percakapan

Budaya Sekolah Ternyata Dibentuk dari Percakapan Kecil. Sudah Tahu?

Kalau saya bertanya, “Apa yang membentuk budaya sekolah?”

Mungkin jawabannya akan beragam.

Ada yang menjawab visi dan misi.

Ada yang menyebut nilai-nilai sekolah.

Ada yang mengatakan SOP atau tata tertib.

Semua itu benar.

Tetapi ada satu hal yang sering kita lupakan.

Budaya sekolah sesungguhnya dibentuk oleh percakapan yang terus diulang setiap hari.

Cara kepala sekolah merespons kesalahan guru.

Cara wakil kepala sekolah memberi umpan balik.

Cara koordinator memimpin rapat.

Cara yayasan mendengarkan kepala sekolah.

Sedikit demi sedikit, semua percakapan itu membentuk keyakinan bersama tentang “bagaimana organisasi ini bekerja.”

Pemikiran ini sejalan dengan apa yang dijelaskan Edgar H. Schein dalam bukunya Organizational Culture and Leadership. Menurut Schein, budaya organisasi tidak terutama dibentuk oleh slogan yang dipasang di dinding atau nilai-nilai yang dicetak dalam buku panduan. Budaya justru terbentuk dari perilaku yang secara konsisten diperlihatkan oleh para pemimpinnya.

Artinya, kalau setiap rapat kepala sekolah selalu menjadi orang pertama yang berbicara, lama-kelamaan guru belajar bahwa ide terbaik pasti berasal dari pimpinan.

Kalau setiap persoalan langsung diambil alih kepala sekolah, tim belajar bahwa berpikir bukanlah tanggung jawab mereka.

Kalau setiap kesalahan langsung disalahkan tanpa ruang berdialog, guru belajar bahwa lebih aman diam daripada mencoba.

Lho, bukankah itu yang sering terjadi?

Mungkin bukan karena pemimpinnya otoriter.

Sering kali justru karena pemimpinnya terlalu ingin membantu.

Tidak Semua Masalah Bisa Diselesaikan dengan Instruksi

Di sinilah saya merasa dunia pendidikan memiliki tantangan yang unik.

Banyak persoalan di sekolah sebenarnya bukan persoalan teknis.

Konflik antar guru.

Budaya datang terlambat.

Semangat belajar yang menurun.

Kolaborasi yang belum tumbuh.

Hubungan dengan orang tua.

Semua itu bukan masalah yang selesai hanya dengan membuat SOP baru.

Ronald Heifetz, melalui bukunya Leadership Without Easy Answers, membedakan antara technical problems dan adaptive challenges.

Masalah teknis biasanya memiliki prosedur yang jelas. Kalau komputer rusak, panggil teknisi. Kalau jaringan internet bermasalah, hubungi penyedia layanan.

Namun tantangan adaptif berbeda.

Ia menuntut perubahan cara berpikir, perubahan kebiasaan, bahkan perubahan identitas.

Dan sebagian besar tantangan yang dihadapi sekolah berada pada kategori ini.

Itulah sebabnya kepala sekolah sering merasa sudah mengadakan banyak rapat, membuat banyak aturan, bahkan memberikan banyak pelatihan, tetapi perubahan yang diharapkan tidak kunjung muncul.

Karena yang berubah baru prosedurnya. Belum cara berpikir manusianya.

Bukan Solusi yg Kurang, tetapi Pertanyaan yg Tepat

Semakin lama saya mendampingi sekolah, semakin saya percaya bahwa kualitas seorang pemimpin bukan hanya diukur dari kualitas jawabannya.

Tetapi dari kualitas pertanyaannya.

Pertanyaan yang baik membuat orang berhenti sejenak.

Merenung.

Melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Misalnya, daripada bertanya,

“Siapa yang salah?”

mungkin lebih baik bertanya,

“Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini?”

Daripada berkata,

“Pokoknya minggu depan harus selesai.”

kita bisa bertanya,

“Menurut tim, apa satu hambatan terbesar yang perlu kita bereskan lebih dulu?”

Perbedaannya memang tampak sederhana.

Tetapi dampaknya luar biasa.

Karena setiap pertanyaan membawa cara berpikir yang berbeda.

Saya jadi teringat sebuah kutipan dari Nancy Kline dalam bukunya Time to Think. Ia mengatakan bahwa kualitas berpikir seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas perhatian yang ia terima. Ketika seseorang benar-benar didengarkan tanpa buru-buru dipotong atau dihakimi, kapasitas berpikirnya justru meningkat.

Bukankah ini menarik?

Kadang kontribusi terbesar seorang pemimpin bukanlah berbicara.

Melainkan mendengarkan.

Kepala Sekolah Tidak Harus Menjadi Orang Paling Pintar

Ada satu jebakan yang sering dialami pemimpin.

Semakin tinggi jabatannya, semakin besar tekanan untuk terlihat tahu segalanya.

Padahal, tidak ada kepala sekolah yang memahami semua hal.

Tidak ada ketua yayasan yang menguasai seluruh persoalan.

Dan itu tidak apa-apa.

Justru pemimpin yang sehat adalah pemimpin yang berani berkata,

“Saya belum tahu. Mari kita pikirkan bersama.”

Kalimat sederhana seperti itu tidak mengurangi wibawa.

Sebaliknya, ia mengirim pesan bahwa organisasi ini adalah tempat belajar bersama.

Peter Senge pernah mengatakan bahwa organisasi yang bertahan bukanlah organisasi yang memiliki orang-orang paling cerdas, tetapi organisasi yang mampu belajar lebih cepat daripada perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini.

Perubahan dunia pendidikan begitu cepat.

Teknologi berkembang.

Harapan orang tua berubah.

Karakter murid berbeda.

Tidak mungkin semua jawaban selalu datang dari kepala sekolah.

Yang dibutuhkan justru semakin banyak guru yang mampu berpikir, berinisiatif, dan mengambil keputusan sesuai perannya.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan Mulai Besok?

Oke, mari kita let’s go ke hal yang paling praktis.

Kalau besok pagi Anda masuk ke sekolah, tidak perlu langsung mengubah sistem besar-besaran.

Cukup mulai dari tiga kebiasaan kecil.

Pertama, dengarkan sedikit lebih lama sebelum memberi solusi.

Kadang orang datang bukan karena membutuhkan jawaban.

Mereka hanya membutuhkan ruang untuk berpikir dengan suara keras.

Kedua, ganti beberapa jawaban menjadi pertanyaan.

Tidak setiap pertanyaan harus langsung dijawab.

Biarkan tim ikut mengolah persoalan.

Ketiga, rayakan proses berpikir, bukan hanya hasilnya.

Ketika guru berani mengemukakan ide, apresiasi keberaniannya, meskipun idenya belum tentu langsung sempurna.

Budaya belajar lahir dari rasa aman untuk mencoba.

Bukan dari rasa takut melakukan kesalahan.

Penutup

Kalau hari ini semua keputusan masih harus melewati meja Anda, mungkin masalahnya bukan karena tim Anda kurang kompeten.

Bisa jadi mereka hanya belum memiliki cukup ruang untuk bertumbuh.

Kalau setiap rapat selalu bergantung pada kesimpulan kepala sekolah, mungkin yang perlu diubah bukan agenda rapatnya.

Tetapi cara percakapannya.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan kepala sekolah bukan tentang menjadi orang yang selalu memiliki jawaban.

Kepemimpinan adalah tentang menciptakan lingkungan yang membuat semakin banyak orang mampu berpikir dengan jernih, mengambil tanggung jawab, dan bertumbuh bersama.

Saya ingin menutup artikel ini dengan satu pertanyaan reflektif.

Kalau suatu hari Anda mengambil cuti selama dua minggu, apakah sekolah tetap mampu berjalan dengan baik?

Kalau jawabannya “ya”, selamat.

Artinya Anda sedang membangun sistem.

Tetapi kalau jawabannya “tidak”, mungkin organisasi masih terlalu bergantung pada Anda.

Dan tidak apa-apa.

Kesadaran itu justru bisa menjadi titik awal perubahan.

Sebagai penutup, izinkan saya berbagi satu rekomendasi bacaan. Penulisnya adalah Mas Rio Purboyo, seorang teman yang cukup sering berdiskusi dengan saya tentang kepemimpinan, budaya organisasi, dan pengembangan manusia.

Saya cukup menikmati Percakapan Kepemimpinan bukan karena buku itu menawarkan teori yang rumit, tetapi karena ia mengingatkan bahwa perubahan organisasi sering kali tidak dimulai dari strategi besar, melainkan dari percakapan-percakapan kecil yang kita lakukan setiap hari.

Jika Anda seorang kepala sekolah, pengurus yayasan, atau memimpin sebuah tim pendidikan, saya rasa buku itu layak dibaca perlahan. Mungkin bukan untuk mencari jawaban atas semua persoalan, tetapi untuk membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih baik, mendengar dengan lebih utuh, dan memimpin dengan cara yang membuat lebih banyak orang ikut bertumbuh.

Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah seberapa sering ia menjadi pusat jawaban, melainkan seberapa banyak orang yang mampu berdiri, berpikir, dan memimpin setelah pernah dipimpin olehnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top