raker sekolah

Mengapa Raker Sekolah Sering Gagal Menghasilkan Perubahan?

“Rakernya kemarin seru sekali, Pak.” Kata walikelas yg ikut raker sekolah.

Kalimat seperti ini cukup sering saya dengar setelah sebuah sekolah selesai menyelenggarakan rapat kerja. Pesertanya antusias, diskusinya hidup, bahkan ada sesi yang membuat semua orang tertawa bersama.

Tapi biasanya saya tidak langsung ikut senang.

Saya justru penasaran dengan satu pertanyaan sederhana.

“Tiga bulan lagi, kira-kira apa yang berubah?”

Nah, di sinilah percakapannya mulai menarik.

Sering kali jawabannya tidak sejelas ketika mereka menceritakan jalannya acara. Ada yang bilang, “Nanti kita lihat dulu.”

Ada yang menjawab, “Semoga program-programnya bisa berjalan.”

Bahkan ada yang tertawa kecil sambil berkata, “Ya… mudah-mudahan tidak berhenti di notulen lagi.”

Kalau dipikir-pikir, ini kan agak ironis bukan?

Sekolah rela meluangkan waktu satu hingga beberapa hari untuk raker sekolah. Biayanya tidak sedikit. Energi yang dikeluarkan juga besar. Tetapi setelah beberapa bulan berlalu, dampaknya tidak selalu sebanding dengan usaha yang sudah dilakukan.

Bukan berarti semua raker gagal. Saya juga pernah melihat raker yang benar-benar mengubah arah sebuah sekolah. Namun, dari pengalaman mendampingi berbagai sekolah dan yayasan selama bertahun-tahun, saya melihat ada pola yang terus berulang ketika sebuah raker tidak menghasilkan perubahan yang berarti.

Masalahnya Bukan pada Raker Sekolahnya

Saya jarang percaya bahwa masalah utama ada pada teknis pelaksanaan. Jikapun ada, perbandingannya tidak sebesar lainnya.

Bukan karena tempatnya kurang nyaman.

Bukan karena acaranya kurang menarik.

Bukan juga karena konsumsi atau ice breaking-nya kurang seru.

Justru sebagian besar raker sekolah yang saya ikuti disiapkan dengan sangat baik.

Masalahnya sering kali muncul jauh sebelum peserta memasuki ruang rapat.

Cara berpikirnya sudah keliru sejak awal.

Raker sekolah dipandang sebagai agenda tahunan yang harus diselesaikan, bukan sebagai kesempatan untuk menentukan masa depan organisasi.

Akibatnya, forum lebih banyak dipenuhi presentasi daripada percakapan. Lebih banyak membahas daftar kegiatan daripada arah lembaga. Lebih banyak mencari kesepakatan daripada mengambil keputusan.

Lho, bukankah diskusi itu penting?

Tentu saja penting.

Namun diskusi hanyalah sarana.

Tujuan akhirnya adalah menghasilkan keputusan yang mampu menggerakkan organisasi.

Ketika Semua Program Terlihat Penting dalam Raker Sekolah

Ada satu fenomena yang hampir selalu saya temui.

Setiap unit datang membawa usulan program terbaiknya.

Divisi kurikulum punya ide.

Kesiswaan punya agenda.

Humas punya target.

Sarana prasarana juga memiliki daftar kebutuhan.

Semuanya terdengar masuk akal.

Semuanya terlihat penting.

Nah, justru di sinilah masalahnya.

Kalau semuanya dianggap prioritas, sebenarnya tidak ada yang benar-benar menjadi prioritas.

Akibatnya guru harus mengikuti terlalu banyak kegiatan. Koordinator mengawasi terlalu banyak target. Kepala sekolah berpindah dari satu urusan ke urusan lain tanpa sempat memastikan mana yang benar-benar memberi dampak terbesar.

Dalam bukunya Good to Great, Jim Collins menjelaskan bahwa organisasi yang mampu melompat menjadi organisasi hebat bukan karena mereka melakukan lebih banyak hal, melainkan karena memiliki disiplin untuk memilih sedikit hal yang benar-benar penting dan melakukannya dengan sangat baik. Prinsip ini menurut saya sangat relevan ketika sekolah merencanakan agenda raker sekolah. Tidak semua ide harus diwujudkan pada tahun yang sama.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup “menampar” saya ketika pertama kali membacanya.

Kita Terlalu Sibuk Membahas Masa Lalu

Oke, mari kita lanjutkan.

Coba ingat kembali raker terakhir di sekolah Anda. Berapa persen waktunya digunakan untuk mempresentasikan laporan? Dan berapa persen waktunya digunakan untuk menentukan arah tahun berikutnya?

Saya tidak sedang mengatakan laporan itu tidak penting. Justru laporan adalah bahan baku untuk mengambil keputusan.

Masalahnya, kalau sebagian besar energi habis untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi, kapan kita memiliki ruang untuk membicarakan apa yang harus diubah?

Saya sering melihat sesi laporan berlangsung berjam-jam, sementara sesi penentuan prioritas justru dilakukan terburu-buru karena waktu sudah hampir habis.

Padahal, masa depan sekolah tidak ditentukan oleh panjangnya laporan, tetapi oleh kualitas keputusan yang lahir setelah laporan tersebut dibahas.

Perubahan Tidak Berhenti pada Keputusan

Ada satu pelajaran menarik yang saya dapat ketika membaca buku Time for Change: Four Essential Skills for Transformational School and District Leaders karya Anthony Muhammad dan Luis F. Cruz.

Mereka menjelaskan bahwa perubahan tidak cukup hanya dikomunikasikan. Pemimpin perlu membantu orang memahami mengapa perubahan itu diperlukan, membangun kemampuan untuk menjalankannya, lalu terus mendampingi proses implementasinya. Tanpa itu, perubahan sering kali berhenti sebagai rencana yang indah di atas kertas.

Bukankah ini juga sering terjadi setelah raker sekolah?

Forum selesai.

Foto bersama.

Doa penutup.

Lalu semua kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing.

Tidak ada yang benar-benar salah.

Tetapi juga tidak ada mekanisme yang memastikan keputusan tetap hidup hingga berbulan-bulan setelah raker berakhir.

Raker Sebenarnya Sedang Menguji Kepemimpinan

Semakin sering saya mendampingi sekolah, semakin saya yakin bahwa kualitas raker sebenarnya mencerminkan kualitas kepemimpinan organisasi.

Dalam Essentials of Organizational Behavior, Stephen P. Robbins menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional mampu membangun kesamaan tujuan, menginspirasi orang untuk bergerak melampaui kepentingan masing-masing, dan meningkatkan kinerja organisasi. Salah satu cirinya adalah kemampuan pemimpin menyatukan orang pada visi yang sama, bukan sekadar membagikan daftar pekerjaan.

Kalau dikaitkan dengan raker sekolah, berarti forum ini bukan sekadar tempat membahas program.

Raker sekolah adalah ruang untuk membangun kesamaan arah.

Karena ketika semua orang memahami mengapa sebuah prioritas dipilih, mereka jauh lebih mudah berkomitmen menjalankannya.

Mungkin Kita Perlu Mengubah Cara Pandang Tentang Raker Sekolah

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk bertanya,

“Program apa lagi yang perlu ditambahkan?”

Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah,

“Perubahan apa yang paling ingin kita lihat satu tahun dari sekarang?”

Dua pertanyaan itu terdengar mirip.

Namun jawabannya bisa menghasilkan raker yang sangat berbeda.

Yang satu melahirkan daftar kegiatan.

Yang satu lagi melahirkan fokus.

Dan menurut saya, sekolah lebih membutuhkan fokus daripada daftar kegiatan baru.

Saya tidak menulis artikel ini karena merasa sudah menemukan semua jawabannya. Justru sebaliknya, tulisan ini lahir dari banyak percakapan dengan guru, kepala sekolah, dan pengurus yayasan yang sama-sama ingin menjadikan raker lebih bermakna.

Beberapa pola yang saya ceritakan di atas terus saya temui di berbagai sekolah. Lama-kelamaan saya mulai merangkum temuan, refleksi, dan praktik-praktik yang menurut saya paling membantu.

Catatan-catatan itu kemudian berkembang menjadi sebuah panduan yang saya beri nama Raker Strategis Blueprint™. Harapannya sederhana, semoga ia bisa menjadi teman berpikir bagi siapa pun yang ingin menjadikan raker bukan sekadar agenda tahunan, tetapi momentum untuk menggerakkan perubahan.

Karena pada akhirnya, sekolah tidak berubah ketika rapat selesai.

Sekolah berubah ketika keputusan yang lahir dari rapat benar-benar dijalankan.

1 thought on “Mengapa Raker Sekolah Sering Gagal Menghasilkan Perubahan?”

  1. dengan senang memahami semuanya, in syaa Allah menjadi kekuatan untuk berbuat kebaikan bersama.Barakallah fii ilmi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top