mendalam tidak akan bisa terjadi.

Guru perlu tahu bahwa deep learning bukan tentang siswa menghafal, tapi tentang memahami dan berpikir kritis.

Guru perlu tahu cara membuat siswa aktif bertanya, mengeksplorasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah dunia nyata.

Pelatihan yang diberikan juga perlu berkelanjutan, bukan hanya sekali dua kali. Sekolah bisa mulai dari kegiatan kecil seperti berbagi praktik baik antar guru, atau membuat komunitas belajar guru di sekolah sendiri.

b. Pemimpin Sekolah yang Mendukung

Kepala sekolah memiliki peran penting. Jika pimpinan sekolah memberi ruang bagi guru untuk mencoba hal baru, tidak takut gagal, dan terus mendukung inovasi pembelajaran, maka guru akan lebih berani berubah. Kepala sekolah perlu menjadi pemimpin yang mendorong, bukan hanya mengawasi.

2. Struktur dan Sistem Pendukung

a. Waktu yang Cukup

Pembelajaran mendalam tidak bisa dilakukan dalam waktu yang terburu-buru. Misalnya, jika siswa diminta menyelesaikan proyek atau diskusi kelompok, mereka butuh waktu untuk memahami, mencari informasi, dan menyusun ide. Sekolah bisa mencoba memberi waktu belajar yang lebih panjang atau fleksibel untuk proyek-proyek tertentu.

b. Sistem Belajar yang Fleksibel

Sekolah juga perlu memberi ruang untuk pendekatan belajar yang tidak kaku. Misalnya, menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek, atau memberi kebebasan pada siswa untuk memilih cara menyelesaikan tugas. Ini akan mendorong rasa ingin tahu dan kreativitas siswa.

c. Penilaian yang Sesuai

Kalau yang dinilai hanya hafalan, maka siswa tidak akan tertarik berpikir mendalam. Penilaian dalam deep learning lebih menekankan proses: bagaimana siswa berpikir, berusaha, dan berkembang.

Portofolio, jurnal belajar, atau presentasi proyek bisa jadi pilihan. Seperti dijelaskan oleh Darling-Hammond dkk. (2017), penilaian yang relevan dengan dunia nyata membantu siswa belajar lebih bermakna dan bertanggung jawab.

3. Mindset dan Budaya Sekolah

a. Menghargai Proses

Bukan hanya hasil akhir yang penting. Sekolah harus mulai menghargai proses siswa dalam berpikir, mencoba, dan belajar. Ini bisa dimulai dari cara guru memberi pertanyaan terbuka atau memberi waktu untuk siswa berpikir sebelum menjawab.

b. Terbuka pada Banyak Solusi

Dalam deep learning, satu masalah bisa punya banyak jawaban. Sekolah yang siap menerapkannya harus terbuka pada perbedaan cara berpikir siswa. Ini justru menunjukkan bahwa mereka sedang berpikir kritis dan kreatif.

c. Kesalahan adalah Bagian dari Belajar

Kesalahan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru dari kesalahan, siswa bisa belajar lebih dalam. Budaya sekolah harus mulai mengubah cara pandang ini. Guru bisa mulai dengan memberi ruang aman bagi siswa untuk bertanya dan mencoba tanpa takut salah.

Penutup

Menerapkan deep learning memang tidak bisa langsung jadi. Tapi sekolah bisa mulai dari langkah kecil: membangun budaya kolaborasi guru, menata ulang cara menilai, dan memberi ruang bagi kreativitas siswa.

Selama ada kemauan untuk terus belajar dan berkembang, sekolah manapun bisa bergerak ke arah pembelajaran yang lebih bermakna.

Dengan memenuhi tiga prasyarat utama ini—SDM yang siap, sistem pendukung yang fleksibel, dan budaya sekolah yang mendukung proses berpikir—maka deep learning bukan lagi sekadar wacana, tapi bisa menjadi kenyataan di ruang-ruang kelas kita.

Referensi

  • Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep Learning: Engage the World Change the World. Corwin Press.
  • Darling-Hammond, L., Flook, L., Cook-Harvey, C., Barron, B., & Osher, D. (2019). Implications for educational practice of the science of learning and development. Applied Developmental Science, 24(2), 97–140. https://doi.org/10.1080/10888691.2018.1537791

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top